Latest Post

Penderitaan Tuhan Yesus Sebagai Tuhan dan Juruselamat

Pdt. Tumpal H. Hutahaean M.Th.

 

Hari ini kita akan sama-sama membahas tentang penderitaan Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, khususnya melihat bagaimana Kristus menyikapi penderitaan dan pergumulan dengan suatu sikap yang mencerminkan kemuliaan Allah. 1 Petrus 2: 22, 22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ia tidak berbuat dosa dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya, namun Dia tetap harus disalib menderita demi menebus dosa-dosa kita. 1 Petrus 2: 23, 23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Dosa yang paling mudah kita lakukan secara praktis adalah dosa melalui mulut. Mulut mudah sekali membuat kita berdosa. Doa Bapa Kami mengatakan untuk kita meminta makanan yang secukupnya, namun ketika kita bertemu dengan makanan yang kita suka, kita lupa dengan doa ini. Saat makan, kita jadi egois, memboroskan uang, menunjukkan kehebatan diri melalui makanan yang kita bisa makan. Di dalam semua ini kita berdosa kepada Tuhan.  Kedua melalui mulut kita sering berdosa, karena tidak berkata yang benar. Mulut kita sering dipakai oleh setan menjadi senjata yang tidak benar. Firman Tuhan menjelaskan kepada kita Kristus memiliki kesucian di dalam perkataan. Petrus yang pernah bersama dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun, berelasi denganNya, mengakui dengan berani bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah suci di dalam perkataannya. Kristus memang pernah memarahi Petrus, pada waktu itu Petrus seolah menghalangi Yesus supaya jangan ke Yerusalem. Yesus berkata kepada Petrus, enyahlah engkau iblis karena engkau hanya memikirkan apa yang dipikirkan oleh dunia, tapi bukan yang dipikirkan oleh Tuhan. Ini tidak membuat Yesus menjadi tidak suci di dalam perkataannya karena Yesus justru sedang menegur dosa Petrus.

Kedua, kita belajar bagaimana firman Tuhan menyatakan Kristus juga suci di dalam nilai afeksi. Ketika Dia dicaci maki, dia tidak membalas dengan caci maki; waktu dibuat menderita, Dia tidak membalas dengan ancaman. Ini menunjukkan Yesus memiliki penguasaan diri. Jikalau kita mendapatkan kecaman demi kecaman, tapi tetap berusaha tenang, itu membuktikan pertumbuhan iman kita dalam hal penguasaan diri ketika menghadapi pengujian Tuhan.

Dan yang ketiga Kristus tidak bertindak gegabah Ketika Dia ingin dibunuh. Dia tidak bertindak diluar kontrol akal sehat, tapi tetap bertindak dengan benar sesuai dengan kehendak Bapa di Sorga, dan tetap bertindak dengan penuh kasih kepada BapaNya dan kepada umat tebusanNya. Dalam hal ini Kristus membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Karena seluruh kepenuhan kasih dan kemuliaan Allah Bapa, nyata di dalam nama Yesus Kristus.

Di sini kembali kita belajar betapa Kristus tetap suci ketika Dia yang adalah Anak Allah berinkarnasi ke dalam dunia menjadi manusia seutuhnya, tetapi juga tetap mempertahankan Keilahian Dia sebagai Allah. Ternyata Dia sebagai manusia membuktikan selama 33 setengah tahun kehidupanNya, semua bisa dijalankan dalam keberadaan yang suci dan sempurna di hadapan Allah. Bisakah kita 24 jam mempertahankan kesucian kita? Mungkin kita tidak membunuh, mencuri, berbohong,  berjudi, tidak terjebak dengan pornografi, perjinahan dan lain-lain, tapi mungkin dosa kita adalah tidak mengutamakan Tuhan, lebih mengutamakan diri. Misalnya, tidak mengutamakan baca firman, tapi lebih suka baca sosial media. Di sinilah kita harus punya batasan dalam mengatur diri kita ketika kita berelasi dengan seluruh alat-alat media pada saat ini, karena kalau kita tidak punya batasan, maka kita bisa kebablasan. Kita orang Kristen seharusnya terutama mencari kepuasan dalam mengenal kebenaran dan mempraktekkan kebenaran. Kepuasan pada waktu kita bisa menggenapi kehendak Tuhan, di situlah kita sedang memuaskan hati Tuhan, sekaligus memuaskan emosi dan pikiran kita. Maka, seluruh hidup kita akan dipuaskan ketika kita mengenal kebenaran Tuhan. Di dalam konteks inilah rasul Petrus meminta jemaat di Asia Kecil untuk belajar firman di balik seluruh penderitaan dan kesulitan mereka supaya tetap mempertahankan kesucian hidup.

