Latest Post

Problem Kasih di Zaman Digital

Categories: PA Khusus

oleh Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

Pendahuluan

Mengapa manusia pada hari ini kehilangan relasi antar manusia? Topik ini sudah mulai diteliti dari sejak tahun 90-an ketika internet itu mulai ada. Salah satunya oleh seorang pemikir Kristen bernama Jacques Ellul (1912-1994) menulis banyak buku tentang teknologi dan masyarakat. Kita semua adalah makhluk sosial. Tuhan memberikan kita potensi untuk mengembangkan relasi di dalam mengasihi dan dikasihi. Namun setelah kejatuhan dalam dosa (Kejadian 3), potensi kita untuk berelasi menjadi rusak. Kita menjadi cenderung mau dikasihi daripada mengasihi. Hal yang lebih mengerikan lagi adalah manusia bisa lebih mengasihi benda mati daripada makhluk hidup. Benda mati itu dianggap bisa memberikan kepuasan dan kenikmatan, maka benda itu lebih dikasihi daripada manusia. Ini adalah masalah yang serius di mata Tuhan. Jika orang tua Kristen tidak memandang ini secara serius, maka keluarga itu ada dalam bahaya. Di balik teknologi yang mutakhir pada zaman ini, ada Setan yang menunggangi dan memakainya untuk merusak manusia. Akhirnya teknologi itu bisa menjauhkan kita dari Tuhan serta membuat kita tidak lagi berfokus dan bergantung pada Tuhan. Peperangan kita pada zaman ini di kota bukanlah peperangan dengan Setan yang merasuki manusia tetapi dengan penyalahgunaan teknologi yang berbahaya. Bagaimana masalah ini dapat diselesaikan? Manusia harus kembali kepada Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 3:16 dan Efesus 4:17-32). Yohanes 3:16 berbicara mengenai media yaitu Yesus Kristus. Di dalam kasih ada pengorbanan. Namun di dalam keluarga, hal yang terbalik bisa terjadi yaitu orang tua mengorbankan anak. Orang tua demi kemudahan dan kenyamanan bisa dengan mudahnya memberikan gadget kepada anak agar anak tidak mengganggu orang tua. Mengapa ada orang-orang yang mau mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan gadget terbaik? Apakah ini berhubungan dengan kepuasan diri sendiri yang sementara? Mengapa ada orang Kristen yang masih belum bisa melepaskan diri dari kecanduan gadget? Apakah orang tersebut belum benar-benar menerima kasih Kristus sehingga belum hidup dalam kasih-Nya? Efesus 4:17-32 menyatakan bahwa orang yang seperti ini membutuhkan pembaruan agar ia bisa menang terhadap narkoba digital.

Sekarang kita hidup di zaman digital dimana kemajuan teknologi dengan arus pertukaran pengetahuan dan informasi itu terjadi sangat cepat dan mutakhir. Tetapi sebaliknya, banyak hubungan suami-istri, orang tua dengan anak, dan lain-lain semakin mundur, dingin, dan sunyi karena gadget. Mengapa semua ini terjadi? Apa yang salah? Mengapa angka perceraian semakin meningkat? Mengapa pada zaman ini tingkat kejatuhan pemuda semakin meningkat? Pada zaman digital ini sudah ada benturan antara dua generasi. Generasi pertama adalah yang disebut sebagai generasi imigran digital, dimana ia lahir sebelum zaman digital dan juga dipengaruhi oleh zaman digital (gadget). Generasi yang kedua disebut sebagai generasi digital. Mereka lahir di zaman digital dan dibesarkan dalam pengaruh zaman digital (gadget). Mengapa ada benturan di sini? Zaman digital mengubah karakter manusia. Beberapa ciri dari orang-orang yang dipengaruhi zaman digital: identitas, agresif-reaktif, tidak mau dikendalikan dan tidak suka proses. Mereka menggunakan media sosial dan mereka suka untuk menyatakan identitas mereka. Mereka sering memasang foto dan tulisan mereka di media sosial. Mereka tidak suka jika dilarang untuk membagikan foto dan mereka suka jika selalu tampil dalam banyak foto. Ini sangat berbeda dengan generasi lampau yang menganggap foto diri sebagai bagian dari privasi. Orang yang dipengaruhi zaman digital juga berbicara mengenai privasi, namun dalam definisi yang berbeda. Privasi zaman digital berbicara mengenai larangan untuk mengkritik atau menyalahkan. Orang-orang ini suka membuka banyak hal tentang diri mereka di media sosial termasuk hal-hal yang seharusnya disimpan untuk diri sendiri. Mereka juga cenderung agresifreaktif yaitu suka menyerang. Di sini mereka memiliki kesombongan yang berkaitan dengan aktualisasi diri. Di dalam zaman ini mereka juga bebas untuk berekspresi. Mereka tidak suka diatur dan dikekang. Internet adalah kebutuhan sehari-hari mereka. Dalam zaman ini banyak tempat makan, khususnya untuk kaum muda, memberikan internet gratis bagi pengunjung sehingga ramai. Relasi zaman sekarang terkesan tidak lengkap tanpa internet. Mereka tidak suka dikendalikan namun suka mengendalikan gadget mereka. Di sinilah terjadi benturan antara orang tua dan anak. Orang tua dibesarkan dalam disiplin dan aturan, namun anak pada zaman ini tidak demikian. Orang yang dipengaruhi zaman digital juga tidak suka proses. Mereka lebih menyukai hasil yang instan. Inilah mengapa banyak orang pada zaman ini lebih suka melakukan transaksi secara online. Mereka tidak mau lagi pergi ke pasar karena tidak instan. Hal ini menciptakan kelemahan baru bagi generasi ini yaitu kelemahan dalam proses berpikir. Mereka ingin semuanya tersaji secara instan. 4 ciri ini menimbulkan benturan. Banyak orang tua salah menanggapi masalah ini dan tidak tahu solusinya. Tidak sedikit orang tua juga berkompromi sehingga salah mendidik anak.

Data dari Unicef dan Kemenkominfo pada tahun 2014 menunjukkan bahwa 30 juta anak-anak dan remaja (14-19 tahun) di Indonesia adalah pemakai internet aktif. 80% responden menggunakan untuk mencari data dan informasi; 70% untuk pertemanan secara media sosial; 65% untuk mendengar musik; 39% untuk menonton film dan youtube; 24% untuk berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal; 25% untuk memberitahu alamat dan nomor telepon mereka kepada teman di media sosial. Hal yang mengagetkan adalah 52% memakai internet untuk melihat pornografi dan 14% sudah mengakses dan menyimpannya. Inilah mengapa ada sekolah-sekolah yang melakukan pemeriksaan pada gadget para siswa. Di dalam bagian ini memang perlu ada pengawasan, termasuk di rumah. 42% akhirnya menyadarinya dan menghindari hal ini namun 13% terjangkit dengan pornografi dan menjadi korban baik secara langsung maupun tidak langsung. Pernah ada berita yang menyatakan bahwa seorang anak SD diperkosa oleh anak SD lainnya di depan teman-temannya. Inilah kerusakan zaman ini. Dari tahap pornografi bisa berkembang ke tahap pornoaksi. Jika kita tidak melek teknologi dan melek iman, maka kita akan dihancurkan oleh Setan melalui cara ini. Inilah mengapa kita harus memersiapkan diri. inilah peperangan yang kita hadapi sebagai orang Kristen. Narkoba bukan lagi berupa obat-obatan tetapi berupa narkoba digital. Bagaimana sikap kita setelah melihat kondisi ini dan data di atas? Apakah sekarang ini mungkin semakin parah? Apakah orang tua turut bersalah jika anaknya menjadi rusak karena gadget? Bagaimana dampaknya terhadap relasi kasih antar pribadi? Bagaimana solusinya?

