Latest Post

Nilai – Nilai Kehidupan

Pdt. Tumpal Hutahaean

2 Korintus 13:10-14

Di dalam bagian ini saya percaya sekali Rasul Paulus mengakhiri sesuatu yang bersifat akhir di dalam nilai penyertaan Tuhan itu yang lebih penting bukan mengakhiri sesuatu yang berpusat kepada diri. Di sini kita melihat setiap keindahan-keindahan surat selalu di dalam akhirnya justru menyatakan berkat Tuhan. Di dalam akhirnya menyatakan kemuliaan bagi Tuhan. Di dalam akhrinya menyatakan suatu nilai komitmen bagi Tuhan.

Akhir yang indah: kemuliaan bagi Tuhan. Dalam ayat 10 dikatakan “Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu supaya bila aku berda di tengah-tengah kamu aku tidak terpaksa untuk berindak keras menurut kuasa yang dianugrahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.” Di dalam bagian ini Paulus mengingatkan akan misinya di Korintus bukan untuk memberikan satu nilai disiplin yang begitu sangat keras di dalam kuasa dia sebagai Rasul untuk orang-orang berdosa, untuk orang-orang yang tidak tertib dalam Tuhan dan untuk orang-orang yang terus memperkarakan perkara-perkara dunia yang tidak penting. Paulus tidak mau jikalau dia ke Korintus ternyata dosa masih berkembang. Dia mengalami kesedihan, kegelisahan, dan kesusahan jikalau melihat daripada umat di Korintus masih hidup dengan sesuatu yang tidak disiplin rohaninya. Terkadang kita gelisah membaca diri dalam nilai yang bersifat lahiriah. Tetapi bisakah kita membaca nilai diri kita di dalam waktu Tuhan sehingga di dalam akan setiap bagian itu kita sangat mengerti sekali bahwa segala sesuatu punya nilai akhir. Paulus menulis ayat ini memiliki nilai akhir, maka dia ingin mengunjungi daripada Korintus punya satu nilai akhir yang indah.

Pernahkah kita memikirkan sebetulnya aset hidup kita yang paling berharaga itu apa? Ada beberapa aset hidup menurut alkitab. (1) Nilai-nilai hidup. Di dalam konsep Efesus 5:15-16 dikatakan bagaimana kita harus hidup dengan arif bukan seperti orang bebal karena itulah pergunakanlah waktu dengan bijak. Berarti aset hidup kita adalah nilai-nilai kehidupan kita. Berarti kalau kita mengakhiri hidup ini maka aset hidup kita itu menjadi satu contoh untuk orang lain mellihat ada sesuatu yang bisa mereka pelajari. Sehingga kita tidak menjadi orang bebal. Mengapa dikatakan orang bebal? yaitu seperti dalam Lukas 12 dikatakan orang bebal itu mempertuhankan harta dan memanjakan jiwanya dan hidupnya. Maka pada waktu dia berhasil atau sukses dia lebih mengingat bagaimana jiwanya harus dilayani. Dia berbicara kepada jiwanya: “tidak perlu kamu kuatir nikmatilah dan bersenang-senanglah” tetapi justru pada saat itu kuatir karena membangun lumbung besar untuk menjaga hartanya agar tidak dirampok. Tetapi Firman Tuhan berkata hari itu juga orang kaya itu dipanggil Tuhan. Artinya kebebalan kita terkadang menutupi cara pandang kita melihat konsep waktu dan hidup. Seharusnya bukan harta yang mengikat kita tetapi kitalah yang mengontrol akan harta. Di dalam Yakobus 4:13-14, Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,” sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Yakobus mengatakan bahwa ternyata ada orang yang begitu sangat bebal dia mengandalkan akan kekuatannya, pengalamannya, dan pengetahuannya sendiri bahwa jikalau dia pergi ke kota manapun pasti dia berhasil. Inilah suatu kesombongan. Ternyata waktu kita begitu yakin dengn diri, mengandalkan diri dan kita seolah-olah mendahului waktu Tuhan. Ini adalah dosa. Dalam Lukas 14 juga dicatat lagi yaitu orang-orang yang berdalih tidak mau ikut Tuhan yaitu karena alasan kerja, bisnis, dan keluarga.  Di situ kita mengerti sekali saudara Alkitab menekankan aset hidup kita adalah nilai-nilai hidup kita itu sendiri. Maka di dalam bagian inilah kita mengerti Paulus dalam bagian akhir ini menulis kepada Korintus selalu mengandung nilai-nilai kehidupan.

