Latest Post

Panggilan Hidup Sebagai Pembela Iman (4)

                                                  Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E., M.Th

 

 

2 Korintus 10:5 – Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Alkitab mencatat ada 5 macam orang yang kelihatannya kristen ternyata tidak kristen: (1) Orang yang tahu kekristenan tetapi tidak pernah peduli dan tidak pernah mau tahu tentang pergumulan nilai kekristenan itu sendiri, (2) Orang-orang rohani yang ternyata motivasinya untuk kesombongan diri tetapi Alkitab mencatat akhirnya orang ini dibuang oleh Tuhan. (3) Orang-orang kristen palsu adalah orang yang kelihatannya punya buah-buah kekristenan dan pelayanan dan kita sudah melihat bagaimana orang ini mempunyai antosias-antosias rohani khususnya dalam hal pengajaran dan mengikuti perjamuan Kudus tetapi ditolak Tuhan. Kita bisa lihat dalam Lukas 13 dan juga Matius 7 dikatakan ada orang yang antusias, bahkan melakukan mujizat-mujizat, mengusir setan, dan bernubuat tetapi akhirnya Tuhan berkata: “Enyalah engkau orang jahat” (Lukas 13:27; Matius 7:23). (4) Ada orang yang memiliki kegigihan dan mempunyai pengetahuan tentang Alkitab tetapi tidak mengkaui Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Contohnya seperti Nikodemus (Yoh. 3) dan perempuan Samaria (Yoh. 4), dan orang yang disebutkan dalam Ibrani 5:11-14, orang itu ternyata tidak pernah bertumbuh imannya.

Kelima, orang-orang yang memiliki antusias yang hebat untuk kegiatan rohani tetapi ternyata orang itu belum punya dasar iman yang kokoh. 1 Petrus 3:15 mengatakan “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” Mengenai orang macam kelima ini terdapat dalam Kisah Para Rasul 8:27-40. Di dalam ayat ini dinyatakan bahwa orang ini punya kesadaran ibadah. Bahkan orang ini rela menempuh jarak yang sangat jauh dari Afrika ke Yerusalem untuk beribadah. Ia rela mengorbankan ia belum waktu, tenaga dan uangnya. Orang macam kelima ini mempunyai ciri-ciri umum: (1) Orang ini tergugah hati nuraninya pada waktu mendengar Firman Tuhan. Orang seperti ini sadar bahwa dada kebenaran, maka pada waktu dia mendengarkan satu kebenaran agama dia akan tergerak hanya dalam nilai hati nurani umum. Maka dia akan mengambil keputusan untuk memilih agama yang cocok dengan dia. (2) Orang ini menyadari kebutuhan rohani untuk solusi dari kerohaniannya maka dia akan mengikuti akan seluruh apa yang dikatakan di dalam syariat agamanya. (3) Pada waktu orang ini mendengarkan Firman, orang inipun bisa menyadari dosa dan merasa dirinya bersalah. (4) Orang ini selalu punya semangat hidup terlebih lagi dalam hal rohani.

Sida-sida adalah pengawal yang terpenting untuk permai suri untuk kerajaan Etiopia saat itu dan laki-laki yang dipilih adalah laki-laki yang tinggi, tega, dan perkasa dengan satu syarat jikalau mereka mau menjadi sida-sida harus menyerahkan nyawa mereka dengan total untuk kerajaan. Maka karena mereka pengawal ratu, maka semua laki-laki sid-sida wajib di kebiri supaya tidak menggoda ratu dan ketika ratu menggoda mereka, mereka pun tidak tergoda. Mereka dikebiri yaitu untuk menjaga ratu dan mereka menyerahkan seluruh hidupnya demi kerajaan. Orang yang memiliki loyalitas dan orang yang memilki dedikasi yang kuat ternyata orang itu di dalam pangkatnya disebut sebagai pembesar. Di dalam statusnya ternyata mereka menjadi kepala keuangan ratu negeri Etiopia yaitu Sri Kandake. Dia adalah orang yang besar, mungkin orang yang cukup memiliki nama yang terkenal dan juga adalah seorang pejabat. Ternyata dia pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Dorongan hati orang ini luar biasa untuk beribadah.

