Latest Post

Melihat kepada Tuhan yang Baik dan Menyukakan hati

Categories: Renungan Harian

Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN! Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.┬áDengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. (Mazmur 4:7-9)

 

Dalam mazmur-mazmur Daud, kita dapat belajar tidak hanya bagaimana cara berdoa tetapi juga iman yang benar. Kita juga dapat mempelajari tentang siapa diri Tuhan dan apa yang dikerjakan-Nya bagi kita. Mazmur-mazmurnya juga mencerminkan kualitas relasi Daud dengan Tuhan – suatu hal yang sepatutnya kita perhatikan dengan seksama. Bagaimana kita memandang Tuhan akan berdampak pada bagaimana kita menyikapi masalah dan menilai segala sesuatu. Dalam Mazmur 4:7-9 kita dapat mempelajari pengakuan iman Daud berdasarkan pengenalannya akan Tuhan dan bagaimana itu memengaruhi Daud dalam ia menyikapi situasi yang ada.

Ayat ketujuh dimulai dengan “banyak orang berkata.” Dalam iklan-iklan produk tertentu terdapat kalimat “produk ini sudah dipilih dan dibeli oleh jutaaan orang. Jutaan orang tidak mungkin salah.” Sistem musyawarah menuntut agar suara mayoritas didengarkan. Suara mayoritas merupakan kuasa yang menggerakan manusia. Mengikuti suara mayoritas adalah semudah berenang mengikuti arus. Ketika memilih tempat makan, tempat yang ramai-lah yang cenderung dipilih karena dianggap “banyak orang menyukai tempat itu.” Ketika berada di dalam kebingungan, seseorang cenderung memilih apa yang sebagian besar orang telah pilih.

Namun apakah mayoritas selalu benar? Apakah benar bahwa mayoritas selalu membuat pilihan yang terbaik? Sejarah membuktikan bahwa jawabannya adalah ‘tidak’. Saat komunisme menjadi populer, banyak negara merasa optimis dan mengadopsi komunisme. Namun mereka baru sadar bahwa mereka telah salah memilih ketika dampak-dampak negatif komunisme telah muncul. Dalam Mazmur 4:7 dinyatakan bahwa ada banyak orang yang merasa ragu akan melihat kebaikan. Namun Daud tidak ikut ragu bersama dengan mereka. Meskipun ada banyak orang yang meragukan Tuhan, Daud tetap bersandar pada Tuhan. Ia menyadari bahwa Tuhan adalah sumber kebaikan. Tuhan-lah yang sanggup memperlihatkan yang baik, bahkan yang terbaik, dengan begitu limpahnya. Dari cahaya wajah-Nya, umat-Nya dapat melihat kebaikan-Nya. Relasi yang dekat dengan Tuhan memungkinkan kita untuk melihat kebaikan-Nya dengan begitu jelas.

Tuhan juga adalah sumber sukacita. Sukacita yang diberikan-Nya memiliki kualitas yang melebihi kualitas makanan, minuman, atau materi yang terbaik di dunia. Daud menyatakan bahwa sukacita dari Tuhan melebihi sukacita karena kelimpahan gandum dan anggur. Kelimpahan gandum berarti bangsa Israel tidak perlu takut akan kelaparan dan kemiskinan. Ini menjadi jaminan bagi hidup mereka ke depannya. Kelimpahan anggur berarti mereka tidak akan kekurangan minuman yang menyukakan hati. Anggur sangat sering dipakai di Israel dalam acara-acara sukacita seperti pernikahan. Anggur juga merupakan minuman para bangsawan. Sampai saat ini pun minuman anggur tetap menjadi salah satu minuman terfavorit di dunia. Namun Daud menyatakan dengan jelas: sukacita dari Tuhan lebih besar daripada sukacita dari kelimpahan gandum dan anggur.

Tuhan juga adalah sumber keamanan bagi Daud. Ia bisa tidur dengan tenteram dan tenang di tengah segala masalah karena ia beriman kepada Tuhan. Tidur merupakan sebuah langkah iman dalam konteks ini. Ia bisa tenang berdiam karena Allah besertanya. Ia tidak perlu sibuk mencari keamanan dan jaminan yang pasti di dunia, misalnya harta, reputasi, dan jabatan, karena ia sudah mengenal Tuhan yang ia sembah dan karena kedekatan relasinya dengan Allah.

Author: Tommy Suryadi

Bitnami