Pembahasan

A. Antara Kain dan Set: mengandalkan teknologi atau Tuhan?

            Dalam Kejadian 4:22 disebutkan bahwa Tubal-Kain yang adalah keturunan dari Kain merupakan bapa dari semua tukang tembaga dan besi. Kata ‘tukang’ di sini berasal dari kata dasar ‘teknologi’. Ketika Yusuf disebut sebagai tukang kayu (Matius 13:55), kata itu memiliki makna yang sama. Tubal-Kain dan keturunannya pandai dalam menjadi tukang tembaga dan besi namun pada akhirnya mereka selalu melawan Tuhan. Sedangkan keturunan Set adalah keturunan yang senantiasa mencari wajah Tuhan (Kejadian 5). Dalam ayat 24 dikatakan bahwa Henokh hidup bergaul dengan Allah. Kain adalah pembunuh pertama. Keturunannya menguasai teknologi dan selalu hidup dengan teknologi tetapi selalu melawan Tuhan. Keturunan Set tidak disebut sebagai ahli apapun namun mereka bergaul dengan Allah. Apakah ini artinya perkembangan teknologi adalah dari dosa dan harus kita hindari? Tidak. Teknologi tidak bersalah tetapi yang bersalah adalah orang yang mengembangkan dan menggunakannya hanya untuk kemuliaan diri dan kepuasan diri (bandingkan Roma 8:19 yang berbicara mengenai kemuliaan Tuhan). Semangat ini menyadarkan kita bahwa semua perkembangan teknologi boleh dipelajari namun harus diisi dan diarahkan. Ini karena manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa akan selalu ditundukkan kepada kesia-siaan belaka dalam keberhasilan dan kepuasannya (Roma 8:20). Manusia yang sudah terikat dengan media sosial tidak akan puas hanya dengan mengakses internet selama 1 atau 2 jam. Di Tiongkok sudah mulai ada klinik-klinik yang khusus merawat anak-anak dengan kecanduan narkoba digital. Anak-anak ini memerlukan waktu paling sedikit 6 jam untuk mengakses internet. Ada pula anak-anak yang dilarang mengakses internet kemudian berencana bunuh diri. Ini adalah masalah yang sangat serius. Mereka yang sudah terikat dalam relasi dengan gadget ini cepat merasakan depresi ketika gadget tersebut diambil. Jika mereka membutuhkan paling sedikit 6 jam, maka sepulang dari sekolah mereka tidak akan berinteraksi dengan teman-teman dan keluarganya secara langsung. Generasi ini sangat mungkin akan lebih mudah sakit karena kurang melakukan aktivitas fisik dan hanya duduk atau tidur dengan gadget mereka.

Teknologi itu baik adanya dan Tuhan tidak anti terhadap teknologi. Perhatikan peristiwa Kejadian 3:21 dimana Tuhan menggantikan daun dengan kulit binatang. Apa artinya? Tuhan menggunakan teknologi yang lebih baik untuk memberikan penutup atas ketelanjangan manusia. Adam dan Hawa memakai daun yang mudah sobek, namun Tuhan memberikan kulit yang lentur dan tahan lama. Itulah pengorbanan yang pertama karena ada hewan yang disembelih. Dikatakan bahwa Tuhan membuat pakaian dari kulit binatang. Di sini Tuhan membuat di dalam proses dengan teknologi. Kita sebagai orang tua Kristen juga tidak boleh anti terhadap teknologi. Kita boleh menggunakannya tetapi harus untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak boleh memberikan kebebasan yang liar kepada anak dan juga tidak boleh memberikan kekang yang terlalu keras. golongan Kain suka kepada teknologi sedangkan golongan Set lebih suka beribadah. Jonathan Edwards adalah seorang Reformed yang menyukai teologi Puritan. Banyak dari keturunannya menjadi orang yang berhasil di Amerika. Di sini ada hukum tabur tuai. Keturunannya selalu melakukan ibadah keluarga, maka dari itu tidak heran jika banyak dari keturunannya diberkati oleh Tuhan. orang Puritan melihat kepentingan dari ibadah keluarga dan melihat bahwa keluarga itu adalah gereja kecil. Ada yang menyatakan bahwa Tuhan tidak hanya melihat sikap kita di gereja tetapi juga sikap kita sehari-hari termasuk di dalam keluarga. Keturunan Jonathan Edwards juga masih memegang konsep bahwa rumah adalah rumah Tuhan. Ini berarti semua penghuni rumah itu harus suci. Rumah harus menjadi tempat pemulihan rohani dan tempat edukasi. Banyak dari keturunannya menjadi orang-orang yang berpengaruh di Amerika. Di masa yang sama, ada orang yang begitu kaya namun kekayaannya berasal dari penjualan narkoba dan bisnis kotor lainnya. Banyak dari keturunannya hidup di dalam dosa. Ada keturunannya yang menjadi pelacur, kriminal, dan tidak sedikit yang mati muda. Garis keturunan Set adalah yang benar. Nuh lahir dalam garis keturunan Set dan dialah yang dipilih Tuhan untuk membangun bahtera. Jadi di sini kita melihat bahwa orang-orang yang bergaul dengan Tuhan itulah yang dipakai untuk menjadi penerobos zaman.

