Latest Post

Peperangan Rohani (Spiritiual Warfare)

                                     Pdt. Tumpal Hutahaean

 

2 Korintus 10:6-11

Bagaimana kita tahu kalau kita memiliki iman yang hidup? Dan mental atau karakter yang matang pada waktu menghadapi satu masalah? Rasul Paulus sebagai hamba Tuhan yang dipakai dengan luar biasa tetap diijinkan Tuhan harus berhadapan dengan masalah, tantangan dan ujian dari guru-guru palsu di Korintus yang senantiasa menjelek-jelekannya bahkan mau mempermalukan seluruh pelayanan Rasul Paulus. Kekristenan kadang terhambat bukan karena aspek dari luar tetapi dari orang dalam sendiri yang pengajarannya tidak benar tetapi mengaku benar, yang perjuangannya seolah-olah benar tetapi sebenarnya tidak benar. Di sinilah kita harus mengerti bagaimana kita sebagai jemaat Tuhan tahu hamba Tuhan palsu dengan hamba Tuhan yang sejati. Sebagian jemaat Korintus sudah hampir terpengaruhi dengan guru-guru palsu ini.  Kita melihat Tuhan memiliki cara pandang bukan apa yang tampak secara rutinitas tetapi Tuhan melihat dari hati yang menghidupi Firman. Setiap hari kita bisa membaca Firman tetapi jikalau Firman tidak kita hidupi dan tidak membaca diri kita maka sebenarnya kita adalah orang Kristen yang sudah terjebak dengan rutinitas. Terjebak rutinitas artinya tidak ada gairah untuk hidup kita berubah dan dituntun dalam kehendak Tuhan. Kita belajar melihat satu nilai kepekaan dari Rasul Paulus yang mengetahui ada guru-guru palsu yang menyesatkan umat Tuhan di Korintus. Maka dia berani menegakkan kebenaran.

Tetapi hal yang menarik di dalam ayat 1-5, Rasul Paulus mengatakan tidak memakai cara yang sama oleh guru-guru palsu. Rasul Paulus dikatakan sebagai orang yang penakut. Mengapa demikian? Mereka mengatakan Rasul Paulus hanya berani melalui surat, tidak pernah berani berhadapan muka dengan muka. Setiap kita jikalau mendapatkan tuduhan seperti ini, kalau kita cepat marah itu menunjukkan kita adalah orang yang kurang matang imannya. Kalau kita membalas lagi dengan perang kata-kata itu menunjukkan kita adalah orang yang emosinya tidak terkendali. Tetapi Rasul Paulus justru mengatakan dalam ayat 1, “aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.” Apa artinya? Pernahkah kita membaca Alkitab dimana dituliskan Yesus membalas kata-kata dengan kata-kata? Pernahkah kita mellihat Yesus menggunakan emosinya yang membabi buta sampai akhirnya membuat orang menjadi hidupnya tidak lagi tertarik dan tidak lagi menghormati Kristus?  Tidak, Kristus sering difitnah, dicacimaki bahkan ingin dibunuh tetapi Kristus menghadapinya dengan penuh kelemahlembutan dan keramahan.

Lao Zi (604 SM) mengajarkan orang yang rendah hati adalah orang yang memiliki penguasaan diri. Dan Lao Zi juga mengajarkan bagaimana orang yang rendah hati tidak senantiasa menggunakan kekerasan untuk menaklukkan dan menyelesaikan masalah tetapi selalu seperti air.  Air adalah satu benda yang memiliki nilai ketaatan untuk dipakai apapun. Air dalam kelemahlembutan punya kekuatan untuk menghancurkan, membangun, dan bermanfaat bagi kita. Kristus juga membuktikan dalam seluruh hidup-Nya selalu marah untuk kebenaran. Rasul Paulus menyatakan bahwa ia mengikuti kelemahlembutan Kristus untuk memperingatkan guru-guru palsu. Karena di balik kelemahlembutan dan keramahan justru mengandung kekuatan iman. Orang yang cepat marah seringkali justru tidak ada kekuatan iman maka orang itu akan hancur oleh emosinya sendiri. Berapa banyak orang yang gagal dalam membangun prestasi kerja dan relasi karena kelemahan emosi yang tidak terkendali. Kita harus menjadi orang Kristen seperti murid Kristus, iman akan memampukan kita untuk melihat masalah, mengelola masalah dan menyelesaikan masalah itu dengan bijak dan cerdas. Jikalau iman kita cerdas, iman kita akan tetap dengan bijaksana melihat masalah di dalam masalah itu. Mengapa sering timbul masalah keluarga suami istri? Salah satunya karena cara pandang yang salah dalam membaca masalah. Cara pandang yang salah di dalam menempatkan dan menyelesaikan setiap masalah. Kita yang harus mengatur masalah dan punya iman peperangan dimana melihat masalah dengan tepat di dalam Kristus. Karena itulah ayat 1-5, Paulud meninggikan Kristus dan di situ menjelaskan nilai peperangan rohani dengan pendekatan sangat indah sekali. Kita tidak dipanggil untuk menggunakan kekuatan manusia. Setelah di dalam Kristus kita harus mendemonstrasikan kekuatan Kristus, bagaimana Kristus harus nyata dalam setiap masalah sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

