Latest Post

Melihat Rencana Allah di balik Kekurangan Diri

Categories: Renungan Harian

Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? (Yohanes 9:2)

Banyak orang Kristen berpikir bahwa suatu penderitaan pasti terjadi karena dosa tertentu. Alkitab memang menyatakan bahwa ada orang-orang yang menderita karena melakukan dosa tertentu. Namun Ini bukan berarti bahwa semua penderitaan muncul dari dosa tertentu. Rasul Yohanes menceritakan kisah tentang orang yang buta sejak lahirnya untuk menegaskan bahwa penderitaan tertentu bisa terjadi demi penggenapan rencana Allah. Yesus mengatakan ‘pekerjaan-pekerjaan Allah’. Ini berarti orang buta tersebut tidak hanya akan menggenapkan satu pekerjaan Allah melainkan lebih dari itu.

Mata merupakan organ yang sangat penting dan sangat sering dipakai di dalam kehidupan seorang manusia yang normal. Hampir seluruh aktivitas manusia memerlukan mata untuk dapat dilakukan kecuali dalam mendengarkan musik, tidur, dan beberapa hal lainnya. Orang yang buta sejak lahirnya itu dikatakan selalu mengemis karena saat itu tidak ada pekerjaan bagi orang buta. Posisi yang paling rendah saat itu pun, yaitu posisi budak, memerlukan mata. Orang itu hanya bisa mengemis. Dapatkah Allah memakai orang yang keadaannya menyedihkan seperti ini? Alkitab menyatakan bahwa Allah bisa menggenapkan rencana-Nya dengan menggunakan alat yang paling remeh sekalipun.

Para murid melihat orang buta itu dan langsung bertanya “siapa yang berbuat dosa?” Para murid memiliki pola pikir mencari kesalahan terlebih dahulu. Ini adalah pola pikir yang berbahaya karena hanya akan mencondongkan diri kepada semangat penghakiman. Kriteria benar atau salah itu penting dan Alkitab banyak berbicara tentang kebenaran (righteousness) namun di sini Yesus memberikan perspektif yang berbeda. Yesus melihat rencana Allah bagi orang buta itu.

Seringkali ketika seorang Kristen mengalami penderitaan atau memandang kekurangan dirinya, ia bertanya “salah apakah aku sehingga harus mengalami ini? Jika bukan aku, salah siapakah ini? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini?” Pertanyaan pertama yang seharusnya ia tanya adalah “Tuhan, apa rencana-Mu? Apa kehendak-Mu bagiku di dalam situasi ini?” Ketika seorang Kristen hanya bisa memandang suatu kekurangan atau penderitaan sebagai suatu kesalahan tanpa bisa melihat Tuhan yang berencana, maka ia akan selalu menjadi orang yang mencari kesalahan dan sulit melihat pengharapan (pesimis).

Author: Tommy Suryadi

Bitnami