Latest Post

Dalam buku “Spiritualitas yang Membumi” (SAAT, 2009), R. Paul Stevens menulis “Nama Yakub dapat berarti ‘penipu’ dan ia hidup sebagai namanya. Ia curang, suka memperdaya dan agresif – bukan seseorang yang dapat memenuhi kualifikasi sebagai anggota Gereja mula-mula. Yakub adalah seorang bercacat yang tumbuh di dalam keluarga disfungsi. Ia tampaknya selalu bermasalah atau lolos dari masalah atau membuat orang lain bermasalah. Kita tidak akan membiarkan ia mengajar doa atau menjadi pengarah rohani kita dalam rangka menjadikan hidup kita terpusat pada Tuhan. Akan tetapi ia memiliki satu kualitas yang menebus dosanya yang mendominasi seluruh kisah ini – ia menginginkan Tuhan.”

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil tidak hanya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Tuhan. Relasi kita dengan Tuhan bukanlah relasi yang sebatas mekanis atau bersifat transaksi. Kita dipanggil untuk mengasihi Pribadi Tuhan. Kita dipanggil untuk berelasi dengan Tuhan secara intim. Di dalam kasih itu kita memiliki hasrat atau keinginan terhadap Tuhan. Alkitab memakai pernikahan sebagai gambaran relasi antara Kristus dengan jemaat-Nya. Apakah kita memiliki keinginan atau hasrat itu? Apakah kita mencari Tuhan dengan alasan yang lebih daripada takut akan hukuman atau kutuk?

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (Mazmur 73:25-26)

Bitnami