Latest Post

Meraih Keuntungan Besar yang Kekal

Categories: Renungan Harian

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (1 Timotius 6:6)

 

Dua kata dalam ayat ini yang menarik perhatian pembaca adalah: keuntungan besar. Manusia waras manakah yang tidak mau menerima keuntungan besar? Manusia pasti mau menerima bahkan mencari secara aktif keuntungan yang besar. Pertanyaan yang sangat populer, yang mungkin kita sendiri pernah tanyakan, adalah ‘bagaimana saya dapat meraih keuntungan besar, dan jika mungkin, dalam waktu yang singkat?’ Dunia menawarkan berbagai macam cara, namun pada intinya dunia mengajarkan bahwa demi mendapatkan keuntungan yang besar, seseorang harus menjadi sangat oportunis, mengambil apapun yang bisa diambil dari orang lain, meminimalisir pengeluaran meskipun itu akan merugikan pihak lain, dan menjadi pribadi yang self-centered. Namun Alkitab memberikan jawaban yang berbeda secara radikal. Ayat ini menyatakan bahwa keuntungan besar diraih melalui ‘ibadah yang disertai rasa cukup’.

 

Kesalehan Sebagai Keuntungan

Kata ‘ibadah’ dalam Alkitab Terjemahan Baru merupakan terjemahan dari kata Yunani Eusebia. Mungkin kita pernah mendengar seorang bapa Gereja bernama Eusebius. Kata Eusebia sesungguhnya berarti godliness atau piety. Dalam bahasa Indonesia kata ini dapat diartikan sebagai ‘kesalehan’. Kesalehan berarti “The genuine fear and love of God, and obedience to his will” [1], atau dalam tulisan John Calvin “True piety consists in a sincere feeling which loves God as Father as much as it fears and reverences Him as Lord, embraces His righteousness, and dreads offending Him worse than death” [2] Dalam definisi ini terdapat beberapa hal yaitu takut akan Allah, kasih kepada Allah, dan ketaatan kepada kehendak-Nya. Kata ‘keuntungan’ dalam ayat ini adalah porismos dalam bahasa Yunani. Porismos dapat diterjemahkan sebagai ‘sumber keuntungan’ atau ‘sumber penghidupan’. Jadi ayat ini dapat diterjemahkan sebagai berikut: takut akan Allah, kasih kepada Allah, dan ketaatan kepada-Nya merupakan sumber keuntungan/penghidupan bagi orang percaya.

Bagaimana mungkin kesalehan dapat memberikan keuntungan atau menjadi sumber keuntungan? Bukankah banyak orang Kristen yang setia namun tidak jarang berada dalam kondisi yang sulit? ‘Keuntungan’ dalam ayat ini merujuk kepada keuntungan surgawi, yang kekal, memberikan sukacita dan damai sejahtera, dan tidak mungkin dicuri oleh siapapun juga. Tuhan Yesus berfirman ‘kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya’ (Matius 6:20). Inilah yang seharusnya dicari oleh setiap orang percaya. Kondisi sulit yang dialami orang percaya tidaklah kekal namun dapat dipakai Tuhan untuk mengerjakan hal yang kekal di dalam hidup kita, yaitu iman kita. Tuhan memakai penderitaan sebagai sarana untuk pertumbuhan iman umat-Nya. Yakobus menulis ‘anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun’ (Yakobus 1:2-4).

 

Kecukupan Sebagai Keuntungan

Ketamakan (greed) dianggap sebagai salah satu dari tujuh dosa yang mematikan (seven deadly sins). Manusia yang tamak menginginkan dan merenggut segala sesuatu bagi dirinya sendiri namun tidak pernah merasa puas. Amsal 27:20 menyatakan “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas.” Ada yang menyatakan bahwa ketamakan bagaikan ember bocor, maka tidak mungkin bisa dipenuhi atau dipuaskan melainkan selalu berkekurangan. Dunia menyatakan bahwa seseorang harus tamak jika ingin meraup keuntungan yang besar, namun Alkitab menyatakan hal yang secara radikal berbeda, yaitu bahwa rasa cukup memberikan keuntungan. Rasa cukup ini berasal bukan dari self-suggestion (memberikan sugesti bagi diri sendiri, meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu yang dimiliki sekarang adalah cukup adanya) namun berasal dari kebergantungan kepada Allah yang selalu memelihara, mencukupkan, dan bahkan memberikan kelimpahan bagi umat-Nya. Tuhan Yesus berkata ‘jangan kuatir akan hidupmu’ (Matius 6:25) dan bahwa Bapa di sorga tahu benar apa yang anak-anak-Nya perlukan (Matius 6:32). Allah yang mahakuasa, yang tidak terbatas adanya, lebih dari sanggup memberikan segala sesuatu bagi anak-anak-Nya.

 

Inilah keuntungan besar yang disediakan Allah bagi umat-Nya. Janji-janji Tuhan begitu manis dan begitu limpah bagi orang percaya. Pemazmur menulis “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti” (Mazmur 37:25).

 

Referensi

  1. Benson Commentary, http://biblehub.com/commentaries/1_timothy/6-6.htm
  2. John Calvin: Catechism 1538, ed. and trans. Ford Lewis Battles (Pittsburgh: Pittsburgh Theological Seminary), 2.
Author: Tommy Suryadi

Bitnami