Latest Post

2 Korintus 10:4-5

Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.”

Hidup sebagai Saksi Tuhan. Apakah panggilan hidup kita “hanya” menikmati keselamatan di dalam Kristus saja? Panggilan Tuhan atas hidup kita bukan saja mengenai keselamatan kita di dalam Kristus. Tuhan memberikan satu lagi panggilan bagi kita yaitu menjadi saksi Tuhan. Panggilan menjadi saksi Tuhan itu sudah diberikan kepada Adam dan Hawa sebagai reflektor kemuliaan Tuhan. Artinya Adam dan Hawa dipanggil untuk mewakili Tuhan di dalam kekuasaan akan ciptaan-Nya yang lain untuk memelihara, mengusahakan, dan mengelola semua ciptaan menjadi Indah. Manusia juga diberikan satu nilai refleksi untuk menjadi wakil Tuhan di dalam nilai karakter hidup. Alkitab mencatat dengan jelas akibat Adam berdosa maka seluruhnya menjadi rusak. Pada waktu semua menjadi rusak maka manusia tidak lagi memilki potensi mewakili Tuhan dalam karakter dan kekuasaan. Namun setelah kita di dalam Kristus, kita ditebus dan diberikan satu potensi hidup sebagai anak-anak Allah. Kita diberikan satu nilai pembaharuan dari Image of God karena kita sudah bersatu dengan Kristus (Union With Christ). Kita dipanggil menjadi saksi Kristus. Kita adalah The Witness of Christ (Saksi-saksi Tuhan). Kesaksian kita itu mengandung dua hal: (1) Bersaksi melalui kualitas hidup, (2) Bersaksi melalui kata-kata kita untuk Injil.

Di dalam bagian ini, Rasul Paulus menyadari bahwa dia harus menegakkan kebenaran diantara guru-guru palsu yang terus menyesatkan orang-orang pada saat itu. Dalam 1 Korintus 5:1-13, Paulu menegur jemaat yang terus hidup dalam dosa padahal mengaku sudah menjadi kristen. Bahkan dalam 1 Korintus 5:5, Paulus berdoa: “Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Ini merupakan doa pelepasan supaya orang yang berdosa itu tidak memalukan Tuhan. Sesuatu yang sangat serius sekali bahwa kita memang dipanggil untuk menikmati keselamatan dalam tanggung jawab yaitu kesaksian hidup dan terus menjaga kemurnian iman. Maka pada waktu dua ini menjadi satu kita akan mengerti betapa indahnya hidup kita jikalau ada di tangan Tuhan.

Tanggung Jawab penuh anak-anak Allah. Mungkinkah anak Tuhan yang sudah diselamatkan ternyata tidak memiliki keselamatan dalam tanggung jawab? Kita percaya kebebasan kita itu adalah anugerah. Kita pun memiliki potensi kebebasan dalam kesucian. Bukan lagi kebebasan yang sebebas-bebasnya, tapi diikat dengan kebebasan yang benar agar kembali memuliakan Tuhan. Maka pada waktu seorang anak Tuhan sungguh-sungguh bertobat, pasti dia akan dimampukan oleh Tuhan untuk menjalankan dan mengisi keselamatan dalam nilai responsibility yang bersifat total. Yohanes 1:12 mengatakan: Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. Bagian ini berkaitan dengan Kisah Para Rasul 1:8, “Jikalau Roh Kudus turun atas kamu, kamu akan menjadi saksi-Ku di mana engkau berada sampai di ujung bumi.” Artinya adalah tidak mungkin orang yang sudah ditebus di dalam Tuhan tidak mengisi seluruh keselamatan dalam nilai tanggung jawab. Ketika kita yang dicipta bisa berelasi dengan sang pencitpa di dalam Firman yang kita baca, dengar dan renungkan maka kita akan mendapatkan satu bangunan konsep nilai standar yang tertinggi yaitu mengerti apa yang benar, suci, terang, dan adil. Kita pun mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakan semua itu. Setiap kita harus mengalami pertumbuhan dalam tanggung jawab. Alkitab mengatakan “siapa yang setia dalam perkara yang kecil Tuhan akan memberikan lagi perkara yang besar” (Matius 25:21 & 23). Maka ketika kita menjadi anak Tuhan, kita akan diberikan tanggung jawab makin besar berarti anugerah juga makin besar, Anugerah makin besar maka kesadaran dan kewaspadaan kita semakin besar dan ketergantungan kita juga semakin besar.

Saksi Tuhan yang Efektif dan Produktif. Dalam melihat bagian ini kita harus mengisi keselamatan dalam tanggung jawab kita menjadi saksi Tuhan yang efektif dalam mempertahankan iman, mematahkan pikiran-pikiran yang palsu dan mengembalikannya kepada Kristus (apologetic). Apologetika di dalam konsep Alkitab mengadung dua bagian: Defensive (bertahan) & Offensive (menyerang). Defensive berarti kita menjelaskan mengapa Kristus disebut Tuhan, Juru Selamat, dan disebut satu-satunya Allah yang sanggup menyelamatkan kita.Selain itu, kita harus offensive. Karena kita pun bisa mempertanyakan pertanyaan orang itu dengan satu konsep kecerdasan supaya orang itu menyadari bahwa di balik pertanyaan tersebut mengandung satu kemutlakan yang tidak benar. Dan menyatakan bahwa ternyata kita mempunyai argumentasi yang bersifat mutlak menurut perkataan Alkitab. Dan terlebih lagi Paulus menyatakan bahwa segala pemikiran itu harus ditaklukkan kepada pikiran Kristus. Kristus memanggil kita untuk menjadi saksi Tuhan yang efektif dan memiliki kasih Tuhan yang produktif.

Tujuh Senjata Orang Percaya. Dan perjuangan kita di dunia berdosa ini bukanlah perjuangan yang mudah. Karena itu dalam 2 Korintus 10:4 dengan jelas mengatakan “karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.” Dalam bagian ini Rasul Paulus ingin mendemonstrasikan bahwa dirinya menghidupi keselamatannya dengan memiliki visi dan misi perjuangan dalam Kerajaan Allah. Dan ia sungguh menyatakan kuasa Tuhan dan meruntuhkan segala benteng-benteng yang ada di balik keangkuhan manusia. Yaitu setiap argumen atau fitnah dari orang yang tidak percaya terhadap kebenaran. Kalau kita hidup menjadi orang Kristen, kita belum pernah melakukan hal ini, hidup kita belum indah. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita bisa meruntuhkan benteng-benteng keangkuhan dan membawa orang menyadari akan siapa Kristus. Hal ini dicatat dalam surat Efesus. Struktur surat Efesus sangat indah sekali. Efesus 1 menjelaskan mengenai union with Christ. Dikatakan bahwa dahulu kita adalah orang-orang bodoh karena kita takluk kepada penguasa-penguasa di udara dan kita memenuhi seluruh kedagingan, keinginan dan nafsu kita. Tetapi setelah kita di dalam Kristus (union with Christ), kita dipersiapkan Tuhan untuk melakukan satu pekerjaan yang baik bagi Tuhan. Union with Christ menjelaskan bersatunya kita dengan Kristus sebagai tanda pertobatan sejati kita. Efesus 2, kita juga mengalami unity in Christ dengan orang-orang kristen lainnya. Jadi panggilan union with Christ harus terekspresi dalam unity in Christ di dalam panggilan daripada Firman, kebenaran, terang, dan kesucian untuk kita bersama-sama menggenapkan visi Kerajaan Allah. Betapa indahnya kalau hidup kita sudah di dalam Tuhan tidak ada lagi benteng-benteng pemisah untuk kita menikmati Tuhan. Efesus 3, kita diingatkan tentang satu nilai kualitas hidup. Efesus 4, kita dijelaskan pembaharuan hidup kita di dalam kebenaran untuk menghindari segala kejahatan. Efesus 5 ditekankan lagi tentang etika dan nilai hidup dimana kita harus menjadi anak terang bukan bercampur dengan kegelapan khususnya dalam menebus setiap waktu yang kita punya. Efesus 6 dijelaskan senjata peperangan dari Allah. Enam pasal dari bagian Efesus menjelaskan kepada kita betapa indahnya kita dipilih sebelum dunia dijadikan sampai kita bertobat. Dan kemudian kita dilengkapi dengan senjata Allah. Apakah senjata kita? Senjata kita dicatat dalam Efesus 6:14-19 yaitu:

  1. Kebenaran. Kita sudah justification by/through faith di dalam Kristus, status hidup kita benar.
  2. Kerelaan memberitakan injil.
  3. Kita punya kekuatan iman dan fondasi iman yang teguh.
  4. Kita menyatakan satu kualitas keselamatan hidup untuk memuliakan Tuhan.
  5. Firman Tuhan. Kita terus mengandalkan Firman Tuhan.
  6.  
  7. Roh Kudus. Kita terus mengandalkan kuasa Roh Kudus.

Tujuh senjata ini tidak kelihatan namun Alkitab menyatakan justru tujuh senjata ini yang bisa kita miliki tidak disukai oleh setan dan orang dunia. Bayangkan ada benteng keangkuhan yang ternyata bisa dirubuhkan. Bagaimana kuasa Tuhan begitu hebat pada waktu kita menginjili orang hingga mereka bisa menangis, menyadari dosanya dan bertobat. Dalam Roma 1:16 dikatakan “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Di sini menjelaskan kepada kita, kita tidak boleh malu akan Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan dan merubah seseorang. Demikian juga dalam 2 Timotius 3:16 dikatakan: “Segala tulisan diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan (rebuking), memperbaiki kelakukan dan mengoreksi. Firman Tuhan juga untuk mendidik (training). Alkitab mengajarkan kita bisa meruntuhkan benteng-benteng keangkuhan, kesombongan, kelaliman, kefasikan dan pemikiran orang-orang yang menentang kekristenan dengan tujuh senjata yang Tuhan berikan kepada kita.

Mungkinkah ada orang Kristen yang perlu kita runtuhkan benteng-benteng itu? Mungkin, karena mungkin dia orang Kristen yang belum sungguh memiliki pertobatan yang sejati. Konteks Paulus adalah menghadapi orang-orang yang sudah mengaku dan mengetahui tentang Kekristenan. Dalam Roma 1:17-18 & 21 dikatakan bahwa murka Allah nyata untuk setiap orang yang mengaku sudah mengenal Tuhan tetapi hidup dalam kelaliman dan kefasikan. Kefasikan adalah orang-orang yang double standar (Yunani: anopokritos, Inggris: hypocrite), orang-orang yang tidak punya aspek integrity dan honesty. Tuhan bisa murka untuk orang-orang yang fasik dan kepada orang-orang yang gampang kompromi dengan dosa. Dalam ayat 21 dikatakan bahwa semua pengetahuan dan pengalaman mereka tidak terbukti melalui realita. Mereka seolah-olah mengenal Allah tapi Knowing About God bukan Knowing of God. Bukan mengenal Allah secara langsung melalui pertobatan tetapi mengenal Allah karena perkataan guru, orangtua, dan budaya. Jadi kalau Knowing of God adalah pengalaman pribadi dan kita menyadari Kristus dan Juru Selamat aku adalah orang yang berdosa. Orang yang hanya Knowing about God dikatakan hidupnya tidak memuliakan Tuhan tetapi memuliakan diri dalam nafsunya, tidak pernah bersyukur dan tidak pernah menghormati anugerah Tuhan. Dikatakan juga pikiran mereka selalu emptiness, sia-sia dan kosong adanya. Mereka berbuat seolah-oleh mereka penuh hikmat tetapi mereka telah menjadi bodoh. Ternyata bukan saja di Korintus Rasul Paulus berhadapan dengan orang-orang yang mengenal Tuhan tetapi hidupnya tidak dalam Tuhan. Di Roma pun Rasul Paulus berhadapan dengan orang-orang yang seperti itu. Mungkin Tuhan akan memakai kita dan memperlengkapi kita dengan tujuh senjata itu untuk meruntuhkan semua benteng-benteng itu.

Betapa pentingnya satu apologetika penginjilan bagi kemuliaan Tuhan. John Frame menulis buku “Apologetika bagi Kemuliaan Allah” menjelaskan pada waktu kita berapologetika untuk membela iman kristen dan mematahkan setiap argumen dan asumsi-asumsi berpikir yang tidak benar tentang kekristenan biarlah semua dikembalikan untuk Tuhan bukan semua dikembalikan kepada diri kita. Maka Frame menjelaskan bahwa argumentasi bukan peperangan berpikir tetapi peperangan iman maka kita harus bersandar kepada Tuhan. Richard Pratt dalam bukunya “Every Thought Captive”, dia menjelaskan kepada kita bagaimana setiap pikiran harus ditaklukkan kepada pikiran Kristus. Jadi apologetika bukan peperangan intelektual mencari menang dan kalah tetapi untuk menyadarkan pikiran dan perasaan orang itu sudah tidak suci sampai takluk kepada Kristus. Kita bersyukur kita berada di Reformed yang mengingatkan bahwa hidup ini adalah suatu perjuangan iman. Andrew Hoffecker dalam bukunya “Building a Christian Worldview” mengingatkan kita bahwa (1) kerja untuk Tuhan yaitu kerja dengan membangun tanggung jawab kepada Tuhan. Melalui kerja kita, orang akan tahu siapa kita dan siapa yang kita percaya yaitu Yesus Kristus. (2) Waktu bekerja jangan melihat itu sebagai satu realisasi aktualiasi diri yang mengejar kekuasaan diri tapi melupakan nilai kesaksian tentang Tuhan. Bekerja untuk Tuhan dalam nilai tanggung jawab dan kesaksian di situlah mengandung satu nilai perjuangan iman maka hidup ini tidak boleh berhenti untuk belajar. Hidup ini harus punya nilai yang di dalamnya nyata satu perjuangan untuk kita terus membukitkan kita adalah anak-anak Tuhan yang Sejati. Demikian dengan Rasul Paulus yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membangun Kerajaan Allah. Demikian kita memang dipanggil menjadi saksi-saksi Tuhan yang dinyatakan dalam segala aspek hidup kita.

Dalam perkembangan apologetika kristen ada tiga bagian: (1) Metode Classic yang diwakili oleh Van Til dan penerusnya dengan konsep Authentic Approach. Jikalau kita bertemu dengan orang orang lain berkata sesuatu yang tidak benar secara langsung kita katakan bahwa dia berdosa karena Alkitab berkata demikian. (2) Metode Modern yaitu Alvin Platinga yang masuk dalam isu publik dimana kita arahkan pembicaraan itu sampai kepada satu nilai dosa dan akhirnya penyelesaian dosa yaitu Kristus. Dan (3) Metode Contemporer, oleh Francis Schaeffer dengan Persuasif Approach satu pendekatan yang nyaman karena kita datang seperti mereka. Kita mau berbicara penginjilan kepada petani maka kita berpakaian petani dan pembicaraan kita berbahasa pertanian. Akhirnya, dari situ kita arahkan orang itu bisa mengerti tentang semua alam yang dikontrol oleh Tuhan. Dalam Amsal 26:4, Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Diajarkan bentuk metode argumentasi untuk tidak menjawab bebal menurut kebodohannya. Artinya kita harus menjawab orang bebal berdasarkan kebenaran kita karena kita tahu kebenaran kita mutlak dan kebenaran orang itu tidak mutlak. Dan kita tahu kebenaran dia dibangun berdasarkan satu kesombongan dan keberdosaan maka mari kita menjawab berdasarkan kebenaran. Mengapa kita gagal penginjilan dan apologetika? karena kita belum punya keterampilan. Sebelum kita punya keterampilan dan skill, kita harus punya fondasi yang kuat melalui pengajaran. Kita bersyukur karena kita ada di Gereja yang terus mau mengisi fondasi iman kita sehingga kekristenan kita adalah kristen yang punya fondasi iman yang teguh.

Maka kita melihat dalam ayat 5 dikatakan “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” Di situ menunjukkan kami mematahkan, merubuhkan, menawan, dan menaklukkan. Inilah 4 kata dasar untuk kita dalam melakukan apologetika iman. Ketika kita melakukan 4 hal ini, kita layak disebut pembela iman. Dan memang kita mempunyai potensi untuk hal itu. Hal ini jelas dalam Kisah Para Rasul 26:2-3, ketika Paulus bertemu Raja Agripa dan disidang. Dalam 1 Petrus 3:15 dikatakan: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” Kita dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan. Di situ kita belajar betapa pentingnya kita sungguh-sungguh menjadi seorang pembela iman. Banyak sekali pembela iman disepanjang sejarah gereja. Salah satunya adalah Yustinus Martir. Dia adalah seorang pembela iman yang memakai filsafat untuk menaklukan orang-orang filsafat yang menentang Allah karena dia dahulu juga seorang filsafat. Selain itu, Agustinus yang memakai pendekatan Neo-Platonisme dan Manicheisme untuk menaklukkan orang-orang pelagianisme berdasarkan konsep kebebasan dan waktu. Jadi di dalam Alkitab dan sejarah gereja begitu banyak catatan orang-orang besar yang disebut pembela iman. Demikian kita semuanya disebut pembela iman yang defensive dan offensive.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Panggilan Hidup sebagai Pembela Iman (1)

Categories: Transkrip

                                                        Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E

Author: gracelia Christanti

Bitnami