Latest Post

Dalam buku “Depresi: Kegelapan yang Sulit Ditaklukkan” (Momentum, 2010), Edward T. Welch menulis “Jika Yesus Kristus belajar ketaatan dan ketabahan melalui apa yang diderita-Nya, mengapa kita berharap hidup kita akan berbeda? Melalui pergumulan-pergumulan dan rasa sakit, kita sedang diberikan ketekunan, karakter Allah. Kesulitan-kesulitan dimaksudkan untuk memberikan kita sebuah perubahan rohani, ‘supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya’ (Ibr. 12:10). Oleh karena itu, ketika Allah mendorong kita untuk bertekun, Dia tidak sekadar basa-basi. Dia sedang mengajar kita bagaimana menjadi serupa dengan Dia.”

Ketekunan dan penderitaan tidak bisa dipisahkan. Jika kita memang ingin menjadi orang yang lebih tekun, maka kita tidak bisa berharap bahwa penderitaan akan menjauh dari kita. Tuhan memakai penderitaan untuk mendewasakan umat-Nya. Ketika penderitaan itu datang, kita harus memilih untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan dan bukan lari mencari kenyamanan daging. Jika tidak, maka kita tidak akan diproses menjadi orang yang lebih tekun.

…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (Roma 5:3)

Bitnami