Latest Post

Siapakah yang Diberkati?

Categories: Renungan Harian

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

-Mazmur 1:1-3-

 

Kitab Mazmur dibuka dengan pasal pertama yang berbicara mengenai kebahagiaan. Kata ‘bahagia’ dalam bahasa Ibrani adalah esher yang bisa berarti diberkati. Kita bisa berkonklusi bahwa mereka yang diberkati adalah juga orang yang berbahagia. Orang yang dikutuk tidak mungkin berbahagia. Kitab ini sungguh unik karena dimulai dengan kata “berbahagialah” atau “blessed“. Allah tidak hanya memikirkan kemuliaan-Nya sendiri tetapi juga memikirkan kebahagiaan atau berkat bagi manusia. Allah dimuliakan ketika Ia mencurahkan berkat yang menyukakan hati umat-Nya. John Piper berkata “God is most glorified when we are most satisfied in Him.”

Siapakah orang yang diberkati atau berbahagia? Pertama-tama pemazmur menjawab: mereka yang tidak bergaul dan ikut melakukan dosa bersama dengan orang-orang fasik. Dosa berarti perlawanan terhadap Allah. Orang yang melawan Tuhan, yang adalah sumber berkat, tidak mungkin diberkati. Orang yang ingin diberkati harus bergaul karib dengan Allah dan orang-orang yang takut akan Dia. Allah telah mendirikan Gereja dimana orang-orang kudus bersekutu dan bersama-sama bergaul karib dengan Tuhan. Gereja diberkati dan berbahagia karena ada relasi kasih di antara Allah dan manusia. Untuk bergaul karib dengan Allah, Gereja harus menjauhi dosa dan pergaulan yang membawa kebiasaan berdosa. Gereja tidak boleh menjadi sama seperti dunia yang berdosa. Ekklesia, bahasa Yunani dari ‘Gereja’, berarti ‘dipanggil keluar’ (ek = keluar, klesis = panggilan). Gereja adalah kumpulan orang yang dipanggil keluar dari dosa menuju terang-Nya yang ajaib.

Kedua, pemazmur menjawab: mereka yang menyukai firman Tuhan dan secara aktif merenungkannya secara konsisten serta mengambil waktu sebanyak mungkin untuk mempelajari firman Tuhan. Untuk bergaul karib dengan Tuhan, seorang Kristen harus memahami dengan sungguh apa yang disampaikan Tuhan melalui Alkitab. Kita sering mendengar peribahasa “tak kenal maka tak sayang.” Seorang Kristen bisa mengenal Tuhan hanya jika ia sungguh-sungguh mengerti firman Tuhan. Tidak ada orang Kristen yang kuat imannya tanpa ketekunan dalam mencari Tuhan melalui firman dan doa. Orang yang dekat dengan Tuhan karena mengenal-Nya melalui firman-Nya pasti mendapatkan berkat.

Seperti apakah orang yang berbahagia atau diberkati ini? Pertama-tama pemazmur menjawab: orang ini seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air sehingga ia tidak akan layu dan selalu menghasilkan buah. Seorang Kristen yang bergaul karib dengan Allah, yang adalah sumber berkat, pasti hidupnya efektif sebagai saluran berkat. Seorang Kristen yang mau melayani, mau menjadi saluran berkat, tetapi tidak mau dekat dengan Sumber Berkat, tidak akan bisa menjadi saluran berkat. Ia bagaikan pohon yang mau bertumbuh di tanah yang kering. Pohon yang mau bertumbuh sehat dan berbuah harus terus mendapatkan air. Demikian pula orang Kristen yang mau bertumbuh dan berbuah harus terus mendapatkan firman Tuhan. Bagian ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang diberkati Tuhan adalah orang yang juga menjadi berkat bagi orang lain. Kedua hal ini tidak boleh dipisahkan. Berkat yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah berkat yang kita nikmati sendiri.

Kedua, pemazmur menjawab: apa saja yang diperbuatnya berhasil. Ini tidak berarti bahwa orang tersebut tidak akan pernah mengalami kegagalan sama sekali dalam hal apapun. Bagian ini mau menyatakan bahwa orang tersebut akan selalu berhasil melakukan hal-hal yang disukai oleh Tuhan. Tuhan akan memberkati segala usahanya yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Melalui kisah kehidupan Yusuf kita dapat mengerti bagian ini dengan lebih jelas. Yusuf adalah seorang yang tidak mau kompromi terhadap dosa. Ia dengan tegas menolak permintaan isteri Potifar yang mengajaknya berzinah. Ia tidak membalas kejahatan kakak-kakaknya dengan kejahatan. Ia juga mengerti isi hati Tuhan. Ia berkata “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20). Segala usaha Yusuf begitu diberkati, seperti yang kita baca dalam kitab Kejadian. Segala usahanya dibuat berhasil oleh Tuhan.

Maukah anda menjadi orang yang berbahagia dan diberkati? Mazmur ini sudah mengajarkan kepada kita dengan jelas cara-cara agar kita menjadi orang yang diberkati.

Author: Tommy Suryadi

Bitnami