B. Antara kasih dan memanjakan anak atau diri atas nama kasih

Memberikan gadget sebagai tanda kasih dan perhatian (yang belum pada waktunya). Apa masalahnya? Banyak orang tua melihat ini bukan sebagai masalah. Mereka merasa memiliki uang dan berhak memakai uang tersebut sesuai kemauan mereka. Mereka juga merasa paling berhak dan paling tahu bagaimana memberikan barang kepada anak-anak mereka. Masalahnya adalah: apakah benar bahwa kasih bisa ditukar dengan pemberian gadget dan lainnya? Anak-anak zaman sekarang akan duduk diam ketika sudah diberikan gadget oleh orang tuanya. Mereka akan sangat berfokus pada permainan mereka dan bahkan mereka tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitar mereka. Hal ini juga terjadi di komunitas Kristen. Masalahnya adalah orang tua Kristen memberikan kemanjaan sehingga anak-anaknya tidak belajar untuk berjuang dan membangun relasi dengan manusia lain secara langsung. Anak-anak dibiarkan berelasi dengan benda mati yang memberikan kepuasan sehingga anak-anak ini akan tumbuh menjadi egois dan cepat marah. Mereka sudah menang dalam menindas orang tua dengan cara mengatur orang tua. Anak yang sudah dibiasakan untuk duduk diam karena ada gadget pada akhirnya akan bertumbuh menjadi anak yang suka memberontak. Seharusnya anak-anak dari masa kecilnya sudah diajar untuk berelasi dengan manusia lainnya secara langsung. Apakah benar bahwa gadget merupakan gaya hidup masa kini – konsumerisme? 90% kaum muda zaman ini mengatakan bahwa gadget adalah gaya hidup. Apakah itu merupakan gaya hidup juga bagi kita? Kita tidak boleh melihat ini sebagai gaya hidup tetapi sebagai fungsi. Jika kita sudah tergila-gila pada merek tertentu, maka kita sudah menjadi orang konsumeris. Kita akan menjadi budak dari merek jika tidak berhati-hati. Jadi di dalam bagian ini kita sebagai orang tua Kristen harus waspada agar jangan sampai memanjakan anak dan akhirnya merusak masa depannya dan karakternya. Orang tua Kristen harus berani memberikan disiplin untuk kebaikan anak.

Di Indonesia sudah mulai bermunculan gerakan yang membatasi penggunaan gadget pada anak, misalnya gadget tidak boleh dipakai dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Mereka yang mengikuti gerakan ini menyadari bahwa gadget sudah menyita banyak waktu untuk membangun relasi dalam keluarga. Mereka tidak mau kehilangan masa emas dalam pembangunan relasi keluarga. Ketika semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah pada jam 5 atau 6 sore, mereka menyingkirkan dan menyembunyikan semua gadget sampai jam 9 malam. Mereka kemudian memanfaatkan waktu yang ada untuk berbincang-bincang di dalam keluarga. Di sini kita belajar untuk mengendalikan waktu pemakaian gadget dan bukan sebaliknya. Kasih seharusnya tidak memanjakan tetapi memberikan edukasi. Banyak orang tua membiarkan dan menitipkan anak pada dunia internet, games, film, dan lainnya. Apa masalahnya? Mereka merasa bahwa ini bukanlah suatu masalah karena tidak mengganggu pekerjaan dan tidak mengganggu orang lain. Masalahnya adalah: apakah benar jika waktu yang kita punya dipakai bukan untuk berelasi dengan keluarga atau kawan kita tetapi dengan benda mati? Kita perlu membangun pengenalan yang berkualitas dengan orang-orang di sekitar kita. Di luar negeri ada orang yang menikahi bonekanya, anjingnya, atau selimutnya. Di sini sudah ada keanehan karena bukannya berelasi dengan manusia, mereka lebih memilih benda mati atau hewan.

Apakah benar dalil ini: ‘supaya anak-anak tidak rewel dan supaya kita bebas beraktivitas, maka kita memberikan gadget? Terkadang kita mau mempertahankan fokus kita dan menyelesaikan pekerjaan kita tetapi di dalam prosesnya mengorbankan anak. Dalil tersebut salah karena gadget bukanlah solusi untuk anak yang rewel. Kita harus mencari tahu mengapa anak tersebut rewel. Kita harus mengingat bahwa kita harus menjaga kesucian di dalam keluarga. Setiap potensi dosa yang ada di dalam keluarga harus segera dibereskan. Disiplin terkadang diperlukan agar kebenaran bisa ditegakkan. Amsal 13:24 mengajarkan kita untuk memukul anak pada waktunya. Salah satu dosa yang sekarang marak di dalam rumah adalah dosa melalui media sosial. Ada anak perempuan yang menjadi lesbian pasif karena menonton film yang pemeran utamanya adalah seorang lesbian. Saat itu ia masih remaja. Setelah ia bersekolah di luar negeri, ia menjadi lesbian aktif. Dari menonton ia kemudian melakukan. Di sini orang tua harus mengendalikan akses internet di rumah. Kita sendiri juga harus menjaga diri sesuai Galatia 6:1 sambil membimbing orang lain ke jalan yang benar. Segala tawaran dosa yang ada di internet tidak hanya mengancam anak-anak tetapi juga orang tua. Tidak sedikit jumlah pasangan yang bercerai karena perselingkuhan melalui media sosial. Orang tua bisa mengasihi atau mengorbankan anak atau diri, dimana masalahnya? Siapa sahabat kita yang kita kasihi dan rindukan setiap hari? Atau kita lebih merindukan gadget kita? Gadget mengakibatkan kita kehilangan kepedulian hidup. Di sini kita sudah terjebak dalam kecanduan gadget. Ketika anak-anak kita sudah kehilangan kepedulian terhadap keluarga, studi, pertemanan, dan lainnya, maka mereka sesungguhnya sudah mengalami masalah yang serius. Berapa banyak teman yang berelasi secara nyata dengan kita setiap hari? Apakah kita lebih banyak berelasi dengan teman lewat media sosial? Di beberapa gereja di luar negeri sampai menciptakan ruang bersosialisasi untuk menanggapi masalah ini. Di dalam ruangan itu, semua internet dimatikan. Di sini gereja mencoba untuk menebus waktu agar jemaat membangun relasi secara nyata di hari Minggu. Mereka sadar bahwa mereka sudah kehilangan relasi yang indah sebagai tubuh Kristus di gereja. Gereja harus menyadari kebahayaan dari penyalahgunaan media sosial. Kita harus menjaga diri agar tidak sampai memanjakan diri dengan gadget.

C. Antara Hidup dalam Peperangan Rohani dengan Menikmati Hidup.

Cara kerja Setan di zaman digital ini adalah memunculkan spirit-spirit Kain modern yang mengembangkan teknologi untuk kemuliaan diri. Kita mengingat bahwa keturunan Kain hidup sangat dekat dengan teknologi namun tidak menyembah Tuhan. Cara beroperasi kuasa Setan adalah secara sistematik masuk ke dalam dunia digital yang isinya menjauhkan manusia dari Tuhan dan menghilangkan nilai-nilai hidup untuk bergantung pada Tuhan sehingga sebaliknya manusia bergantung pada teknologi (Efesus 6:12).  Kalau media sosial mengikat kita sehingga kita tidak dekat dengan Tuhan, maka di sana Setan sudah menang. Jika tidak berhati-hati, maka gadget dapat menyita perhatian kita dari membaca Alkitab, berdoa, dan melayani Tuhan. Keturunan Kain modern adalah orang-orang yang ahli dalam teknologi. Kita harus memunculkan ahli teknologi yang beriman Kristen. Kita harus bisa mengisi websites kita dengan isi yang memuliakan Tuhan. Peperangan yang kita hadapi adalah peperangan rohani dan kita harus terus siaga. Jangan sampai kita menjadi korban dari semua ini. Setan memunculkan penemuan baru untuk membangun menara Babel modern (Kejadian 11:1-9). Di sini ada penerapan dari teknologi. Manusia menemukan teknologi baru untuk membangun menara yang puncaknya sampai ke langit, yaitu penemuan batu bata dan perekatnya untuk membangun menara keangkuhan hidup. Pada zaman dahulu, orang-orang membangun gedung dengan perekat dari getah pohon atau tanah liat khusus. Ini adalah penemuan baru untuk zaman itu. Mereka menggunakan penemuan ini untuk kemuliaan manusia. Pada zaman ini hal yang sama juga terjadi. Manusia terus memberontak dan tidak mau diatur serta dikekang. Orang modern tidak mau berelasi dengan Tuhan. Kita perlu lebih banyak melakukan retreat pribadi dan mendekatkan diri dengan Tuhan.

D. Antara Kasih, Teknologi, dan Kemuliaan Tuhan

Peristiwa Nuh (Kejadian 6-9) mengungkapkan kepada kita pentingnya peranan kasih, teknologi, dan kemuliaan Tuhan. Konteks pada saat itu adalah Tuhan menetapkan untuk membinasakan semua orang berdosa melalui peristiwa air bah dan menyelamatkan Nuh berserta keluarganya melalui bahtera (kata teba berarti ‘keranjang’. Kata ini juga dipakai dalam kisah bayi Musa yang diletakkan dalam keranjang). Jadi Musa sendirian di dalam keranjang itu dan Nuh selamat bersama dengan keluarganya dan hewan-hewan di dalam bahtera itu. Pembuatan Kapal ini rumit dan Tuhan adalah arsiteknya. Nuh berserta dengan keluarganya adalah pelaksananya. Kapal ini dibuat dari kayu gofir (Kejadian 6:14) dengan panjang 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 30 hasta. Perbandingkan ini sampai sekarang dipakai sebagai standar perbandingan keseimbangan beban berat di atas air. Di dalam bagian ini tetap ada teknologi. Pada saat itu Nuh tetap bisa mendidik anak-anaknya untuk takut akan Tuhan. Mereka harus menjadi satu komunitas yang terasing dari dunia dan hanya merekalah manusia yang diselamatkan. Keluarga ini berkenan di mata Tuhan di tengah kumpulan manusia berdosa. Kasih itu penting dan membuat keluarga menjadi kompak. Di dalam kisah Nuh juga kita melihat keterlibatan teknologi. Nuh harus mempersiapkan kapal, makanan, semua hewan, dan kemudian setelah air bah surut ia juga membuat kebun anggur (Kejadian 9:20). Ia adalah keturunan Set yang masih hidup, sedangkan keturunan Kain sudah mati. Di sini kita melihat bahwa orang yang bergaul dengan Tuhan tidak membenci teknologi tetapi mempelajari teknologi itu dari Tuhan dan menggunakannya untuk menjalankan perintah Tuhan. Sekarang banyak orang menggunakan dan mengembangkan teknologi untuk menggeser posisi Tuhan. Kita harus menebus hal tersebut.

Penutup

Kasih harus dipertumbuhan dengan sifat untuk membangun. Keluarga harus dibangun imannya agar semuanya melihat Tuhan. Sikap yang beribadah juga harus dibangun dengan benar. Di zaman ini ada banyak orang yang beribadah untuk mencari kepuasan. Mereka menyembah teknologi dan mengambil kepuasan dari sana. Kasih dan teknologi harus dipergunakan untuk menebus orang berdosa dan menyelamatkan ciptaan Tuhan yang lain. Kita bisa mengirimkan bahan renungan Alkitab melalui media sosial supaya orang lain mendapatkan berkat. Inilah penggunaan yang kudus. Kita harus belajar dari Bezaleel dan Aholiab yang diberikan keahlian oleh Tuhan untuk membuat Tabut Perjanjian (Keluaran 36:1-2, bandingkan dengan Yesaya 28:23-29). Dalam Yesaya 28:23-29 dituliskan bahwa Tuhan memberikan keahlian kepada orang-orang yang beribadah untuk bertani. Tuhan memberikan keahlian itu untuk memelihara umat-Nya. Kasih kita harus memiliki sifat penebusan dan bukan mengorbankan. Kita harus menebus relasi kita dengan sesama kita dan menebus penggunaan gadget kita. Kita harus mengingat bahwa kita ini adalah makhluk sosial yang harus membangun relasi dan memiliki potensi tersebut untuk dikembangkan demi kemuliaan Tuhan. Kita membutuhkan transformasi dari Kristus agar kita bisa mentransformasikan segala hal termasuk relasi kita. Jika media sosial menjauhkan kita dari Tuhan, maka kita harus menebus sehingga kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan melalui media sosial. Jika kita terjebak dengan media sosial, maka waktu kita akan dihabiskan secara sia-sia. Gadget hanyalah alat dan kita harus memakainya untuk kemuliaan Tuhan.

(Ringkasan belum diperiksa oleh Pengkhobah – LS)

Author: Lukman Sabtiyadi

Bitnami