2 Korintus 10:1-5 berbicara tentang peperangan rohani. Yaitu peperangan dimana menyangkut Allah itu sendiri yang berperan. Maka dalam ayat 2 setelah Rasul Paulus dituduh sebagai penakut, dia mengatakan “aku minta kepada kamu jangan memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat. Sebagaimana aku bertindak keras terhadap orang-orang yang tentu menyangka bahwa kami hidup secara duniawi.” Paulus dituduh hidupnya duniawi karena dianggap hanya bisa memanfaatkan orang yaitu menggerakan orang untuk mendukung apa yang diinginkannya padahal Paulus tidak pernah berjuang untuk diri, kekayaan diri, dan kepopupleran diri. Tapi justru Paulus mengatakan dalam ayat selanjutnya “memang kami masih hidup dalam dunia tetapi kami tidak berjuang secara duniawi.” Artinya kami hidup tidak pernah berjuang memakai kekuatan diri kami memanfaatkan orang lain dan tidak pernah memanfaatkan kelicikan atau tipu daya untuk menaklukkan orang lain atau ingin mengaktualisasikan apa yang ingin Paulus capai. Kita hidup tidak boleh memakai cara-cara duniawi. Secara duniawi artinya menghalalkan semua cara demi apa yang dia ingin dicapai. Mungkinkah ada orang Kristen yang menghalalkan semua cara demi tujuan yang dia inginkan? Orang Kristen sejati tidak mungkin demikian karena ada Allah Roh Kudus dalam hatinya. Dalam keluarga besar mungkinkah ada siasat duniawi? Mungkin. Kapan keluarga itu diuji daripada nilai persaudaraannya? Di saat sulit, waktu keluarga mendapatkan kesulitan dan tantangan dan keluarga itu tetap bisa bersatu, semua saling kompak dan saling mendukung dan jikalau lolos itulah ujian pertama.  Ujian kedua adalah kualitas iman di saat orangtua kita meninggal, masihkah anak-anak mencintai tali persaudaraan melampaui daripada harta warisan? Karena banyak keluarga gara-gara warisan pecah tali persaudaraan. Rasul Paulus membukitan perjuangannya bukan memakai senjata duniawi tetapi memakai kuasa senjata Allah yaitu Roh Kudus. Dan berjuang bukan mengarahkan segala pelayanan untuk diri sendiri atau pun kepopuleran kelompok, tapi berjuang untuk mengarahkan seluruh jiwa-jiwa mendapatkan kemerdekaan dalam Kristus. Metode yang dipakai adalah mematahkan, merubuhkan, menawan, dan menaklukkan kepada pikiran Kristus. Mengapa Rasul Paulus menggunakan empat macam metodi ini dan bagaimana bisa mengubah sikap seseorang? Francis schaeffer pernah mengajarkan kepada kita: “apa yang kita lakukan itulah yang kita pikirkan, apa yang kita pikirkan itulah apa yang kita percayai.” Maka kalau iman kita matang, pikiran kita matang, aspek afeksi kita matang maka sikap kita pasti matang. (1) Kematangan iman akan mempengaruhi cara pandang dan cara pikir yang matang. (2) Kematangan iman akan mempengaruhi afeksi dan respon emosi kita. (3) Kematangan iman akan mempengarui sikap kita. Jadi kalau sikap orang masih duniawi dimana tidak bisa mengontrol diri berarti imannya ada masalah. Maka Roma 1:16 dengan jelas mengatakan “orang benar akan hidup oleh iman.” Dengan kata lain “orang beriman pasti hidupnya benar.”

2 Korintus 10:6-11 kita melihat setelah Rasul Paulus melewati semuanya itu berdasarkan aspek pendekatan peperangan rohani (spiritual warfare). Maka ayat 6-111 Rasul Paulus menyatakan otoritas sebagai seorang pelayan atau rasul.