Bagaimana bisa Tuhan Yesus dapat memiliki kesempurnaan dalam kesucianNya? Bukankah Dia adalah manusia seutuhnya seperti kita?

Jika kita 24 jam saja sulit, kenapa Kristus 33 setengah tahun Kristus bisa tetap suci? Ini membuktikan kepada kita Kristus selalu memiliki kesadaran untuk hidup suci di hadapan Allah. Dia harus melewati proses perkembangan seperti anak, tetapi semua dijalankan dalam kesadaran untuk hidup suci di hadapan Allah. Jadi pada waktu ada godaan, pencobaan semua bisa dikalahkan karena Dia terus berjuang untuk hidup di dalam kesucian. Kedua, pada waktu Kristus inkarnasi Dia selalu membawa diriNya di dalam peperangan rohani. Dia tidak pernah lengah, hanya memanjakan diri, tapi selalu hidup dalam peperangan rohani secara pikiran, emosi dan tindakan. Hidup dalam kesadaran akan peperangan rohani membuat kita waspada diri di dalam segala hal. Pada waktu di kantor, di rumah, di masyarakat, di hadapan internet, kalau kita sadar akan peperangan rohani bahwa setan bisa memakai situasi apapun juga, baik lewat manusia atau peralatan, dengan menawarkan segala sesuatu buat kenikmatan diri; maka kita akan diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk siap mengalahkan godaan Iblis. Yang ketiga, Kristus bisa terus mempertahankan kesucianNya karena tujuanNya adalah untuk melakukan misi Allah Bapa. Dia datang dari surga yang kekal untuk mencari kita yang berdosa agar mendapatkan penebusan. TujuanNya adalah untuk menyelamatkan kita yang berdosa supaya kita kembali kepada Tuhan. Jikalau kita memusatkan kehidupan kita pada pekerjaan Tuhan, maka hidup kita akan makin menjauh dari dosa.

Siapakah Tuhan Yesus itu?

Sungguh Dia adalah Tuhan, Dia adalah pencipta, pengontrol, pemelihara seluruh kehidupan kita. Jadi Kristus yang menjadi manusia sudah membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang menebus dosa-dosa kita melalui kedatanganNya ke dalam dunia. Di situlah kita harus berterima kasih dan memuji nama Tuhan karena Allah rela datang dari surga mencari kita yang berdosa di bumi ini. Kita adalah keturunan Adam dan Hawa yang berdosa. Dosa mengakibatkan hukuman kekal karena dosa itu hukumannya adalah maut, yaitu kematian kekal. Maka pada waktu Tuhan bangkit di situlah maut ditelan, sehingga tidak ada lagi kuasa karena Kristus membuktikan Dia menang atas seluruh maut itu lewat kematian & kebangkitanNya. Di sinilah maka kita berkata puji Tuhan sebab Allah kita membuktikan bahwa Dia hidup. Ketika Tuhan berkata Akulah jalan, kebenaran dan hidup, itu adalah benar karena Dia mampu membuktikannya. Kebenaran yang ditawarkan oleh Kristus berbeda dengan setiap agama-agama lain, karena kebenaran yang ditawarkan Kristus adalah kebenaran yang mengandung keadilan, kebijaksanaan, dan memerdekaan kita dari ikatan dosa. Jadi pada waktu kita baca Alkitab, kita bisa dibebaskan dari ikatan-ikatan dosa yang telah membodohi kita dan mengikat kita. Akhirnya, setiap pemuka agama tidak bisa memberikan hidup yang kekal. Pemuka agama tidak bisa menjamin akan setiap pengikutnya untuk hidup yang kekal kecuali Yesus Kristus. Ini berarti memberitahu kepada kita, Dia adalah Allah yang suci, di mana Dia membuktikan jalan yang ditawarkan, memerdekakan kita dari ikatan-ikatan dosa, dan membuktikan Dia adalah penjamin seluruh hidup kita karena tidak seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.

