Latest Post

Peran Iman Orang Tua dalam Mendidik Anak

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

            Hari ini kita akan belajar tentang satu tema berkaitan dengan pengulangan janji Tuhan kepada Abraham. Pada waktu ia diberikan pandangan tentang alam dengan melihat bintang, ternyata di dalam proses waktu Abraham tetap kurang teguh. Tuhan memberikan satu pengulangan janji, sekarang janji-Nya bukan apa yang dilihat tetapi apa yang bisa dirasakan oleh setiap anak yang lahir dari keluarga Abraham. Setiap anak laki-laki yang ada di keluarga Abraham harus disunat. Mari kita baca Kejadian 17:7-14:

  1. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
  2. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.
  3. Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
  4. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
  5. haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
  6. Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
  7. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
  8. Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.

Pendahuluan

            Mengapa Allah memakai tanda sunat sebagai perjanjian-Nya dengan Abraham? Kita melihat ada makna yang mengandung kerohanian dimana Abraham akan dipersiapkan menjadi bapa orang beriman. Dia akan mempunyai anak yang disebut anak iman hasil perjanjian. Menjadi orang tua bukan hanya sekedar senang pada anak dan mau punya anak, tetapi yang lebih penting adalah adanya kaitan perjanjian antara orang tua dengan Tuhan. Perjanjian itu bukan lagi sesuatu yang dilihat dari alam tetapi sesuatu yang bisa dilihat dari aspek komitmen yaitu berkaitan dengan sunat itu sendiri. Apakah sunat menyelamatkan seorang anak? Tidak. Sunat hanyalah konfirmasi orang tua dimana mereka yakin bahwa anaknya kelak akan menjadi orang percaya. Apa kaitan antara sunat dengan baptisan anak? Di sini kita belajar mengapa Teologi Reformed akhirnya menerima baptisan anak. Ada orang yang yakin bahwa baptisan itu menyelamatkan. Jika baptisan itu menyelamatkan maka kita tidak boleh membaptis anak. Baptis itu hanya untuk orang dewasa yang sudah mengerti tentang Tuhan di dalam satu keputusan iman secara pribadi. Namun sesungguhnya Alkitab berkata dengan jelas bahwa baptisan itu tidak menyelamatkan.

Pembahasan

            Sunat adalah tanda yang kelihatan atas janji Allah. Adakah perbedaan antara anak yang lahir karena hukum alam (biologi) dengan anak yang lahir karena hukum rohani yaitu iman yg mendahului realita (band, Yoh 1:13, 3:6)? Di dalam konteks ini kita melihat Abraham sudah mempunyai anak yang berumur 13 tahun yang bernama Ismael. Pada waktu Tuhan memanggil Abraham dan mengubah namanya dari Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sara, Abraham menertawakan Tuhan. Abraham masih berpikir bahwa anak perjanjian itu adalah Ismael. Yesus menjelaskan pentingnya kesungguhan menjadi pengikut Tuhan atau disebut orang yang beriman kepada Dia. Yohanes menerjemahkan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus akan diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Jika kita tidak mempunyai iman yang menyelamatkan atau kepercayaan kepada Yesus, kita tidak akan diberi kuasa sebagai anak-anak Allah yang bisa mengalahkan dosa di dalam diri kita dan godaan dari Setan. Firman Tuhan mengatakan anak itu bukan dilahirkan dari daging tetapi anak itu dilahirkan dari Roh.

            Mengapa Allah mengulang perjanjian-Nya dengan Abraham, mulai dari memakai alam semesta – bintang(Kej 15) sampai tanda sunat? Tuhan sudah membuktikan dengan alam semesta, dengan cepat kita mengetahui bahwa Abraham dibenarkan karena percaya dan bahwa seluruh keturunannya akan seperti bintang di langit. Abraham dilatih untuk punya komitmen dan tanggung jawab sebelum mempunyai anak.

            Mengapa perjanjian tanda sunat diberikan sebelum Ishak lahir? Apakah ini menunjukkan Ismael adalah anak perjanjian? Tidak. Di sini Tuhan memberikan satu konfirmasi bahwa setiap anak laki-laki itu penting maka setiap anak laki-laki harus dididik dalam iman. Di dalam bagian ini laki-laki dianggap penting karena laki-laki dalam konteks hukum Yahudi dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru semua laki-laki adalah calon pemimpin. Pemimpin dalam nilai rumah tangga adalah laki laki. Wanita adalah pengikut laki-laki. Di dalam konteks inilah laki-laki ada di dalam tanggung jawab iman membesarkan anak-anak di dalam Tuhan. Di dalam bagian ini kita diingatkan bahwa iman mendahului realita. Realita keberadaan anak itu ada di depan. Realita bahwa anak tersebut untuk diselamatkan harus ada iman. Jadi sunat sebagai tanda perjanjian Allah yang kedua terhadap Abraham adalah karena Allah ingin membangun satu tanggung jawab keimanan dari Abraham sebagai orang tua. Di sini kita melihat bagaimana anak-anak kita boleh kelak di depan disebut sebagai anak perjanjian, anak yang mengalami kelahiran baru, anak yang sungguh-sungguh bertobat di dalam Tuhan, karena kita sebagai orang tua punya peran. Kita punya tugas bukan hanya untuk membesarkan anak-anak secara lahiriah.

            Makna Sunat di dalam Perjanjian Lama dan baptisan anak dalam Perjanjian Baru adalah sebagai kesaksian iman orang tua atas pekerjaan Allah yang sudah diterima dalam sunat/baptisan itu. Sunat/baptisan anak hanya sebagai tanda dan janji akan datangnya keselamatan untuk anak itu kelak (lahir baru) (Yoh 1:12-13 & 3:6). Kesedihan sebagai orang tua adalah jika anak kita belum mengalami kelahiran baru. Maka pada waktu engkau mempunyai anak berimanlah supaya anakmu kelak bisa mengalami kelahiran baru dan di situlah engkau mempunyai pendidikan iman.

            Apa tugas orang tua dalam pendidikan iman untuk anak-anaknya? Menabur Firman Tuhan, berulang-ulang setiap hari dalam situasi apapun  (Ul 6 & Maz 127). Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, maka sia-sialah orang itu membangunnya. Kita harus rajin menabur benih untuk anak-anak kita. Tuhan memberikan contoh kepada kita. Paulus sebelum mengenal Tuhan ia bernama Saulus. Dia begitu keras karena kesesatan agamanya, maka ia dipukul keras oleh Tuhan. Tuhan meminta Abraham untuk mempunyai tanggung jawab yang besar. Dia bukan saja menjadi pemimpin usaha, kepala keluarga, tetapi dia juga harus menjadi pemimpin dalam nilai keimanan.

Kesimpulan

            Kelahiran baru lebih penting daripada sunat. Sunat/baptisan tidak menghasilkan kelahiran baru atau keselamatan. Di dalam Galatia 6:15, rasul Paulus membedakan antara kelahiran baru dengan tanda-tanda lahiriah “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya”. Selain itu Paulus di dalam 1 Kor 4:15 menulis “Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yg kuberitakan kepadamu”. Jadi sunat dalam Perjanjian Lama atau baptisan anak dalam Perjanjian Baru itu penting karena menurut peran iman, orang tua mempunyai tanggung jawab rohani dalam mendidik anak-anaknya di dalam Tuhan. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

Peran Iman Orang Tua dalam Mendidik Anak

Categories: Transkrip

Author: gracelia Christanti

Bitnami