Ludwig Ingwer Nommensen (1834-1918) dari tanah Jerman sampai ke Silindung dengan perjalanan yang begitu lama dan jauh melalui air pada saat itu. Nomensen diterima secara eksis di tanah batak yaitu 1860-1861. Ada catatan mengatakan pada 1858-1859, dia mulai tiba di tanah Sumatra dengan perjalanan selama 142 hari. Maka kita melihat orang-orang pada zaman dahulu pada waktu mereka bermisi kemurnian hatinya sungguh luar biasa. Bahkan pada waktu isterinya sakit, dia baru tahu isterinya meninggal setelah pulang. Kita melihat begitu banyak orang-orang yang bisa diuji dalam ruang dan waktu untuk melihat kemurnian dan perjuangan. Jadi kalau kita bisa katakan sida-sida ini berjuang untuk beribadah. Pada waktu dia naik di kereta itu, mungkinkah akhirnya dia dirampok/dibunuh? Mungkin, maka orang ini adalah orang yang memiliki semangat mau berjuang dan berkorban demi beribadah di Yerusalem. Alkitab mencatat di dalam perjalanan pulang orang itu duduk di dalam keretanya sambil membaca Kitab Nabi Yesaya 1-53. Jadi orang ini ternyata sudah dipersiapkan Tuhan dan dia sudah komitmen membaca Yesaya 1-53. Orang ini ternyata mengisi perjalanannya dengan membaca Alkitab dan tidak mau menyia-nyiakan waktu dia beribadah hanya untuk istirahat dan tidur. Jadi semangat dia kita bisa llihat semangat untuk melakukan ziarah rohani. Lalu kata Roh kepada Filipus, Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

Dalam 1 Petrus 3:15 mengatakan “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!” Artinya, orang yang takut akan Tuhan dan mengkuduskan Tuhan dalam hatinya akant terpancar di dalam hidupnya. Karena dari hati akan terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Alkitab mencatat Musa setelah turun dari gurun orang Israel tidak sanggup melihat wajahnya karena wajahnya penuh kemuliaan Tuhan (Keluaran 34:35). Demikian juga Filipus yang memancarkan keindahan melalui tutur kata dan karakternya yang menyatakan kekudusan hidup di dalam Kristus. Ada 3 semngat dari sida-sida itu: (1) Tampak dia semangat untuk dia melakukan ziarah rohani, (2) Dia semangat mau membaca Alkitab, (3) Dia punya semangat mau mengerti Alkitab. Dia membaca tetapi tidak mengerti maka Filipus dipimpin Tuhan untuk membimbing dia pada kebenaran Allah. Sida-sida ini mempunyai hati yang begitu terbuka dan mau belajar firman Tuhan lebih lagi. Dijelaskan Yesaya 1-53 itu tentang Yesus Kristus yang seperti domba dibawa ke pembantaian. Seperti anak domba yang keluh di depan orang yang menggunting bulunya demikianlah dia tidak membuka mulutnya. Ini merupakan bagian dari nubuatan tentang pengorbanan Mesias untuk menanggung seluruh hukuman dosa. Maka dalam ayat 35 dicatat: “Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.” Bayangkan kalau orang ini tidak ketemu Filipus, walaupun orang ini punya semangat rohani, punya pengorbanan rohani, dan punya kerinduan membaca Alkitab ternyata mati pun akan masuk neraka. Mengapa demikian? karena belum mengenal siapa Yesus.Filipus memberitakan tentang Yesus Kristus melalui Yesaya 53, kemudian orang ini pun bertobat dan dibaptis.

Di dalam ujian waktu, terkadang kita harus berani menguji apakah kita ini seperti kapal rohani yang sudah memiliki jangkar rohani atau tidak. Jikalau kita seperti kapal rohani maka pada waktu kita berlabuh maka kita akan menaruh jangkar di depan. Sehingga pada waktu ada ombak kapal itu selalu berdiam. Tetapi kalau kita bayangkan kapal itu berhenti tidak ada jangkar maka arus akan membawa dia karena tidak punya kekuatan untuk melawan arus walaupun kecil. Marilah ketika ada ujian, gelombang dan pencobaan kita tetap punya satu fondasi rohani yang mengikat pergerakan kita. Di sini menjelaskan kepada kita menjadi orang kristen jangan bangga jikalau kita punya pengalaman kekristenan, tahu Alkitab secara garis pengetahuan saja, atau pun mengambil bagian dalam pelayanan. Karena di dalam Ibrani 5:11-14 pun dicatat orang itu mengecap Firman yang baik mengambil bagian dalam pekerjaan Roh Kudus mendapatkan karunia yang akan datang namun murtad. Di sini menjelaskan kepada kita juga bagaimana akhirnya di dalam kebaikan dan kedaulatan Tuhan, mempertemukan orang itu kepada Filipus. Dikatakan mulailah Filipus memberitakan Injil kepadanya.

Ada satu cerita mengenai pemuda kaya yang bertemu dengan Yesus Kristus (Matius 19:16-30). Di dalam Alkitab dicatat dalam Matius 19:22, “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.” Ayat ini menjelaskan bagaimana orang kaya bertemu Tuhan dan menjadi sedih karena disuruh menjual hartanya. Orang ini begitu hebat: ia sudah menuruti 10 hukum taurat (Matius 19:20). Dia bertanya: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (ayat 16). Di balik pertanyaan itu dia sedang menyombongkan dirinya, kehebatannya, semangat dan bukti rohani yaitu yang tertulis dalam ayat 17-21. Di sini kita melihat Tuhan menggambungkan antara sikap hati dan pembukitan keselamatan. Jikalau sikap hati kita masih terikat dengan harta, dan kita belum bisa melepaskannya untuk mengikuti Tuhan maka keselamatan kita masih dipertanyakan. Di lain pihak Yesus juga berkata “apa artinya kita memiliki seluruh kerajaan dunia tetapi kita kehilangan nyawa kita?” (Matius 16:26). Mungkin kita berpikir dengan punya punya segala sesuatu dan menjadi orang yang terkenal akan bahagia. Ayat ini menyatakan bahwa begitu banyak orang gara-gara harta akhirnya jatuh kepada dosa, meninggalkan Tuhan, bahkan membuang Tuhan. Jadi orang Kristen yang sejati tidak mungkin terikat dengan harta, kesenangan, kenikmatan, dan kekuasaan ditawarkan dunia. Tapi mengkuduskan Kristus dalam hatinya. Seperti yang dikatakan 1 Petrus 3:15 mengatakan “Kuduskanlah Kristus dalam hatimu sebagai Tuhan.”

Bagaimana kita tahu kalau semangat kerohanian kita, semangat jiarah rohani kita, semangat kita membaca dan mengerti Alkitab itu sudah benar?

Pertama, seorang kristen sejati mengalami perubahan yang sejati di dalam Kristus. Dalam 2 Yohanes 1:7-11 mengatakan: “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.” Kita dapat membaca bahwa sida-sida itu mengakui Yesus anak Allah. Dalam ayat 7-11, Yohanes menampilkan satu nilai semangat untuk membaca dan mengerti Alkitab tetapi tetap pusatnya adalah Kristus. Lebih tegas lagi dinyatakan bahwa siapa yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus maka dia tidak memiliki Allah (ayat ke-9). Artinya kita tahu kalau semangat kerohanian kita itu benar melalui Firman yang terpancar dalam seluruh hidup yaitu mentuhankan Kristus dalam hidup kita sehari-hari. Jadi tidak ada aspek split personality dan split spirituality. Di dalam Yesaya 29:13 mencatat “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.” Mereka beribadah hanya mengikuti hal-hal lahiriah saja, bahkan disebut mengikuti perintah manusia yang dihafalkan. Walaupun memberikan korban-korban bakaran penghapusan dosa, korban keselamatan tapi tidak mau mengenal Tuhan dan hidupnya kembali menjadi batu sandungan. Maka di sinilah kita mengerti bagaimana seharusnya semangat kerohanian kita memiliki satu integrasi, keselarasan, dan terus berubah memancarkarn Kristus. Manyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan atas seluruh hidup kita dalam studi, kerja, keluarga dan lingkungan kita.