Kristus memiliki kesempurnaan tertinggi, hal ini dapat kita lihat dari ketidak-berdosaan-Nya. Tidak ada pemuka agama di dunia ini yg berani mengclaim untuk dirinya sendiri bahwa ia menderita lebih besar dari siapapun juga, kecuali Tuhan Yesus Kristus. Ia menderita secara tidak adil melebihi semua yang lain. Kristus menderita lebih besar dibanding siapapun juga, tetapi melalui penderitaan itu, Dia bisa menebus kita dari lumpur dosa, mengangkat kita menjadi anak-anakNya, memberikan kepada kita kemuliaan yaitu kuasa menjadi anak-anak Allah. Inilah yang ingin dikatakan rasul Petrus kepada jemaat di Asia Kecil jangan takut kepada penderitaan, karena mungkin melalui penderitaan dan pergumulan, Tuhan sedang menyatakan kemuliaanNya. Di situlah engkau harus menerima semuanya itu sebagai ucapan syukur karena engkau mendapatkan satu privilege, di mana melalui penderitaanmu, Tuhan bisa dipermuliakan. Misalnya, melalui perjuangan dalam membangun keluarga Allah, mendidik anak untuk besar siap melayani Tuhan dan menyatakan kebesaran Tuhan. Jadi di dalam bagian inilah rasul Petrus ingin mengajarkan kepada jemaat di Asia Kecil waktu engkau sedang menghadapi kesulitan demi kesulitan jangan mempertanyakan Tuhan, karena Tuhan itu hidup dan punya kekuatan serta pemeliharaan bagi umatNya. Yang seharusnya engkau minta adalah kekuatan dan penyertaan Tuhan di dalam penderitaanmu.

Pernahkah selama Tuhan Yesus Kristus inkarnasi, Ia marah atau menegur orang dengan keras melalui kata-kata?

Pernah, pada waktu menegur Petrus enyahlah engkau iblis, perkataanNya keras dan tajam. Tapi berdosakah Yesus? mari kita lihat ada beberapa catatan yang menunjukan Tuhan punya kemarahan yang suci, Dia marah tetapi tidak berdosa.

  1. Tuhan Yesus pernah berkata orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat itu munafik (Matius 23 : 15, 29).

Ini dikatakan di muka umum. Orang-orang Farisi pada saat itu rata-rata adalah sebagai senator, mereka ikut dalam kongres dari setiap kedudukan-kedudukan pemerintahan Roma pada saat itu. Sedangkan, ahli-ahli taurat adalah orang-orang pemuka agama yang begitu penting pada saat itu. Mereka dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa semua adalah orang munafik. Keras, tajam, tapi apakah itu berdosa? Tidak, karena itulah kebenaran. Kenapa Tuhan begitu berani? Karena Dia memang harus menghancurkan kuasa dosa yaitu kemunafikan.

  1. Tuhan Yesus pernah berkata mereka seperti kuburan (Matius 23 : 27).

Dari luar diberikan kapur yang bagus, di dalamnya penuh dengan kebusukan, itulah ahli-ahli taurat. Engkau memakai jubah-jubah pendeta yang begitu indah, engkau memakai jubah-jubah ahli taurat yang kelihatannya begitu sangat berwibawa, tapi dalam hatimu engkau menyesatkan banyak orang lain, engkau seperti kuburan.

  1. Tuhan Yesus pernah berkata engkau seperti ular beludak (Matius 23 : 33).

Dalam konteks pada saat itu, kalimat ini adalah sebuah penghinaan. Perkataan Tuhan Yesus menunjukan mereka adalah seperti ular beracun yang menyesatkan, membunuh orang.

  1. Tuhan Yesus pernah berkata setan adalah bapa mereka (Yohanes 8 : 44).

Ini begitu kasar. Tapi yang menjadi pertanyaan apakah hal ini bisa dianggap caci maki yang mengandung dosa, menghina orang lain, mempermalukan orang lain? Tidak karena itulah fakta, itulah keberdosaan mereka.

Jadi walaupun Tuhan Yesus berkata demikian, ini bukanlah dendam tetapi Dia marah terhadap tingkah laku dosa mereka, maka perkataan yang keras itu adalah teguran dan supaya mereka bertobat daridosa-dosa mereka dan kembali kepada Tuhan. Perkataan keras diperlukan untuk menyadarkan orang bertobat dan kembali kepada Tuhan

Apa artinya Tuhan Yesus Kristus menyerahkan Diri-Nya kepada DIA?

Terjemahan yang lebih tepat adalah “tetapi Ia menyerahkan kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”. Dia serahkan semua perkara yang mungkin bisa menyakiti Dia kepada Allah Bapa sang penghakim yang adil. Tuhan Yesus tidak balas dendam atau sakit hati. Hai engkau jemaat di Asia Kecil engkau dianiaya, engkau disakiti, engkau dipermalukan serahkan kepada Tuhan, jangan balas dendam atau jangan sampai engkau menyimpan sakit hati.  Di sini juga kita belajar dari apa yang Tuhan Yesus katakan sendiri.

  1. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44).

Ini mengajarkan kepada kita, kita dipanggil untuk memberkati orang lain, bahkan yang kita berkati adalah musuh yang mungkin bisa menganiaya kita. Bukan balas dendam, kirimkan kata-kata caci maki ataupun mengancam. Senjata manusia bisa mulut, tangan, kaki; tapi semua senjata kemarahan, senjata caci maki, senjata mengancam itu tidak ada dalam peta kita sebagai orang Kristen. Perang salib dalam sejarah itu adalah kesalahan pastur pada saat itu,  padahal kita tidak diijinkan memakai istilah perang salib atau perang suci. Jadi disinilah kita mengerti bagaimana kita seharusnya kita bersikap, yaitu memberkati orang lain dan bukan menganiaya orang lain.

  1. “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” (Luk 23:34).

Petrus bisa menyimpulkan bagaimana ketika Tuhan Yesus menyerahkan semua perkara kepada Allah Bapa waktu dia berdoa ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Yang keluar adalah pengampunan, padahal Tuhan Yesus pada saat itu sudah dicaci maki, dipermalukan, tetapi yang keluar daripada mulutNya adalah pengampunan, bukan kecaman.

Kenapa kita tidak boleh mendendam atau membalas? Mari kita baca bagian ini: “HakKulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka” (Ul 32:35). Tuhan berkata kepada kita di dalam satu nilai ajaran firman untuk jangan dendam, jangan membalas, karena Tuhanlah yang akan melakukan keadilan untuk mereka semua. Biarkan Tuhan yang bertindak terhadap kejahatan mereka. Ini diambil oleh Paulus dalam Roma 12 : 19. “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Rom 12:19). Ini menjelaskan kepada kita berilah tempat kepada murka Allah karena engkau adalah anak Tuhan, yang sudah ditebus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Walaupun sekarang engkau dianiaya, mereka sedang menganiaya Tuhanmu. Maka itulah yang Tuhan Yesus katakan kepada Saulus sebelum menjadi Paulus, bahwa ketika dia menganiaya jemaat Tuhan, pada saat yang sama dia sedang menganiaya Tuhan dari pada jemaatNya. Jadi pembela kita yang sejati adalah Tuhan Yesus Kristus yang tidak akan membiarkan kita.

Jadi dapat kita simpulkan disini:

  • Jika kita ditindas, jangan marah dan dendam, sebaliknya berserahlah kepada Allah, maka Ia akan menghakimi dengan adil, (pada waktuNya, dan dengan caraNya).

Secara manusia kita bisa marah, dendam, tetapi ingat kita adalah orang-orang yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus. DarahNya sudah mengalir di bukit Golgota untuk menebus kita, sehingga kita sudah diangkat menjadi anak-anak Allah. Kita juga sudah diberikan kuasa menjadi orang-orang yang harus menang atas dosa. Jadi kalahkanlah emosi-emosi yang tidak suci itu ketika kita mendapatkan penderitaan, kesulitan dan dirugikan oleh siapapun juga.

  • Kita perlu tenang menanggung kejahatan dan Allah tidak akan tinggal diam. Dia akan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya, yaitu dengan menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai Hakim yang benar dan adil.

Ketenangan itu menunjukan engkau bergantung kepada Tuhan, membiarkan Allah yang bekerja, bukan emosiku yang menguasai kita.

Jadi apa yang kita pelajari hari ini menunjukan sikap dalam menghadapi penderitaan. Ketika kita menanggung penderitaan, walaupun kita sudah hidup baik, benar, ingatlah Allah tidak akan meninggalkan kita dan Allah akan menghakimi orang-orang yang membuat kita rugi atau menderita. Terus konsisten selalu melihat wajah Yesus yang akan menjadi pembela kita yang sejati.

Penderitaan Tuhan Yesus Sebagai Tuhan dan Juruselamat

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal H. Hutahaean M.Th.

Author: gracelia Christanti

Bitnami