PANGGILAN DAN JANJI ALLAH Pdt. Tumpal H. Hutahaean

Ringkasan Khotbah 8 April 2018

Hari ini adalah khotbah bagian kedua berbicara tentang Abraham yaitu Panggilan dan Janji Allah.

 

Kejadian 12:2-32Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Kisah Para Rasul 3:25 – Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati.

Dalam konteks ini Petrus berkhotbah di serambi Salomo. Ia harus berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang sejati. Rasul Petrus memakai pendekatan dari apa yang diajarkan dan dijanjikan Tuhan kepada Abraham.

Galatia 3:26-29 26Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. 27z Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. 28Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. 29Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.

 

Dua minggu yang lalu kita sudah membahas bagaimana panggilan Allah terhadap Abraham dan bagaimana Abraham yang sudah dipanggil melalui proses waktu dalam kebimbangan dalam keraguan sampai dia mendampingi ayahnya ke Haran. Sampai di Haran, ayahnya mati dan Abraham memutuskan taat kepada Tuhan. Dua point yang sudah kita bahas minggu lalu adalah Abraham dilatih oleh Tuhan untuk mengambil keputuan secara iman, bukan keputusan berdasarkan dengan pikiran saja, bukan keputusan emosional saja, bukan keputusan pengalaman demi pengalaman saja, tetapi apa kata Tuhan berkaitan dengan keimanan dan janji Tuhan. Abraham dilatih untuk taat akan pimpinan Tuhan, dan kita melihat semuanya itu menjadi indah pada waktu kita percaya program Tuhan adalah penuh dengan damai sejahtera, program Tuhan bukan rancangan kecelakaan, program Tuhan bukan membuat kita banyak masalah, tetapi program Tuhan adalah bagaimana kita dikasih pergumulan dan tantangan tetapi membuat kita makin bersandar kepada Tuhan. Dikasih sebanyak mungkin penderitaan membuat kita melihat kekuatan Allah dan akhirmya kita memuliakan Tuhan. Seluruh hidup kita adalah hidup dalam program Tuhan.

Kita juga sudah belajar apa dasar pertimbangan yang tepat sebagai anak Tuhan dan kita belajar dari Abraham. Bukan pertimbangan dan aspek nilai dari pandangan Humanism (satu pertimbangan yang menjadikan manusia sebagai pusat dari pertimbangan tersebut). Pada waktu engkau mengambi keputusan apakah pertimbangkan nilai kasihmu kepada Tuhan, cintamu terhadap kebenaran? Bagaimana dengan hati nuranimu, apakah dipenuhi damai? Apakah engkau punya potensi untuk mencapai itu? Lihat titik kelemahanmu. Apakah kelemahanmu dapat mengagalkan program yang ada? Mungkinkah titik kelemahanmu diubah menjadi titik kekuatan untuk mencapai itu semua? Milikilah satu komitmen untuk punya satu komitmen untuk membangun satu fokus hidup dalam nilai strategi apa yang engkau ingin capai.

Maka tujuan harus diselaraskan oleh tujuan Tuhan bukan bertujuan hanya berkaitan dengan diri. Tujuan Tuhan adalah tujuan yang berkaitan dengan kemuliaan Tuhan dan bagaimana kita menyenangkan Tuhan. Pada waktu kita hidup, pikirkan dampak hidupmu terhadap orang-orang sekitarmu, apakah hidupmu boleh menjadi garam dan terang. Setelah itu buatlah skala prioritas sehingga kita dapat memilah mana yang penting dan tidak. Sehingga setiap kita punya skala prioritas dan fokus. Setelah itu buatlah strategi yang tepat dan disini kita dapat belajar dari Abraham mengenai hal ini.

 

Adakah di antara kita yang bernah berjanji kepada Tuhan, tetapi belum digenapi? Misalnya: Engkau berjanji untuk menjadi hamba Tuhan secara full time, tetapi sampai saat ini belum tergenapi? Mungkin engkau berpikir bahwa pada saat itu hanyalah reaksi emosional saja.. Mungkinkah kita pernah bernazar kepada Tuhan bahwa kita ingin hidup menyenangkan orang tua? Pernahkah engkau bernazar untuk hidupmu menjadi garam dan terang dunia? Pernahkah engkau bernazar untuk sungguh-sungguh mematikan potensi dosa dalam dirimu supaya hidupmu boleh dipakai oleh Tuhan? Setiap kita mungkin pernah bernazar atau berjanji kepada Tuhan. Sebuah perjanjian ada nilai komitmen. Di dalam nilai komitmen ada nilai kesetiaan, ada harga yang harus dibayar, ada pembuktian cinta kasihnya. Kita tidak mungkin berani menikah dengan orang yang tidak berani berkomitmen. Alkitab mengatakan, pernikahan hanya sekali seumur hidup dan hanya satu pasangan. Setelah menikah tidak boleh bercerai atau berpikir untuk menikah lagi dengan yang lain.

Mengapa Allah berjanji terhadap Abraham? Allah itu sempurna Allah tidak mungkin gagal. Di dalam perjanjian Allah dan Abraham, siapa yang lebih banyak dirugikan dalam nilai perjanjian itu? Pasti Allah. Di sinilah kita melihat perjanjian dari atas ke bawah sifatnya anugrah. Perjanjian dari pada yang kekal kepada sesuatu yang sementara. Perjanjian yang mengandung satu nilai kasih Tuhan kepada diri kita. Apakah perjanjian Allah terhadap Abraham bersifat kekal atau sementara? Ya, Kekal. Adakah karakteristik sebuah perjanjian? Ada. Ada perjanjian yang terkondisikan dan bersyarat, tetapi ada pula perjanjian yang nilainya tidak bersyarat. Allah itu setia dengan janjinya dan Allah tidak mungkin menggagalkan janji-Nya hanya karena Abraham itu lemah. Allah itu berkuasa Allah sanggup mengubah Abraham menjadi Bapa orang beriman di dalam proses waktu.

 

Kita melihat panggilan Tuhan terhadap Abraham adalah menjadi Bapa orang beriman. Ini adalah satu nilai contoh bahwa setiap laki-laki harus memiliki karakteristik orang beriman ditengah-tengah keluarga. Laki-laki harus berperan sebagai seorang pemimpin iman di keluarga. Itulah ajaran hukum Taurat, itulah ajaran Perjanjian Lama. Mengapa di dalam hukum pendidikan seorang laki-laki harus menjadi pemimpin iman? Karena belajar dari Abraham, Bapa orang beriman. Bagaimana jikalau suami saya tidak bisa kasih contoh di dalam keimanannya? Untuk sementara waktu engkau istri ambil peran itu. Tetapi jikalau suamimu sudah bisa bertumbuh dan sudah bisa jadi contoh serahkanlah tugas kepemimpinan iman itu kepada suamimu. Bagaimana jikalau sampai dia tuapun tidak bisa menjadi contoh? Itu adalah salibmu. Mengapa pada waktu menikah tidak memikirkan hal itu? Jadi di dalam bagian inilah, hai engkau laki-laki, ambil kewajibanmu, menjadi pemimpin iman. Kalau kita memaksa hal rohani kepada pasangan kita, itu adalah suci, itu hal yang baik. Di dalam bagian ini kita laki-laki adalah pemimpin iman, kita harus siap untuk menjadi contoh untuk istri dan anak anak sebagai orang yang beriman.

Tuhan memanggil Abraham tahun 2000-an awal sebelum masehi. Tuhan memberikan janji. Janji itu ada 3 bagian, yaitu: Pertama, berbicara tentang keturunan (Kej. 12, 15, 17) dan berkaitan dengan janji sunat. Kedua, janji keselamatan. Ketiga, di dalam Kej. 12:7, ada janji kepemilikan tanah. Apakah janji-janji ini akan langsung dicapai? Tidak. Perlu adanya proses. Setelah Abraham mengerti panggilan Tuhan baru ada janji. Jangan biarkan anak mendapat janji mu jika belum matang secara mental dan rohani. Di sini kita melihat di dalam panggilan ada proses, yaitu proses ketaatan, proses pembinaan ketaatan iman dari pada Abraham.

Di dalam bagian penggenapan keturunan, hal itu baru terjadi 25 tahun kemudian. Pada usia 75 tahun awal, Tuhan menjanjikan Abraham akan punya keturunan melalui Sara. Tetapi setelah lewat 15 tahun tidak mendapatkan keturunan, mereka mulai bimbang. Umur semakin tua dan waktupun terus berjalan. Setelah sekian lama Tuhan memberi janji itu, Abraham pun tidak percaya, Tuhan justru sengaja memprogram anak perjanjian itu adalah anak mujizat. Bukan anak yang bersifat murahan tetapi anak yang dihasilkan karena iman. Ini berarti Tuhan ingin memberikan satu keturunan kepada Abraham dan Sara karena nilai anugrah Tuhan yang melampaui kondisi Abraham dan Sara pada saat itu. Bisakah anak dilahirkan tanpa iman dikuduskan oleh Tuhan? Bisa. Tetapi bagaimana dengan peristiwa Daud dengan Batsyeba? Anak karena kedagingan akhirnya harus mati, setelah itu barulah lahir anak kedua dari Batsyeba karena sesuatu yang sudah disucikan dan karena iman lahirlah Salomo. Tetapi mungkinkah anak- anak yang lahir bukan karena kesucian dan iman bisa dikuduskan? Bisa. Jikalau anak-anak itu sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Abraham dan Sarah tidak lulus saat diuji kesabarannya. Mereka mendahului waktu Tuhan karena diri sudah tua, dan tidak melihat secara iman. Sehingga akhirnya lahirlah Ismael dan hal ini terus menjadi permasalahan hingga hari ini. Di dalam bagian ini kita harus belajar antara panggilan dan janji Allah, ada proses. Hati-hati dengan kesenjangan iman, kita terima janji tetapi tidak sabar, mendahului janji Tuhan bisa mengalami penyesalan. Maka mengerti kehendak Tuhan untuk yang kita pilih dalam kita kuliah, yang kita pilih untuk langkah membangun keluarga dan mendidik anak-anak kita.

Proses itu indah. Jika engkau menikah proses mempunyai anak itu lama, maka proses itu adalah pelatihan. Jadi jangan mendahului Tuhan dan jangan kendalikan Tuhan, nanti akan menjadi seperti Abraham. Dia menuntut Tuhan bukan berdasarkan waktu Tuhan. Kita melihat Tuhan melindungi Abraham ketika terjadi musim kekeringan. Mereka pergi ke Mesir dan kehadiran Sara menghebohkan wilayah Mesir pada saat itu. Sara itu begitu cantik dan menawan hingga raja Firaun menginginkan Sara. Abraham pun berkata, “Dia adik ku.” Mengapa Abraham berkata demikian? Karena Abraham takut dibunuh jika dia mengatakan Sara sebagai istrinya. Sarah dan Abraham pun terpaksa berbohong. Saat itulah iman Abraham belum kuat, maka dikatakan di dalam Kejadian 12:17, bahwa karena Firaun mengambil Sara jadi istrinya, Allah mendatangkan tulah bagi seluruh istananya. Setelah itu Raja Firaun sadar dan menyerahkan kembali Sara kepada Abraham. Di sini kita diajarkan bahwa Tuhan berjanji dan Tuhan melindungi.

Di dalam kelemahan iman Abraham, Tuhan yang mengatakan bahwa Tuhanlah yang berkuasa untuk Abraham belajar melihat Tuhan. Jangan melihat dirimu yang takut dibunuh, Akulah Allah yang memelihara hidupmu. Kita melihat proses keimanan Abraham jatuh bangun. Mengapa pada saat Abraham dikasih pelayan cantik Tuhan tidak mencegah? Sedangkan Sara diserahkan kapada Firaun malah mendapatkan tulah? Para penafsir banyak yang mengatakan, rahim dari Sarah harus suci, sumber anak perjanjian harus dilahirkan dalam kesucian. Kita juga percaya doa seorang istri terhadap suami yang cemar bisa menyucikan hubungan suami istri. Bagian ini mengajarkan kepada kita, Tuhan tidak bermain-main terhadap Sara di dalam kesuciannya. Tetapi Allah membiarkan Abraham memperoleh anak dari hamba perempuannya adalah karena Tuhan mempunyai program untuk melalui keturunan Ismael ada pelatihan kemuliaan iman dari pada bangsa yang besar itu. Bukan berarti Allah perancang dosa, bukan berarti Allah yang mengatur strategi segala sesuatu.

Setelah itu, Abraham menjadi orang yang begitu hebat dalam melatih bala tentara, menjadi orang yang hebat untuk menghasilkan orang-orang yang pandai dalam berkelahi dan berperang dan terbukti Abraham mengalahkan raja-raja wilayah timur pada saat itu. Ia bisa merebut kembali Lot dari kerajaan yang begitu kuat pada saat itu. Di sini kita melihat bahwa dia melangkah lagi dengan iman yang lebih hebat. Bagaimanakah dengan kepemilikan tanah? Tanah Kanaan baru dimiliki setelah 500 tahun kurang lebih. Abraham di tahun 2000 B.C, Yosua merebut tanah kanaan 1572 B. C, ternyata prosesnya panjang. Apakah semuanya ini berhenti di sini? Tidak. Semuanya itu punya nilai penggenapan, maka kita melihat keturunan karena iman, keturunan yang punya satu nilai anugerah keselamatan. Di dalam Gal. 3:16-28, dijelaskan bahwa melalui keturunan itulah akan menghasilkan sumber keselamatan yaitu Yesus Kristus.

Bagaimana dengan janji aspek keselamatan dan pemeliharaan Tuhan melalui dari Gal. 3:26-27? Jelas sekali kita menerima janji keselamatan itu pada waktu kita percaya kepada Yesus Kristus. Pada waktu kita mendapatkan keselamatan dalam Yesus Kristus, kita mendapatkan janji bahwa keselamatan yang kita terima itu tidak mungkin hilang. Jikalau hidup kita ada di tangan Yesus, tidak ada kuasa mana pun yang bisa merebut diri kita. Tuhan Yesus yang pegang, jadi kita diberikan janji keselamatan bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena hebatnya kita beragama, bukan hebatnya hidup saleh kita, tetapi semua itu karena jaminan dan anugerah dari Yesus Kristus, dan janji yang Tuhan berikan kepada Abraham bersifat kekal bukan bersifat sementara. Semua janji itu akhirnya tergenapi di dalam Perjanjian Baru.

Dalam Gal. 3:28-29, seluruh janji bisa kita miliki di dalam Yesus Kristus. Tanah Kanaan sekarang bukan berbicara lagi tanah Kanaan yang bersifat materi tetapi tanah Kanaan yang bersifat surgawi. Di dalam bagian ini maka kita katakan Amin. Hidup kita selalu ada di dalam penyertaan Tuhan. Dididklah anak cucu kita di depan dengan iman, dihasilkan karena iman, dibesarkan karena iman, berjalan di dalam iman, maka akan selalu mendapatkan penyertaan Tuhan. Biarlah anak-anak kita mengerti ada panggilan khusus yaitu panggilan untuk menyatakan panggilan umum ketika kamu menjadi seorang pelajar, seorang yang bekerja, menjadi seorang wirausahawan. Jadi jangan berhenti jikalau kita melakukan mandat Injil saja, kita harus mengajarkan apa yang diajarkan Tuhan kepada kita dalam nilai pengajaran dan budaya. Waktu Tuhan bagi kita, tidak ada yang tahu. Berapa lama kita umur kita, kita juga tidak tahu. Tetapi satu hal yang kita tahu bahwa mati adalah keuntungan dan hidup adalah bagi Kristus. Tekankan bahwa selama engkau hidup, hidupmu bagi Kristus. Setiap kita pasti akan mati tetapi kita yang sekarang masih hidup mari kita berfikir hidup dalam nilai panggilan Tuhan.

Sudahkah engkau tahu mengapa engkau dipanggil untuk bergereja di gereja Reformed? Sudahkah engkau mengerti kenapa engkau bertempat tinggal di kabupaten bekasi dan sekitarnya? Sudahkah engkau mengerti mengapa engkau dipanggil menjadi seorang suami atau istri? Jangan lupa esensi kita mengerti kehendak Tuhan. Jikalau engkau tidak mengerti panggilan Tuhan, engkau hanya mengerti panggilan perasaanmu, panggilan biologismu, panggilan umurmu, engkau tidak mengerti panggilan Tuhan untuk menikah hidupmu, maka pasti akan gagal pada waktu engkau menjadi suami atau istri. Jadi di dalam bagian ini engkau harus mengerti apa kandungan di dalam panggilan Tuhan yang berkaitan dengan janji Allah. Pada waktu imanmu hidup berkaitan dengan Tuhan maka engkau jadi orang Reformed. Mengapa demikian? Calvin mengatakan ibadah adalah ekspresi kita untuk mengikat lagi perjanjian dengan Tuhan untuk kita menjadi anak anak kudus Tuhan. Perjanjian kita dengan Tuhan adalah ekspresi rasa syukur kita kepada Tuhan dimana Tuhan sudah memelihara hidup kita, dan ibadah adalah dimana kita memuliakan Tuhan, dan Firman yang menjadi pusat. Maka kita belajar panggilan dan janji Allah tidak pernah berubah di dalam hidup kita. Panggilan dan janji Allah tidak mungkin gagal karena kelemahan kita, karena Allah terus akan merubah kita seperti Tuhan merubah Abraham, dari kelemahan, ketakutan, kekuatiran, diubah oleh Tuhan untuk jadi bapa yang besar yaitu bapa segala bangsa untuk orang-orang beriman. Biarlah setiap kita belajar panggilan dan janji Allah untuk hidupmu terus memuliakan Tuhan. Amin.

 

Tuhan memberkati.