(2) Nama baik. Pengkotbah 7:1, “Nama yang harum lebih mahal daripada minyak wangi yang mahal atau minyak wangi yang harum.” Mengapa demikian karena minyak wangi hanya bertahan paling lama 2 hari tetapi nama kita mungkin bisa dicatat di dalam buah-buah hidup kita. Dan akan menjadi satu nama sebagai sumber inspirasi pada waktu orang mengenang akan nama kita. Artinya waktu kita menginfestasikan hidup ini maka kita harus punya satu nilai hidup yang punya integritas. Artinya adalah orang yang terbuka, orang jujur, orang yang tidak mau menipu diri dan tidak mau menipu orang lain karena prinsipnya adalah takut akan Tuhan. Maka nama yang harum adalah aset hidup kita yang memiliki integrity dan punya nilai focus dan prioritas. Di dalam bagian ini Rasul Paulus menutup seluruh Korintus supaya tidak mempermalukan nama Kristus. Maka di sinilah Rasul Paulus tidak mau jikalau dia datang ternyata dia hanya membawa disiplin gereja dimana akhirnya nama mereka rusak. Ketika nama mereka rusak pasti anak-anak dan keluarga akan mendapat dampaknya. Ketika zaman Calvin, orang ketahuan dansa saja akan dapat disiplin gereja kurang lebih 3 bulan tidak bisa ikut perjamuan kudus. Pada waktu itu orang yang tidak bisa ikut perjamuan kudus seperti nista atau dibuang. Dansa waktu itu identik dengan gaya hidup yang pesta pora, mabuk, dan bebas. Maka Calvin akhirnya menegakkan siapa ketahuan orang Kristen berdansa akhirnya mendapat disiplin gereja. Maka ketika disiplin gereja diumumkan, anak-anak akan tahu orang tuanya berdosa dan mereka menjadi malu. Kita sangat mengerti betapa kita tidak mau hidup mempermalukan Tuhan, kita tidak mau menyedihkan Tuhan.

2 Korintus 13:10, “Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.” Artinya walaupun Paulus ingin menegakkan kuasa dan disiplin gereja itupun sifatnya untuk membangun. Yesus adalah satu-satunya paling bijaksana dalam hal ini. Karena Yesus tahu sekali masalah orang berdosa adalah tidak lagi punya persekutuan dengan Tuhan. Ketika Kristus datang, Kristus memiliki kecerdasan untuk menyelesaikan masalah itu dan tidak menambah masalah. Mereka juga melihat bagaimana permasalahan yang paling utama ketika Musa memimpin orang Israel keluar dari tanah Mesir berhasil tetapi yang mensukseskan adalah Josua itu adalah ciri kepemimpinan yang berhasil yaitu menghadapi masalah dengan cerdas dan menyelesaikan itu tidak lagi menambah masalah. Inilah kepemimpinan Tuhan. Setiap tokoh-tokoh yang dicatat Alkitab tahu ada masalah Khususnya Kristus menyelesaikan masalah terbesar daripada dunia yaitu menjadi musuh Allah maka Kristus rela diri-Nya dipersalahkan. Rela dirinya untuk meredam kemarahan Allah dan tidak menambah masalah. Itulah yang dikatakan kecerdasan seorang pemimpin. Demikian Rasul Paulus memiliki kecerdasan dalam kategori ini dimana ia tidak menambah masalah walaupun diragukan kerasulannya oleh Jemaat Korintus. Artinya kita selalu berpikir solusi. Bukan berpikir menambah masalah. Maka Paulus tidak mau menambah lagi masalah dalam hidupnya karena dia berpikir hidup bukan daripada masalah. Dia hidup untuk menyelesaikan masalah manusia berdosa untuk kembali kepada Tuhan. Maka di sinilah kita mengerti bagaimana Paulus menyelesaikan konflik itu dengan indah di dalam kasih Kristus. Menyelesaikan konflik bukan berdasarkan emosi yang tidak suci tetapi berdasarkan kasih.

2 Korintus 13:11 dikatakan: “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!” Orang itu sudah memfitnah Paulus sebagai orang yang tidak jujur tapi sekarang masih dipanggil “saudara” oleh Paulus. Bisakah kita melakukan seperti yang Paulus lakukan? Akhirnya kita tetap menyelesaikan masalah dengan arif dan kasih. Dalam ayat ini, Paulus menempatkan mereka dalam status tubuh Kristus yaitu saudara dalam Tuhan. Paulus tidak menanggap mereka sebagai musuh atau orang-orang yang sudah menyakiti hatinya. Karena itu Paulus berkata: “bersukacitalah.” Dalam Filipi 3:1a sukacita umat Tuhan adalah bersuka dalam Tuhan. Mari kita kembali bersukacita karena kita lebih hidup sekarang mengutamakan pekerjaan Tuhan dengan tidak menyimpan satu kebencian. Jadi di sini Paulus mengajak untuk orang-orang di Korintus supaya membangun sukacita di dalam Kristus. Bersukacitalah dalam Tuhan. Artinya berubahlah dan kembalilah kepada jalan Tuhan dengan tidak lagi terikat pada ajaran yang sesat. Kembalilah kepada satu pengajaran yang benar karena pengajaran yang benar berarti iman itu akan bertumbuh dengan baik. Artinya ketika kita mendengarkan Firman Tuhan dengan murni dan hidup kita sungguh-sungguh mau diperbaharui oleh Tuhan maka hidup kita akan mengalami kemurnian hati, kemurnian dalam cara berpikir, dan lain-lain. Mengapa demikian? Theology akan mempengaruhi tingkah laku. Paulus ingin supaya umat Tuhan mengusahakan supaya sempurna. Tidak lagi terjebak dalam teologi yang salah dan ternoda dengan sifat-sifat kedagingan. Tetapi sehati sepikir, tidak lagi mempermalukan nama Tuhan dan Hidup dalam damai sejahtera.

2 Korintus 13:12 dikatakan “Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus.” Cium kudus pada saat itu dilakukan laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan sebagai tanda di dalam hidup mereka tidak ada perselisihan. Seperti masa sekarang yaitu berjabatan tangan itu adalah satu keindahan.

2 Korintus 13:13-14 merupakan salam dan berkat dalam Allah Tritunggal. “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (Pribadi Allah Tritunggal yang kedua) dan kasih Allah (Pribadi Allah Tritunggal yang pertama), dan persekutuan Roh Kudus (Pribadi Allah Tritunggal Ketiga), menyertai kamu sekalian.” Artinya Paulus di dalam mengakhiri segala sesuatu selalu mempunyai makna dimana nama Tuhan dipermuliakan dan umat Tuhan dikembalikan kepada satu hidup yang benar dengan cara dia melepaskan berkat dari Allah Tritunggal. Maka kasih karunia Kristus adalah tanda anugerah keselamatan untuk jemaat Korintus. Inilah kasih karunia terbesar yaitu ketika kita mendapatkan anugerah keselamatan. Kasih Allah sebagai tanda dimana Allah telah mengutus anaknya yang tunggal Yesus Kristus untuk mati bagi kita. Artinya dalam kasih Bapa kita terus berlimpah-limpah untuk memuliakan kasih-Nya. Persekutuan Roh Kudus adalah sebagai tanda penyertaan Allah kepada kita untuk nilai hidup ketaatan kita dan juga penyertaan dalam peperangan rohani sehingga Kristus yang telah mati itu boleh sungguh mencurahkan Roh-Nya kepada kita sebagai orang percaya. Seperti dalam Galatia 3:14, “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Maka ketika kita membaca Efesus 1-6, yang ke-6 akhirnya nanti ditutup dengan perilaku orang Kristen yang terus hidupnya dalam peperangan rohani. Jadi di sini jelas sekali maka Paulus begitu sangat indah, mengakhiri akan daripada suratnya dengan berkat Allah Tritunggal.

Paulus adalah pemimpin yang cerdas. Dia cerdas dalam menempatkan semua masalah sehingga dia bisa menyelesaikan konflik dan tidak menambah konfilk. Pendekatannya adalah kasih. Dia ingin memberikan kesempatan kepada jemaat Korintus bertobat, Paulus tidak mau terpancing dengan satu hidup yang disakiti, dia tidak mau terpancing dengan hidup yang dipermalukan dan diragukan kerasulannya. Diragukan nilai kejujurannya, dianggap korupsi uang maka dia tidak mau memakai bahasa emosi tetapi dia mau memakai bahasa kasih. Maka tetap jemaat Korintus dipanggil “saudara-saudara” di dalam Tuhan. Maka inilah hidup di dalam Kristus semua orang di dalam kita adalah saudara melalui tubuh Kristus. Dan berjabatan tangan sebagai tanda tidak ada menyimpan amarah kepada orang lain. Dan di dalam Kristus mari kita saling memberkati supaya hidup kita boleh nyata hidup bagi Tuhan.  

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Nilai – Nilai Kehidupan

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami