Latest Post

                        Siap Sedia dalam Melayani Tuhan

                                         Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E

2 Korintus 9:1-5

Setiap kita memiliki karunia kemurahan yang diberikan oleh Tuhan seperti yang dikatakan dalam Roma 12:8, “Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Waktu kita memberikan kebaikan kepada non Kristen kitapun harus sadar bahwa pelayanan kita benar-benar maksud dari Tuhan? Kita harus mengerti, mungkinkah orang Kristen melakukan kebaikan tetapi sebenarnya tidak baik di mata Tuhan? Mungkin, karena mungkin pemberian kita hanya karena nilai ibah atau karena kita memang memiliki bakat untuk berbuat baik tetapi belum dikuduskan dan disucikan. Dikatakan “siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Artinya (1) Orang yang tidak pelit dan picik tapi rela memberi dan berbagi akan segala sesuatu. (2) Orang yang selalu punya empati kepada orang lain. Orang itu melakukan kebaikan berdasarkan kepekaan yang sudah disucikan oleh Tuhan. Jikalau kita sungguh anak Tuhan, minimal kita sudah memiliki kedua hal itu tetapi persentasinya mungkin berbeda. Ketika kita di dalam Tuhan maka kita harus lebih mengerti dan peka perbuatan baik yang sungguh baik di mata Tuhan. Sehingga karunia potensi yang Tuhan berikan itu dikembangkan untuk kemuliaan Tuhan saja. Mengapa ada orang yang non-kristen mungkin melakukan perbuatan baik “melebihi” orang kristen? Karena itulah investasi mereka. Tetapi kebaikan kita bukan bersifat murah dan pelit. Artinya ada suatu standar tertentu. Alkitab mengatakan kebaikan terutama harus ditujukan untuk orang Kristen lebih dahulu lalu kepada non Kristen.

Yang menjadi pertanyaan adalah: (1) Mungkinkah pemberian kita bisa mematikan perjuangan orang lain? Sangat mungkin, melalui Korintus bagian yang terakhir kita diingatkan bagaimana seharusnya kemurahan dan kebaikan kita itu bernilai karena berdasarkan pada kebaikan Tuhan. (2) Mungkinkah pemberian kita bukan karena dorongan iman tetapi karena empati kita saja? Sangat mungkin. Sebagai seorang kristen kita harus melakukan kebaikan berdasarkan iman yang digerakkan oleh Tuhan bukan empati saja. Kita harus mengerti perbuatan baik, kemurahan, dan motivasi kita itu baik di mata Tuhan:

Yang pertama, Alkitab sudah menjelaskan seperti yang disimpulkan dalam Westminster Confession of faith bahwa “seluruh orang yang di luar Tuhan yang belum sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, yang belum bertobat tidak mungkin memenuhi standar kebaikan Tuhan.” Hal ini karena aspek Inner Heart yang memuliakan Tuhan. Maka pada waktu kita berbuat baik kepada siapapun juga, bukan untuk menonjolkan diri dan tidak hitung-hitungan. Tapi untuk meninggikan Tuhan saja. Waktu Tuhan dipermuliakan disitulah ada aspek ketergantungan hidup kita. Waktu kita mau bergantung kepada Tuhan di situlah Tuhan akan kasih pertolongan kepada kita dan kemampuan untuk bagaimana kita di dalam Tuhan, kita melangkahkan untuk menyatakan kebaikan Tuhan dalam bentuk apapun juga.

Yang kedua, Bagaimana kita tahu apa yang sudah kita perbuat baik sungguh baik di mata Tuhan? Hal ini dilihat dari ketika orang itu menerima kebaikan kita akhirnya mereka memuji nama Tuhan bukan memuji diri kita. Jikalau orang melihat perbuatan baik kita dan orang tersebut memuji kita, maka kita gagal dan sudah mencuri kemuliaan Tuhan. Prinsip Reformed Injili dalam pelayanan kasih adalah tidak menyembunyikan nama Tuhan. Kita harus berani mendemonstrasikan Tuhan yang telah memenangkan kita dan kita harus mendemonstrasikan Tuhan Yesus yang sudah mati bagi kita. Maka kita tidak boleh takut untuk menyatakan Tuhan itu hidup. Kita bisa melihat mujizat-mujizat dari agama-agama lain, tetapi tidak pernah ada pemimpin agama lain yang bisa menyatakan kapan dia mati dan kapan dia bangkit kecuali Tuhan Yesus. Dan tidak ada mujizat yang lebih banyak yang tercatat selain di dalam Alkitab. Karena Dia adalah Tuhan yang hidup dan layak dipuji.

Yang ketiga, Bagaimana kita tahu kalau seluruh kemurahan kita adalah sesuai dengan waktunya Tuhan? Waktu orang yang menerima kebaikan kita, akhirnya mereka semakin mencintai Tuhan dan imannya semakin bertumbuh, di situlah kita akan tahu bahwa semua kebaikan kita untuk kemuliaan bagi Tuhan. Perbuatan baik adalah satu jembatan untuk orang lain dipersiapkan menerima injil Tuhan. Sehingga akhirnya mereka pada waktu tiba saatnya tinggal membuka hati untuk Tuhan. Rasul Paulus sangat antusias menggerakkan jemaat di Makedonia, di Akaya, dan di Korintus untuk melakukan satu program kebaikan ke Yerusalem. Yerusalem adalah pusat keagamaan Yahudi. Yerusalem adalah tempat ahli-ahli taurat berkumpul tetapi akhirnya mereka tidak percaya Yesus adalah Tuhan, bahkan merencanakan pembunuhan Yesus Kristus. Dan Yerusalem merupakan tempat yang paling ditangisi oleh Tuhan Yesus. Yerusalem adalah tempat yang belum bisa menerima atau meragukan kerasulan dari Paulus. Di sinilah Paulus menggerakkan jemaat-jemaat yang sebenarnya mempunyai latar belakang kafir. Di Korintus sebagian besar dari orang kafir, Makedonia dan juga Akaya semuanya dari orang-orang Kafir. Dan Paulus ingin menyatakan bahwa Tuhan sudah memanggil Paulus, khususnya, untuk orang-orang non-Yahudi. Bukan saja ikut berbagian dalam hal dana tapi juga mereka datang bersaksi bersama Paulus ke Yerusalem. Dan pelayanan itu menjadi berkat bagi Yerusalem. Kisah Para Rasul 20:1, mengatakan: “Setelah reda keributan itu, Paulus memanggil murid-murid dan menguatkan hati mereka. Dan sesudah minta diri, ia berangkat ke Makedonia.” Di sinilah Paulus menggerakkan Makedonia untuk boleh memikirkan Yerusalem. Tetapi Paulus mau dibunuh oleh orang Yahudi sendiri. Karena itu Rasul Paulus memutuskan untuk kembali ke Makedonia walaupun pada saat itu orang Kristen di Makedonia dianiaya. Mengapa Paulus memilih ke sana? Justru Paulus melihat bahwa itu adalah tempat yang aman. Paulus disertai oleh orang-orang yang bertobat melaui pelayanannya. Orang-orang tersebut seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 20:4 yaitu Sopater, Aristarkhus Sekundus, Gayus, Timotius, Tikhikus, dan Trofimus. Mereka ini meninggalkan jabatan, kekayaan, pekerjaan dan keluarga mereka agar injil diberitakan lebih luas lagi. Diantara mereka inilah yang nantinya akan diutus oleh Rasul Paulus untuk pergi ke Korintus. Di sini Rasul Paulus menyatakan kepada mereka bagaimana jemaat di Korintus sudah menjadi satu jemaat yang boleh menjadi teladan setelah diinspirasi.

Jadi di sini Rasul Paulus katakan dalam 2 Korintus 9:2, “Aku tahu kerelaan hatimu karena itulah aku memegahkan kamu.” Saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan, kita punya martabat yang harus sesuai dengan nilai Kerajaan Tuhan bukan kerajaan dunia. Maka kita boleh sungguh bermegah karena kita boleh dipilih menjadi anak-anak Tuhan. Kita juga punya kemegahan karena kita yang lemah dan terbatas ini boleh dipakai oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang besar. Kita harus punya martabat hidup kita di dalam Tuhan yang menyatakan Tuhan sungguh-sungguh sudah mati bagi kita. Minimal hal itu nyata dalam perubahan hidup kita. Perubahan hidup kita di dalam Tuhan itulah yang akan membuat orang terkagum-kagum melihat kita. Kita harus berani mendemonstrasikan hidup kita yang tidak ada apa-apanya bisa melakukan pekerjaan Tuhan yang luar biasa. Melihat ketekunan, kesabaran, kekuatan dan sampai mati hidup bagi Tuhan maka orang akan memuliakan Tuhan ketika melihat keteladanan kita.

Rasul Paulus melihat kerelaan hati dari jemaat Korintus yang terus menyisihkan uang untuk pekerjaan Tuhan dan bagaimana kita tahu dalam 1 Korintus 16:1 dimana mereka punya inisiatif iman. Artinya Rasul Paulus sudah melihat kerelaan hati dan inisiatif iman dari jemaat di Korintus. Tetapi jikalau kita ditantang, beranikah kita memberikan 20-30% (lebih dari 10%) untuk pekerjaan Tuhan? Kalau kita punya keberanian seperti itu maka kita akan seperti jemaat Korintus yang memiliki kerelaan karena kesadaran iman. Karena dorongan iman, akhirnya jemaat Korintus melihat bahwa uang yang dimiliki bukan yang harusnya dikuasai tetapi untuk pekerjaan Tuhan karena memang dari Tuhan.

Siap Sedia dan Integritas diri. 2 Korintus 9:3-4 jikalau kita melihat kembali Kisah Para Rasul 20:6 Rasul Paulus berangkat dari Makedonia mengalami satu kesusahan kemudian kembali lagi ke Makedonia didampingi oleh beberapa orang dan orang-orang itulah yang kemungkinan akhirnya pergi ke Korintus. Point yang saya tekankan dalam ayat 3-4 adalah Rasul Paulus menekankan untuk jemaat Korintus milikilah integritas ini. Biarlah kebanggaanku tentang kamu sungguh-sungguh dinyatakan dengan kesiapan kamu sehingga pada waktu kami tiba, kamu tidak akan terkejut karena semua sudah disiapkan seperti apa yang sudah diceritakan Paulus tentang kerelaan jemaat di Korintus. Dalam bahasa inggris menggunakan kata “be prepare” artinya siap sedia. Mereka harus siap sedia untuk seluruh hidup mereka diberikan untuk pelayanan Tuhan. Di dalam ayat yang ketiga ditekankan “kamu”, dan dalam ayat yang keempat dikatakan “jangan mereka mendapati kamu belum siap sedia”. Artinya yang diminta adalah bukan hanya dana dan waktu mereka tetapi juga hidup mereka. Artinya setiap waktu jikalau gereja ini mengadakan suatu pelayanan, apa tidak bisa kita terlibat dalam pelayanan tersebut? Bisa. Cuti yang indah adalah cuti piknik rohani seperti yang tertulis dalam Kisah Parasul 20. Ketika tim Rasul Paulus pergi piknik rohani pada saat itu resikonya bisa mati. Pada waktu mereka pergi bersama dengan Paulus tujuannya adalah supaya Injil boleh disebarkan. Mereka tidak lagi berpikir dengan usaha mereka karena merka melihat sungguh-sungguh Tuhan yang bertindak. Maka pada waktu akhirnya mereka mau diutus ke Korintus, jemaat di Korintus diminta harus siap sedia. Alkitab mengatakan dalam Efesus 5 biarlah kita siap sedia menyatakan hidup sebagai anak-anak terang, artinya di manapun kita berada kita harus bisa mempertanggung jawabkan bahwa kita bukan anak-anak gelap dan kita harus melucuti seluruh kegelapan dan membenci kegelapan itu karena terang sudah hadir dalam kita yaitu Kristus dalam Friman yang menemani seluruh kehidupan kita. Maka di manapun kita berada, kita harus siap sedia untuk menyatakan hidup kita adalah terang di dalam Yesus Kristus.

Di Korintus, being prepare dalam hal pelayanan kasih dimana siap menjadi tim kerja untuk pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Maka di Efesus 5 dikatakan kita harus siap sedia menyatakan nilai terang kita. Di dalam Roma dikatakan siap sedialah untuk memberitakan Injil kapan pun itu. Kita harus siap sedia menyatakan Kristus adalah Tuhan dan satu-satunya Juruselamat kita yang bisa menyelesaikan dosa secara tuntas dan dapat menjamin keselamatan kita. Dalam kitab Wahyu dinyatakan agar bersiap kalau menghadapi kematian. Karena itu kita harus siap sedia dalam hal kasih, hidup sebagai terang, menyatakan sukacita dalam Kristus dan pertanggungjawaban iman sampai kematian datang. Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus untuk mereka siap sedia supaya mereka tetap memiliki kualitas dan integritas iman.

Kita bersyukur kalau kita memiliki kontrol iman, terus bisa waspada, dan ada orang-orang di sekitar kita yang mengingatkan kita untuk ikut berbagai pelayanan di gereja. Berarti semua itu dipakai Tuhan untuk mengingatkan kita supaya kita tidak terkubur dalam lumpur dosa. Mungkinkah kita sendiri yang menghancurkan martabat kita? Mungkin, diijinkan adanya dosa seperti Daud tetapi dipulihkan kembali. Daud menghancurkan integritas dirinya sebagai raja dan sebagai pemimpin rohani tetapi ketika Nabi Natan datang untuk menegur Daud, ia bertobat sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Jadi artinya adalah orang Kristen yang sejati memiliki Roh Kudus yang memimpin seluruh hidupnya dan memateraikan dia sebagai anak Tuhan. Dan Tuhan tidak akan membiarkan umatNya tenggelam dalam dosa. Keadilan dan kasih harus dinyatakan di dalam hidup kita sebagai umat Tuhan.

Kebersamaan dalam pelayanan. 2 Korintus 9:5 “Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan.” Jemaat-jemaat di Makedonia dan di Akaya sudah terinspirasi oleh jemaat Korintus. Paulus rindu agar mereka menjadi tim yang baik bersama dengan jemaat di Korintus untuk memberitakan Injil di Yerusalem. Di sini kita melihat bahwa pelayanan tidak bisa sendirian. Maka semua diatur dalam sistem kesatuan karena kita rekan kerja di dalam pelayanan Tuhan. Dalam bagian ini kita percaya apa yang dikatakan Alkitab bahwa setiap kita diberikan satu karunia dan karunia itu harus digabung untuk kebersamaan. Maka Rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat Korintus untuk mereka menjadi satu pasukan yang indah untuk pergi penginjilan ke Yerusalem. Di sini kita juga belajar bagaimana mereka tetap menghargai bahwa kekristenan asal mulanya dari Yerusalem.

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Siap Sedia dalam Melayani Tuhan

Categories: Transkrip

                                         Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E
Author: Gracelia Cristanti

Bitnami