Pertama, disiplin rohani. dalam ayat 6 “dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.” Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka berhak memberikan disiplin rohani untuk rasul-rasul palsu dan jemaat yang hidupnya tidak benar di hadapan Tuhan. Di dalam Kisah Para Rasul 5:1-11, Petrus marah kepada suami-istri (Ananias dan Safira) yang sudah janji iman ternyata memanipulasi janji imannya, kemudian mereka mendapat hukuman mati. Di dalamperjanjian lama siapa yang main-main dalam kemah suci dan ruang maha suci akan mati. Dan kita sudah melihat bagaimana juga umat Tuhan kompromi dengan ajaran Billiam dan kemudian dihukum mati (Bilangan 31:16-20). Artinya Rasul Paulus menjelaskan bahwa menjadi hamba Tuhan berhak menegakkan disiplin rohani sebagai tanda cinta untuk Tuhan dan kebenarannya ditegakkan. Calvin di dalam menjelaskan mengenai “8 tanda gereja yang sehat” salah satunya yaitu menjalankan disiplin rohani. Bukan saja mementingkan mimbar dalam berita kebenaran, bukan saja mementingkan sakramen yang benar tetapi ada disiplin rohani yang benar karena ini merupakan didikan iman untuk kebaikan orang itu dan juga gereja. Jikalau tidak bisa lagi maka perlu dikeluarkan dari gereja. Kalau kasih kita benar dalam Kristus, kita akan menegakkan kebenaran.

Kedua, otoritas sebagai milik Kristus. Di dalam ayat 7 dikatakan “Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.” Rasul Paulus menjelaskan orang Kristen sejati memiliki otoritas yang sama sebagai milik Kristus. Di sini Rasul Paulus mengkritik daripada guru-guru Palsu dan beberapa orang di Korintus supaya tidak menganggap diri lebih hebat lebih daripada orang lain. Otoritas kita sebagai milik Kristus adalah otoritas dimana kita sudah dimiliki oleh Kristus maka selayaknya kita harus  mencintai Kristus dan pelayananNya bukan saling menjatuhkan. Rasul Paulus mengatakan aku tidak pernah datang untuk merubuhkan iman orang tetapi membangun akan iman. Mari kita membangun satu otoritas sebagai miliki Kristus dan kita bersatu untuk mencintai Kristus bukan menjelek-jelekkan anggota Kritus. Mari kita menyatakan nilai kecintaan kita terhadap pelayanan Kristus sehingga kita saling mendukung bukan saling menjatuhkan.

Ketiga, penyertaan Kristus. Dalam 2 Korintus 10:8 dikatakan “Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.”  Otoritas pelayanan Paulus diteguhkan lagi dengan penyertaan Kristus dalam kuasa-Nya. Mungkinkah seorang melayani Tuhan tetapi tidak ada penyertaan dan kuasa Tuhan? Mungkin. Kita bersyukur gereja kita terus punya antusias menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Ini merupakan tanda penyertaan Tuhan. Kita bersyukur gereja kita terus punya antusias agar ada orang-orang yang akhirnya menjadi hamba Tuhan. Hal yang menarik dalam perkataan Paulus “aku dalam pelayanan disertai dengan Kristus dalam kuasanya aku tidak mau membanggakan diri, aku tidak pernah hidup menjadi batu sandungan, aku tidak pernah hidup menjadi sesuatu yang mempermalukan orang lain, sebaliknya aku membangun iman orang lain.” Inilah hidup kita yaitu memiliki otoritas dan diberikan kuasa dan penyertaan Tuhan untuk terus melayani Tuhan.

Keempat, otoritas memberitakan dan menegakkan kebenaran. Dalam 2 Korintus 10:9-11 “Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku. Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti. Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.” Rasul Paulus menjelaskan otoritasnya untuk membangun dan menegakkan kebenaran melalui surat-suratnya dan pengajarannya. Di sini bukan berarti Rasul Paulus itu penakut tapi justru itu sebagai tanda Rasul Paulus punya kecintaan untuk membangun Kerajaan Allah secara global. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajarkan kepada kita supaya berpikir global tetapi fokus. Marilah kita fokus memikirkan jiwa-jiwa di sekitar cikarang. Kita rindu bagaimana kebenaran boleh dibangunkan dan ditegakkan melalui spirit penginjilan yang terus berkobar-kobar, spirit menegakkan kebenaran mimbar dan melalui PA. Biarlah setiap kita boleh dipakai Tuhan seperti Rasul Paulus untuk mencerdaskan guru-guru palsu dan orang-orang Kristen yang meragukan pelayanan untuk kembali kepada Tuhan.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Peperangan Rohani (Spiritiual Warfare)

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami