Latest Post

The Passion of Jesus Christ

Categories: Resensi

Judul               : The Passion of Jesus Christ (Penderitaan Yesus Kristus)

Penulis             : John Piper

Penerbit           : Momentum

Tahun Terbit    : 2016

Mungkin tidak banyak dari kita—yang dalam tradisi Reformasi—yang mengenal Ash Wednesday atau Rabu Abu. Rabu Abu dirayakan oleh beberapa tradisi gereja seperti Lutheran, Katholik, Methodist, dan lainnya. Rabu Abu adalah satu hari kudus yang akan diisi dengan berdoa, berpuasa, dan menaruh tanda salib di dahi dari abu. Tradisi ini sebagai suatu momen untuk mengingat penderitaan Kristus. Selanjutnya, gereja-gereja tersebut akan melakukan beberapa ibadah khusus untuk mempersiapkan diri memasuki Jumat Agung dan Paskah. Kita yang tidak memiliki tradisi serupa, bukan berarti anti terhadap persiapan-persiapan yang serupa. Mempersiapkan diri sangat baik untuk menyambut anugrah besar yang akan kita terima di dalam perayaan Jumat Agung dan Paskah. Salah satu yang dapat kita lakukan adalah merenungkan secara pribadi bagian-bagian Firman Tuhan yang berkaitan dengan penderitaan Kristus; mengapa Yesus datang ke dunia ini untuk mati? atau mengapa Dia mengalami penderitaan yang begitu hebat?

The Passion of Jesus Christ (Penderitaan Yesus Kristus) adalah salah satu buku yang dapat kita  baca sebagai bahan renungan pribadi. John Piper, penulis buku ini adalah seorang pendeta yang telah menulis banyak buku salah satu diantaranya adalah Desiring God yang memenangkan  Medali Emas ECPA. Buku  ini menyediakan 50 alasan mengapa Yesus datang ke dalam dunia yang diciptakan-Nya untuk mati. Piper mengajak kita memikirkan dengan serius dan merenungkan secara mendalam dalam tulisan yang singkat setiap hari, sehingga kita dapat memahami betapa besar anugerah penebusan yang telah Yesus Kristus kerjakan bagi kita yang berdosa. Dengan demikian, kita tahu seberapa berharganya anugerah itu.

Bukankah ketika kita tahu seberapa berharganya sebuah anugrah baru kita dapat menghargainya?

Soli Deo Gloria

(Disadur oleh Niluh Peprisusanti)

Author: Lukman Sabtiyadi

Bitnami