Di dalam 2 Petrus 2:1-2, “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.” Kemudian dalam 2 Petrus 2:19-22, “Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu. Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” Kesaksian dari Petrus menjelaskan orang-orang ini adalah orang-orang yang pernah belajar untuk mengenal siapa Yesus dan siapa Juruselamat. Tetapi di dalam ujian ruang dan waktu, pencobaan, kesulitan hidup, dan kesenangan-kesenangan dunia akhirnya orang macam ini terjatuh dalam dosa bahkan lebih parah dari sebelumnya. Jadi orang macam ini tidak punya kuasa kebangkitan dan kemenangan atas dosa. Orang kristen sejati mungkin saja jatuh dalam dosa, tapi seperti bola karet bisa jatuh di air kemudian muncul kembali. Tapi yang bukan kristen sejati itu seperti “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” Artinya tidak bisa lagi diubah sifat dan karaternya karena dia tidak punya kuasa perubahan. Mereka tidak pernah mengalami perubahan secara esensi ketika mengenal Kristus. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita mau berubah karena Kristus yang mati bagi kita merubah status kita: tadinya berdosa menjadi suci, tidak benar menjadi benar, yang sebelumnya musuh Allah kemudian diperdamaikan. Roh Kudus bekerja memampukan kita berubah dalam terang Firman bukan kekuatan diri kita. Alkitab mencatat bahwa sida-sida itu pulang dengan sukacita karena mendapat hadiah terbesar yaitu jaminan keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Yang kedua, seorang kristen sejati pasti akan menghasilkan buah yang manis dan kekal. Yohanes 15:16, ayat ini berbicara tentang satu pokok anggur yang benar dan barang siapa yang menempel pada pokok anggur itu pasti akan berbuah manis. Pokok anggur kita yang benar adalah Kristus dan buah kita pasti manis. Yesus mengatakan: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu untuk kamu berbuah.” Maka kalau kita sudah dalam Kristus artinya kita dicangkokkan pada Kristus yang adalah pokok anggur yang benar. Kita pun akan berbuah manis. Berdoalah agar menjadi seorang kristen yang berbuah manis dan kekal. Hidup kita akan benar hanya jika kita selaras dengan Tuhan. Yaitu jikalau pusat hidup kita adalah Pencipta dan Penebus kita. Hidup kita akan menajdi berkat dimana pun kita berada karena kita memancarkan Dia. Kalau kita punya semangat dan antusias rohani maka akan diikuti suatu sikap untuk menjadi duta-duta Injil. Seperti sida-sida itu yang kemudian menjadi duta injil untuk dibertakan di negeri Etiopia apalagi dia sebagai pejabat yang penting. Dia langsung memberitakan apa yang sudah diberitakan Filipus. Bagaimana kita tahu orang macam ke-5 ini? Lihat dari hidup mereka, kalau hidupnya menjadi batu sandungan: ada split personality, split spirituality dan tidak menjadikan Kristus sebagai pusat hidup maka dipertanyakan semangatnya. Selain itu lihat dari buah hidupnya, kalau buah-buahnya asam dan pahit juga perlu dipertanyakan. Karena buah yang diinginkan adalah buah yang manis dan kekal yaitu berorientasi kepada jiwa untuk orang-orang supaya kembali kepada Kristus.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Panggilan Hidup Sebagai Pembela Iman (4)

Categories: Transkrip

                                                  Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E., M.Th

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami