Latest Post

Dalam buku “Spiritualitas yang Membumi” (SAAT, 2009), R. Paul Stevens menulis “Kita melihat Tuhan menerangi seluruh bagian hidup seseorang – lahir, masa muda, timbulnya masa kedewasaan, meninggalkan rumah, membangun karier, menikah, menjadi orang tua, kembali ke akar, menjadi kakek-nenek, dan akhirnya mengucap selamat tinggal kepada dunia ini. Kisah Yakub membawa kita dari rahim ibu ke makam atau, lebih akurat, dari pembuahan ke kebangkitan. Ia mengungkapkan suatu spiritualitas yang membumi seperti yang didemonstrasikan dalam hidup Yesus, yang merupakan sosok yang paling manusiawi yang pernah melewati tahap sejarah. Yesus adalah tamu makan malam paling favorit di Yerusalem; Ia bergaul dengan pemungut pajak, tersentuh oleh pelacur-pelacur, pergi memancing, dan bekerja di toko kayu. Spiritualitas yang benar tidak menjadikan kita malaikat melainkan manusia sepenuhnya – seperti Yesus.”

Banyak orang Kristen salah memahami spiritualitas. Spiritualitas sering dianggap sebagai kesamaan dengan malaikat. Dari segi profesi, ada yang menganggap orang yang spiritual adalah pendeta serta para pekerja Gereja purnawaktu. Dari segi penggunaan waktu, ada yang memahami spiritualitas sebagai ‘membaca Alkitab dan berdoa berjam-jam dalam sehari’. Pengertian spiritualitas yang salah pasti membuat kita gagal meraih spiritualitas yang sejati. Pengertian spiritualitas yang salah juga membuat dikotomi yang salah antara sakral dan sekular. Kesalahan ini bisa membuat kita gagal dalam menilai diri dan orang lain secara tepat. Kita bisa merasa spiritual padahal sebenarnya tidak. Kita bisa menilai orang lain sebagai tidak/kurang spiritual padahal sesungguhnya tidak demikian. Hal penting yang kita harus ketahui adalah iman memimpin spiritualitas kita juga dalam hal sehari-hari yang terlihat sepele.

Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Korintus 10:31)

Bitnami