Latest Post

Panggilan Hidup Sebagai Pembela Iman

Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E., M.Th

 

2 Korintus 10:5

Dalam Wahyu 2:1-7 disampaikan mengenai jemaat Efesus memiliki tiga semangat yaitu: (1) Semangat untuk mendapatkan hidup yang murni, (2) Semangat mendapatkan satu pengajaran Firman yang baik, dan (3) Semangat dalam menaklukkan dan mematahkan setiap pengajar palsu. Mereka punya purpose, desire, dan movement untuk mengerti kebenaran dengan benar. Tetapi Alkitab berkata “dosamu sudah sangat dalam” (ayat ke-5). Tuhan memberikan peringatannya: “Jikalau engkau tidak bertobat maka kaki dian darimu akan kuambil” (ayat ke-5). Kaki dian dalam teologi perjanjian lama menyatakan kehadiran Tuhan dan kebenaran-Nya. Jemaat Efesus dikatakan sudah berdosa terlalu dalam karena mereka kehilangan kasih yang mula-mula (ayat ke-4) yaitu: (1) Tidak lagi bersekutu dengan Tuhan dan Firman-Nya untuk lebih dekat sebagai wujud kasih mereka pada Tuhan. (2) Tidak lagi mementingkan persekutuan sesama anak Tuhan yang pusatnya adalah Firman untuk selalu sharing dan menguatkan. (3) Tidak lagi menangisi jiwa-jiwa yang telah terhilang di kota Efesus yang penuh dosa. Kita seringkali terjebak dengan semangat rohani yang ternyata membuang fokus untuk kasih kepada Tuhan dan kepada jiwa-jiwa yang terhilang. Akhirnya mengutamakan pengajaran tetapi tidak memiliki kasih yang sempurna. Maka Tuhan Yesus berkata melalui Yohanes dosa jemaat Efesus sudah semakin dalam. Jikalau mereka tidak bertobat maka kaki dian Tuhan akan diambil. Jikalau kita membahas seperti ini pasti setiap kita gentar. Kita senang persekutuan dan melayani. Tetapi ternyata yang pusatnya bukanlah Kristus. Jikalau kita tidak bertobat, maka rumah tangga, usaha, dan prestasi kerja yang kita bangun tidak ada penyertaan Tuhan. Kita tidak memiliki arti hidup dan damai yang sejati.

Ketiga (lanjutan), orang-orang kristen palsu. Mungkin kita akan bertemu dengan orang-orang yang merasa dirinya benar tetapi di hadapan Tuhan tidak benar. Dalam Ibrani 5:11-14 menyatakan ada orang-orang kristen palsu, jadi sama seperti yang dihadapi oleh Efesus yaitu guru-guru palsu. Bagaimana kita tahu kalau dia adalah orang kristen palsu? Yaitu karena walaupun sudah punya pengetahuan tentang kekristenan, tetapi tidak pernah hidup dalam Firman. Dikatakan “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras” (Ibrani 5:12). Sudah lama menjadi orang kristen tetapi tidak tahu doktrin manusia dan dosa, doktrin Allah, doktrin Kristus, doktrin Roh Kudus, doktrin Alkitab, doktrin Gereja dan doktrin akhir jaman secara komprehensif. Dikatakan lagi dalam Ibrani 5:13, “Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.” Mungkinkah orang kristen yang sudah 20 Tahun tetapi konsumsi makanan Firmannya masih suka dengan hal-hal yang praktis dan dangkal? Mungkin. Dalam ayat 14, “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ditegaskan juga dalam Ibrani 6:4-6, “Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” Jadi di sini tanda-tandanya orang seperti itu tidak pernah bertumbuh imannya. Tuhan memprogram untuk hidup kita berbuah lebih dan manis rasanya. Bukan yang kecut dan pahit karena program Tuhan adalah Dia yang sebagai pokok anggur dan kita seperti cabang yang dicangkokkan kepada dia. Roh Kudus bekerja dalam kehidupan kita pasti akan memperbaharui hidup kita untuk kita berubah karena Kristus. Supaya melalui kehidupan kita, kita bisa memancarkan peta dan teladan Allah dengan benar untuk memuliakan nama Tuhan. Dan ternyata ada juga orang-orang yang pernah mencicipi Firman yang baik, diterangi hatinya mengambil bagian untuk pekerjaan daripada Roh Kudus. Bahkan mendapatkan karunia-karunia yang akan datang. Namun orang itu terjatuh dan terus terjatuh, tidak akan bangkit lagi. Ternyata mereka bukan menjadi orang kristen yang sejati. Maka di sini kita berani menguji diri, mungkinkah itu adalah kita sendiri, mungkinkah orang dekat di sekitar kita, dan apakah mungkin itu adalah saudara-saudara kita?

Di sini menjelaskan kepada kita bagaimana menjadi orang Kristen jikalau kita mengasihi orang-orang seperti ini. Maka kita harus bisa mematahkan, merubuhkan, melawan, dan menaklukkan kepada pikiran Kristus. Orang-orang seperti ini perlu dipimpin dalam pengajaran 1 Yohanes supaya jelas siapa yang disebut anak terang: bagaimana hidup orang benar, dan siapa yang sungguh-sungguh hidup dan takut akan Tuhan, dan bagaimana iman yang berkemenangan. Ini menjadi suatu refleksi diri supaya akhirnya lebih mengenal diri di hadapan Kristus. Maka tidak semua orang yang mengaku Kristen pasti diselamatkan. Kita harus melihat bagaimana konsistensi pertumbuhan iman. Karena orang Kristen sejati pasti bertumbuh imannya. Mengapa kita mengatakan pasti? Karena Allah yang menyelamatkan kita dan Allah juga yang telah memprogram kita untuk hidup memuliakan dia. Dan Allah akan memberikan kepada kita kelengkapan karunia dari surga untuk hidup memuliakan Dia. Maka tidak mungkin orang Kristen yang sejati terhenti pertumbuhan rohaninya. Tidak mungkin orang Kristen sejati tidak punya antusias untuk pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Roh Kudus tidak mungkin gagal karena kelemahan dari diri kita. Dan kita sudah dipilih untuk diselamatkan dan keselamatan itu pasti, maka di sinilah kita perlu memiliki kepekaan rohani dan mata rohani yang jelas untuk bisa membawa orang-orang di sekitar kita kembali kepada Tuhan.

Keempat, orang-orang yang memiliki spiritualitas yang palsu. Orang-orang ini mempunyai kegigihan untuk belajar tentang Tuhan tetapi ternyata menolak Pribadi Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bagian pertama yaitu dalam Yohanes 3:1-21. Bagian ini menceritakan bagaimana Yesus dikunjungi oleh Nikodemus yaitu pemimpin agama Yahudi. Nikodemus sebagai pemimpin agama Yahudi memiliki hasrat untuk belajar firman. Ternyata dia tidak mengerti konsep keselamatan di dalam konsep Mesias yang sejati. Khususnya mengenai kelahiran kembali. Dalam Yohanes 3:2, diungkapkan bahwa Nikodemus percaya bahwa Yesus datang disertai oleh Tuhan tetapi dia bukan Tuhan sehingga dia berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah.” Seharusnya dia berkata: “Oh Tuhan, kami tahu engkau datang sebagai Mesias yang diutus oleh Allah sebab tidak seorangpun yang dapat melakukan tanda-tanda yang engkau lakukan itu jikalau bukan Allah.” Dia terus belajar firman Tuhan tetapi tidak mengenal Yesus dengan jelas. Mungkinkah masih ada Nikodemus-Nikodemus modern? Mungkin. Belajar akan Alkitab tetapi menolak Yesus Tuhan sebagai Juruselamat dan tidak menerima konsep lahir baru. Masih banyak sekali orang-orang seperti Nikodemus di gereja yang menolak Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan menolak konsep lahir baru. Orang-orang seperti ini mungkin saja dibesarkan dalam keluarga dan pendidikan kristen namun tersesat dikarenakan defective theology dimana tidak lagi menempatkan Kristus sebagai pusat dari gereja. Seperti social gospel yaitu Injil yang hanya diterjemahkan dengan aspek kebaikan sosial: mendidik orang yang bodoh dan membuat sejahtera orang miskin. Namun akhirnya tidak lagi menerima penginjilan sebagai satu berita yang agung. Akhirnya mereka tidak lagi menantang manusia untuk bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dan juga tidak tidak lagi mengakui Alkitab adalah Firman Tuhan dan tidak mengakui otoritas Alkitab. Mereka mengembangkan existentialist-theology dimana kebenaran Alkitab tergantung pada waktu mereka membaca alkitab apakah mereka mendapatkan pencerahan atau tidak. Artinya manusia menjadi satu nilai subjek dan Alkitab menjadi objek. Jadi manusia memiliki otoritas penuh dalam mengerti alkitab secara subjektif. Bahkan ada bagian alkitab yang dianggap bukan Firman Tuhan dan mereka bisa mengatakan ini perkataan setan atau manusia. Gerakan yang mereka bangun seperti: source-criticism (mengkritik sumber alkitab), higher-criticism (mengkritik secara scientific akan alkitab), textual-criticism (mengkritik semua teks alkitab).

Yohanes 3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Tuhan Yesus menjelaskan kebenaran dan menkonfrontasi kebenaran dari Nikodemus itu. Ayat ini penting untuk kita pahami karena mungkin ada orang yang mengaku kristen tetapi karena belum lahir baru. Dia tidak pernah melihat Kerajaan Allah tetapi yang dilihat adalah keindahan kerajaan dunia. Mengapa banyak orang yang tidak antusias dengan kehidupan gereja? Mengapa orang tidak memiliki hasrat untuk ikut dalam pelayanan gereja? Karena belum sungguh-sungguh lahir baru. Maka di dalam ayat ini Yesus berbicara kepada Nikodemus untuk mematahkan, merubuhkan, menawan dan menaklukkan kepada pemikiran Kristus. Kerajaan Allah dilihat dari nilai kebenaran, kemuliaan, dan kedamaian. Dalam ayat 4, Nikodemus bertanya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Dalam ayat ini dia mengerti apa yang dikatakan Yesus secara lahiriah bukan dalam hal rohani. Kemudian ayat ke-5, Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Kalau kita memperhatikan ayat ini, Tuhan Yesus menyatakan pentingnya kelahiran baru: lahir dari air dan roh. Dilahirkan dari air dan roh menandakan satu nilai kesucian dan satu nilai pembaharuan.

Mungkinkah kita bisa melihat Kerajaan Allah berdasarkan kebenaran dan kemuliaan-Nya tetapi ternyata kita tidak masuk ke dalamnya? Mungkin saja. Umat Israel selama 400 tahun hidup di tanah Mesir menjadi budak. Kemudian Tuhan memakai Musa untuk membawa mereka pergi kembali ke tanah Kanaan. Tetapi apa yang terjadi? Mereka merasa terlalu nyaman hidup di tanah Mesir. Mereka tidak kuat menghadapi kesulitan dan terus bersungut-sunggut. Akhirnya yang masuk ke tanah Kanaan adalah yang umur 20th ke bawah, yang lainnya mati dalam dosa di padang gurun. Mereka bisa mendengar adanya tanah perjanjian, dari Tuhan kepada Musa tetapi mereka tidak masuk. Alkitab menekankan kalau kita lahir baru kita akan melihat Kerajaan Allah dan bahkan juga akan masuk dalam Kerajaan Allah dengan status sebagai anak-anak Allah, anak-anak kebenaran, di dalam jaminan Yesus Kristus. Karena kelahiran baru kita adalah kelahiran yang sejati dan pekerjaan Roh Kudus, bukan karena kita yang mau tetapi karena pekerjaan Roh Kudus. Dalam ayat 6-8 diungkapkan bahwa pekerjaan Roh Kudus itu melampaui daripada pikiran kita.

Kita belajar bagaimana Tuhan itu sangat ajaib, jikalau kita sudah lahir baru, jikalau Roh Kudus pernah bekerja dalam hati kita dan melawat hati kita, dan kita bertobat maka seluruh nilai kepalsuan kita akan dibukakan. Nikodemus pasti mengerti akan bagian itu, karena pada akhirnya dicatat bahwa dia membela Yesus karena dia tahu Yesus adalah Juru Selamat (Yoh. 7:50; 19:39). Mungkinkah kita ketemu Nikodemus modern? Mungkin. Kita harus tantang dia untuk lahir baru dan bertobat. Kita melihat bagaimana Yesus memberitakan kebenaran dalam ayat 14-15, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”

Peristiwa kedua yaitu pertemuan antara Yesus dan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-30. Orang samaria adalah orang yang belajar firman namun dianggap bukan lagi Israel sejati karena sudah kawin campur. Walaupun belajar firman, tetapi mereka tidak pernah hidup dalam Friman. Dikatakan dalam Yohanes 4:7 bahwa Yesus meminta minum dari perempuan samaria di tengah-tengah terik matahari. Karena memang Tuhan Yesus tahu ada orang berdosa yang menimba air di tengah hari. Ini merupakan satu masalah karena tidak boleh orang Yahudi bergaul dengan orang samaria apalagi minta tolong tetapi Tuhan Yesus menerobos itu untuk mencelikan mata perempuan Samaria itu. Dalam ayat 9-15, Yesus berbicara tentang air dengan perempuan samaria yang mana membawa pada air hidup yang sejati yaitu Yesus Kristus sendiri. Sampai pada ayat 16-18, Yesus membongkar dosa dari perempuan Samaria. Perempuan Samaria itu akhirnya diajarkan untuk menyembah dalam Roh (Yoh. 4:23). Orang Samaria itu tahu bahwa hidupnya begitu sangat memalukan, mencari kenikmatan palsu, dan memanfaatkan orang lain supaya dia bisa hidup. Tetapi ketika Tuhan bertemu orang seperti ini, Tuhan tetap menegur supaya mereka kembali kepada hidup yang benar. Dan di sisi lain Tuhan tetap menyatakan kasih dan hormatnya kepada Nikodemus dan perempuan Samaria karena jiwa mereka berarti di mata Tuhan. Kita perlu berdoa untuk diberikan hikmat ketika kita bertemu dengan tipe orang yang keempat ini.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Panggilan Hidup Sebagai Pembela Iman (3)

Categories: Transkrip

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami