Latest Post

Penyelidikan diri: Apakah Kita Sudah Punya Aspek

Penggembalaan untuk Diri?“

Pdt. Tumpal Hutahaean

 

2 Korintus 13:1-6

Apakah yang disebut hidup bijaksana? Di dalam bagian ini kita diajarkan oleh Tuhan untuk hidup berbijaksana dalam nilai diri kita yang berarti mengasihi diri di dalam Kristus. Kita mengasihi diri dalam Kristus artinya mengerti bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Diri kita yang sudah menjadi miliki Kristus mempunyai kerinduan untuk memuliakan Tuhan. Di dalam surat Roma dikatakan ada hukum di dalam diri kita yaitu (1) hukum kasih yang mau mengarahkan kita untuk memuliakan Tuhan dan (2) hukum kedagingan untuk memuaskan keinginan kita. Artinya hidup berbijaksana untuk diri: (1) Kita harus bisa mengontrol semua keinginan kita yang tidak sungguh-sungguh kembali untuk kemuliaan Tuhan. (2) Orang yang berbijaksana mengerti bagaimana mengatur prioritas diri untuk hidup berkenan kepada Tuhan bukan untuk kepuasan diri. Sigmund Freud (bapak psikologi modern) mengatakan manusia akan hidup berdasarkan control super ego. Manusia juga yang memiliki ego terikat dengan tubuh. Selain itu, ada id yaitu kebutuhan yang tidak mungkin tidak dihalangi. Pada waktu id memimpin seseorang maka ego pasti mengikutinya karena id merupakan satu nilai kemutlakan yang mengatur kehidupan manusia. Super ego itu terkadang di luar dirinya seperti kebudayaan (langsung atau tidak langsung, sadar atau tidak sadar) yang mengatur moral seseorang. Apakah super ego pasti memiliki satu nilai kesucian yang berkenan kepada Tuhan dan merupakan kebenaran mutlak? Tidak, karena super ego yang dibangun oleh nilai budaya pasti mengandung dosa. Kita mengerti bagaimana di dalam sumbangan pemikiran dari kaum psikologi selalu menempatkan manusia lebih tinggi dari Firman Tuhan. Dunia psikologi tidak bisa menyelesaikan problem manusia secara tuntas. Akitab mengajarkan kita untuk dibawa kepada sang pencipta sehingga pembaruan kita bersifat tuntas di dalam Tuhan. Semenjak tahun 1988 postmodernisme membawa manusia untuk melihat dirinya bukan dalam hal kesucian, moral, dan kebenaran tapi secara manusiawi. Maka kebenarannya dibangun dengan humanism yang mana bangkit pada tahun 1990. Putri Diana disanjung begitu tinggi karena memiliki 100 lebih yayasan kemanusiaan. Beberapa uskup besar mengusulkan supaya Putri Diana dipandang sebagai orang suci setelah peristiwa kematian itu. Tetapi beberapa pastur dan uskup tidak setuju maka mereka mengadakan sidang. Dari hasil polling akhirnya Lady Day tidak disetujui menjadi orang suci. Dalam catatan hidupnya menyatakan bahwa ia hidup dalam dosa bahkan sampai pada kematiannya. Dan yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa orang-orang seperti ini sempat diusulkan untuk menjadi orang suci? Karena gereja sudah tercemar dengan standar gerakan postmodernisme.

Di sini kita belajar ketika pasal yang terakhir dari 2 Korintus 13:1, Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.” Langsung menunjukkan ada satu nilai pengujian. Di sini beberapa guru palsu dengan para pengikutnya di Korintus dan juga beberapa jemaat Korintus justru mau menguji kerasulan Paulus. Ternyata Rasul Paulus sengaja mengatur waktu untuk ketiga kalinya dia ingin mengunjungi jemaat Korintus dan ditegaskan dengan membawa dua atau tiga orang saksi. Mengapa butuh 2-3 saksi? Di dalam Ulangan 19:15, dengan jelas mengatakan bahwa setiap perkara harus diselesaikan dengan 2-3 saksi dan Tuhan Yesus sendiri juga mengatakan dalam Matius 18:16-17. Di sini berarti menjelaskan kepada kita memang mau tidak mau akhirnya masalah itu tidak bisa diselesaikan secara damai tapi secara hukum taurat. Hukum taurat menegakkan keadilan, hukum Kristus menekankan aspek kasih. Maka dalam bagian inilah Rasul Paulus harus mengimbangi kedua hal ini. Bagaimana antara keadilan dan kasih itu menjadi jalan dalam satu keseimbangan karena kita tahu keadilan bersifat hukum. Pada waktu kasih dikerjakan yang terjadi adalah pemulihan dan pengampunan. Pada waktu keadilan ditegakkan maka kebenaran akan nyata dan orang itu akan dihakimi berdasarkan satu kebenaran. Jikalau kita memimpin keluarga, perusahaan dan lain-lain, kita menekankan keadilan saja pasti terjadi kepincangan. Paulus harus berbijaksana bagaimana hukum taurat yang menegakkan keadilan diseimbangkan dengan hukum Kristus yang menekankan kasih.

Dalam 2 Korintus 13:2 mengatakan: “Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi  —  sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya  —  bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi.” Dalam ayat ini Paulus akan menentukan satu sikap seorang gembala yang benar. Setelah dia datang pertama dia menggembalakan orang-orang berdosa untuk kembali kepada Tuhan. Dan ternyata ada sebagian yang sungguh-sungguh mau bertobat tetapi sebagian mengeraskan hatinya dan pada waktu akhirnya Paulus datang lagi yang kedua maka dia melihat ada golongan yang tetap berdosa, ada golongan yang mundur dan akhirnya hidup di dalam dosa. Apakah Yesus membenci orang yang berdosa? Tidak, Yesus sangat mengasihi orang yang berdosa, maka Yesus boleh dekat kepada orang berdosa untuk misi supaya orang berdosa itu kembali kepada Tuhan. Ketika Paulus menjauhi orang berdosa itulah satu hukuman, kasih sudah diberikan dan Injil sudah dinyatakan. Tetapi orang itu mengeraskan satu nilai daripada hidup mereka dalam dosa. Satu hal yang tidak mudah kalau orang yang berdosa itu adalah orang-orang terdekat kita, di sini kita harus benar-benar menekankan keadilan dengan kasih dalam nilai keseimbangan. Rasul Paulus mengatakan jelas sekali bagaimana dia ingin menegakkan satu hukum kasih. Dan dalam PA Kitab Wahyu kita sudah melihat bagaimana Allah menyatakan murka-Nya dan Allah akan membuat gempa, gerhana total, dan hal lainnya maka orang kaya dan orang pintar akan masuk ke goa-goa untuk berlindung. Mereka seperti putus asa dan kebingungan, sampai-sampai mereka meminta kepada gunung supaya dijatuhkan daripada pintu goa itu. Supaya terhindar dari murka Allah. Paulus menjauhkan orang berdosa di Korintus supaya mereka sadar hukuman Tuhan lebih menakutkan dan hukuman Tuhan sangat mudah untuk mematikan manusia.

2 Korintus 13:3, “Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu.” Dalam ayat ini dijelaskan bahwa mereka dahulu adalah orang-orang kafir. Sekarang orang-orang tersebut menjadi percaya kepada Kristus melalui pemberitaan injil dari Paulus. Mereka ingin membuktikan kerasulan Paulus. Tetapi mereka lupa bahwa mereka adalah buah dari Paulus. Ketika kita hidup tidak ada lagi satu nilai iman yang benar karena pengaruh guru-guru palsu maka iman kita akan kacau. Waktu iman kita kacau kita tidak ada dalam jalan yang benar sehingga kita lupa di dalam akal yang sehat bagaimana dengan orang yang memandang orang yang menabur Injil kepada kita. Maka dalam bagian ini Rasul Paulus mengatakan: selidikilah dirimu, ujilah dirimu apakah engaku sekarang sungguh-sungguh menjadi anak Tuhan, apakah engkau sungguh-sungguh dalam Kristus? Kalau sungguh-sungguh sudah dalam Kristus maka tidak akan mempertumbuhkan kebencian terhadap orang yang dikasihi Tuhan.

Dalam 2 Korintus 13:4 dikatakan “Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.” Di sini Paulus ingin menyatakan kuasa yang ada daripada Paulus untuk mempertobatkan dan menjalankan Visi Misi bagi Tuhan itu bersumber daripada Tuhan Yesus. Rasul Paulus melakukan satu pendekatan teologia salib. Sebenarnya Kristus tidak lemah tetapi Dia rela ketika dianggap orang lemah tetapi justru menunjukkan satu kekuatan-Nya. Tujuh perkataan salib keluar dari kata-kata Yesus dan kata yang pertama justru mengandung satu nilai kuasa pengampunan “Ya Bapa ampunilah mereka.” Bukan kuasa dendam. Tetapi Yesus dianggap orang lemah tetapi dari perkataan-Nya mengandung satu kuasa kata-kata yang kekal yaitu membawa manusia di bumi masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Dalam 2 Korintus 13:5 berkata: “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” Artinya dalam bagian ini adalah Paulus meminta supaya mereka menguji kesejatian mereka dalam iman dalam Yesus Kristus.  Setiap manusia akan bisa mengalami satu kesukaran tetapi bagaimana kita bisa tahu iman mengalahkan semua itu. Di situ kita bisa melihat bagaimana kesejatian seseorang dilihat pada waktu kesulitan datang. Sebagaimana dicatat dalam Galatia 2:20, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Maka dia tidak pernah mempertuhankan penderitaan, kesulitan, dan sakit penyakit tetapi dia mempertuhankan Kristus. Dalam Roma 8:9 Paulus juga mengatakan jikalau seseorang tidak memiliki roh Kristus maka dia bukan miliki Kristus. Artinya jikalau hidup masih diatur oleh kedagingan dan ambisi, bukan diatur roh Kristus maka kita bukan miliki Kristus. Rasul Paulus meminta:

  1. Lihat nilai spirit hidup bagi Tuhan, di dalam Mazmur 139:23-24 setelah Daud bertobat dari kejatuhan lepas kejatuhan, dia meminta: “Ya Tuhan, selidikilah akan aku, ketahuilah akan jalanku jikalau serong.” Maka dia meminta kepada Tuhan selalu menyelidiki dia karena dia mau sekali hidup untuk Tuhan bukan untuk diri. Di dalam konsep Ibrani 12 di situ pun dikatakan kita bukan anak-anak gampangan, kita akan dipukul Tuhan jikalau hidup kita tidak beres untuk menghasilkan satu buah kematangan hidup kita yaitu hidup dalam kebenaran.
  2. Bagaimana kita tahu kualitas diri kita melalui satu nilai pengujian. Dalam Wahyu 2:22 jemaat Tiatira yang juga dikritik oleh Tuhan Yesus “jikalau kamu hidup terus dalam dosa, dan kamu tidak bertobat aku akan memberikan hukuman penyakit untuk dirimu, hidupmu akan selalu mengalami kesukaran karena hidupmu terus dalam dosa.” Siapa yang hidup dalam kegelapan itu pasti bukan anak Tuhan.
  3. Rasul Paulus meminta untuk menguji dan menyelidiki melalui hidup masing-masing orang kristen. Iman akan mengalahkan kuasa apapun juga. Iman akan mengalahkan kuasa-kuasa daripada dunia, tetapi kalau hidupmu terus diatur oleh kecemaran seperti Roma 1:24 ini sangat mengerikan. Beberapa orang di Roma sudah mengenal Kristus maka Paulus tahu sekali mereka perlu diuji kesejatiannya dan jikalau mereka hidup terus dalam kecemaran seperti itu maka mereka akan diserahkan kepada kecemaran. Orang Korintus harus menguji diri berkaitan dengan buah hidup dalam Kristus berkaitan dengan karakternya. Mereka juga diminta menguji diri dalam buah rohani yaitu jiwa-jiwa. Kita harus berani menyelidiki diri kalau kita anak Tuhan kita berani membuktikan apakah kita sungguh-sungguh hidup kepada Kristus berkaitan dengan karakter? Apakah kita punya buah rohani melalui orientasi jiwa-jiwa?

Dibagian berikutnya yaitu 2 Korintus 13:6, “Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji.” Pada bagian ini kita diminta untuk tahan uji. Mari kita belajar untuk membuka diri untuk Tuhan.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Penyelidikan diri: Apakah Kita Sudah Punya Aspek Penggembalaan untuk Diri?“

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami