Latest Post

Mata Hati yang Terang

Pdt. Tumpal Hutahaean

 

Efesus 1:18-21 “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.  Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” Di sini kita melihat dari ayat 18 dikatakan dan supaya Ia menjadikan mata hati kita terang. Mengapa mata hati kita harus terang? (1) Agar kita mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilannya untuk hidup kita. Jadi selama ini kita harus mengerti pengharapan di dalam nilai keselamatan kita. Jadi bukan pengharapan di dalam satu nilai yang mengandung nilai bersifat fisikal atau materi tetapi mengandung nilai suatu spiritual. (2) Supaya kita mengerti betapa kayanya kemuliaan yang ditentukan bagi kita orang-orang Kudus. (3) Jika mata hati kita terang maka kita akan mengetahui betapa hebat kuasa-Nya.

Matius 6:22-23; 5:16 dalam ayat ini mengatakan bahwa Tuhan Yesus berkata “mata adalah pelita tubuh”. Jikalau dikatakan mata kita baik maka teranglah seluruh tubuh kita, jika mata kita jahat maka gelaplah seluruh tubuh kita. Di sini Tuhan Yesus ingin menjelaskan kepada kita kenapa ada orang tidak bisa cerdas di dalam melihat hidup ini berkaitan dengan satu pengharapan. Mengapa masih ada orang yang masih mengharapkan hidupnya seolah-olah dia akan mendapatkan satu kebahagiaan, sukacita, dan kebenaran jikalau banyak harta? Inilah konteks Matius 6. Maka orang yang terikat dengan gemerlapnya harta dunia dan menolak terikat dengan terangnya harta rohani, orang itu menganggap bahwa seluruh harta dunia itulah terang hidupnya. Tuhan mengatakan orang itu matanya buta, karena jiwanya dan hatinya dikuasai oleh materi yang menjadi nilai terangnya. Begitu banyak orang yang memiliki kekayaan luar biasa tetapi hidupnya tidak bahagia. Begitu banyak orang  memiliki fasilitas tetapi keluarganya kacau. Apa yang kurang ? Kurang terang Firman yang menggarap mata hati kita.

Di sini Paulus berdoa supaya jemaat di Efesus boleh sungguh mendapatkan hikmat spiritualitas yang akan membuat mata hati kita terang. Firman Tuhan menjelaskan kepada kita yang disebut mata hati menjelaskan tentang keberadaan manusia secara utuh berkaitan dengan sikap batin, afeksi, rasa, sikap dan pikiran. Hati itu seperti sumber air hidup kita. Jadi pada waktu air hidup kita itu adalah jernih maka yang keluar adalah juga jernih. Tetapi jikalau kita pakai selang yang begitu bersih tetapi kalau sumbernya ternyata kotor maka ketika dia memancar keluar juga kotor. Maka karena itulah Paulus berdoa supaya kita memiliki hati yang terang seperti mata jiwa yang harus terus terang dan terang terus. Waktu kita akan menjadi terang sumber terang kita adalah Firman yang kekal yang energinya tidak mungkin habis. Kita harus mengerti bagaimana mata hati kita selalu harus terbuka dalam kondisi apapun juga supaya kita dapat memahami kebenaran ilahi. Alkitab mengatakan mata hati harus terang dalam kondisi apapun juga supaya di dalam situasi yang sulit kita tetap memahami kebenaran ilahi.

Pertama, Di dalam jaman hakim-hakim yaitu 100-200 tahun ketika Yosua ada di Kanaan,  terang Tuhan hadir. Setelah Alkitab mengatakan Yosua meninggal umat Tuhan melakukan sesuatu yang melawan Tuhan selama 400 tahun lamanya. Maka Tuhan mengirim hakim-hakim. Pada waktu hakim-hakim dikirim mereka hidupnya terang dan ketika hakim-hakim mati maka hidup mereka menjadi gelap. Seluruh kitab hakim-hakim menyatakan gelapnya dosa manusia dan terangnya penyertaan Tuhan.

Kedua, sebelum memasuki zaman perjanjian baru maka Tuhan harus membuat lagi 400 tahun lamanya tidak ada raja, tidak ada imam, dan tidak ada nabi dari Tuhan itu disebut zaman Inter-testamental. Zaman inilah yang paling berat ketika ada Antiokhus Epiphanes ke-4 mempermalukan seluruh bait Allah dan mengubah bait Allah menjadi tempat ibadah dari orang Athena. Kira-kira tahun 174 bait Allah dikotori dan diganti menjadi tempat penyembahan dewa-dewa Athena. Tahun itu Tuhan membangkitkan satu orang yang sungguh-sungguh luar biasa namanya Matius Makabe (Yudas Makabe). Yudas Makabe akhirnya dibangkitkan oleh Tuhan melawan daripada seluruh tentara Antekoius kemudian dikalahkan. Di dalam sejarah dicatat Yudas Makabe butuh tiga tahun membersihkan bait Allah dari perkakas-perkakas dan dari semua simbol-simbol Yunani. Jikalau hidup kita main-main terus dengan Tuhan, mata hati kita terus gelap maka Tuhan meninggalkan kita di situlah kekacauan hidup terjadi. Kita rindu dalam kondisi apapun hidup kita terus diterangi oleh hikmat spiritualitas dari Roh Kudus supaya kita bisa membaca apa yang terjadi di luar dengan jelas dan mengerti solusinya dengan jelas.

Mungkinkah orang Kristen hanya mengerti Firman Tuhan yang hanya pengetahuan saja? Mungkinkah sebaliknya ada orang Kristen tidak begitu tahu banyak Firman tetapi dia memiliki banyak pengalaman rohani bersama dengan Tuhan? Apa akibatnya jikalau ada orang Kristen punya pengetahuan tetapi tidak pernah mengalami pengalaman rohani? Dan apa jadinya jikalau begitu banyak pengalaman-pengalaman tetapi tidak banyak pengetahuan tentang Firman Tuhan? Di sinilah kita melihat Tuhan mau pada waktu kita mengerti Allah itu hidup maka buktikanlah dalam pengalaman pada waktu kita mengalami kesulitan dan penderitaan. Di dalam PA Wahyu hari jumat lalu, kita membahas Tuhan akanmengirim dua saksi untuk bernubuat dan berkabung bersamaan. Dua saksi itu menyampaikan satu berita tentang Yesus dan mengajak orang-orang Yahudi supaya percaya kepada Yesus tetapi diikuti dengan berkabung karena di dalam nubuat itu akan dinyatakan bahwa orang yang Yahudi sangat banyak tidak percaya dan banyak diantara mereka tahun 70 dihancurkan oleh Jendral Titus selama tiga tahun. Tetapi saat itu murid-murid Tuhan tidak boleh meninggalkan Yerusalem dan dinyatakan selama tiga setengah tahun untuk mereka terus setia memberitakan Firman dan tidak boleh meninggalkan Yerusalem sampai waktunya Tuhan tiba menghancurkan Yerusalem. Ahli-ahli taurat yang di Yerusalem sudah mendengar injil tetap tidak bertobat. Mereka ahli-ahli yang punya pengetahuan tetapi mereka kehilangan kepekaan sehingga mereka tidak mengalami peristiwa keselamatan dari Yesus Kristus. Kita harus percaya kalau Allah kita adalah yang Allah yang hidup buktikan dalam situasi apapun juga. Waktu Musa mellihat diri dan dia tidak percaya Tuhan, Tuhan tidak akan menyatakan kuasa. Maka Tuhan bicara bahwa yang mencipta lidah manusia adalah Tuhan, saat itu Musa mengatakan taat kemudian dia langsung diubah pandai bicara. Sama seperti Yosua, dia mendapatkan tongkat estafet memimpin umat Tuhan menuju dari tanah Kanaan. Walaupun Yosua benar menjadi orang kepercayaan Musa untuk berperang, pada waktu dia dipercaya menjadi pemimpin tetap dia kuatir. Maka Tuhan berkata kepada Yosua “di mana kakimu melangkah di situlah tempat itu kuberikan kepadamu, asal engkau taat kepada-Ku renungkanlah Firman Tuhan siang dan malam Aku akan menyertaimu.” Tuhan juga berkata “Yosua, Aku sekali-sekali tidak pernah meninggalkan engkau dan Aku sekali-sekali tidak pernah membiarkan engkau.”

Saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan, di situlah kita melihat bagaimana seharusnya pengetahuan kita tentang Tuhan harusnya pernah kita alami. Bayangkan kalau ada orang yang tidak punya pengetahuan akhirnya punya pengalaman salah dan sharing kepada teman-teman di gereja  jadi menyesatkan orang. Tidak semua pengalaman datang dari Tuhan. Mungkinkah pengalaman kita yang seolah-olah rohani sebenarnya datangnya dari setan? Mungkin. Tetapi gereja itu gereja yang mementingkan pengalaman rohani tetapi tidak pernah mementingkan pengetahuan rohani, maka kita harusnya seimbang pengetahuan rohani harus kita buktikan kalau kita juga punya pengalaman rohani. Pengalaman rohani akan membawa kepada satu titik kesadaran semua karena anugerah, pengetahuan rohani membawa kepada satu titik semua mengarah kepada salib.

Di dalam konteks ini Paulus berdoa supaya jemaat di Efesus mengerti tentang apa daripada mata hati yang terang: (1) Pengharapan yang terkandung dalam panggilan kita. Kapan kita bisa disebut pengikut Kristus? Kita percaya kapan kita menjadi orang Kristen yaitu pada saat kita mendapat panggilan daripada keselamatan kita. (2) Supaya mereka mengerti betapa kayanya kemuliaan warisan-Nya kepada orang-orang Kudus, dan (3) Betapa hebatnya kuasa Allah. Bukan karena kelahiran tetapi karena nilai pengalaman kita. Jadi untuk apa kita dipanggil dan bagaimana kita tahu kalau kita sudah dipanggil? Apa tujuan panggilan dari keselamatan kita? Roma 8:30 “Dan mereka yang ditentukannya dari semula mereka juga itu dipanggilnya, mereka yang dipanggilnya, dan mereka juga yang dibenarkannya, dan mereka ynag dibenarkannya mereka itu juga dimuliakannya.” Kita akan diberikan satu mata hati yang terang untuk kita mengerti tentang panggilan kita yang mengandung satu pengharapan ternyata di sini dikatakan kita yang dipanggil dan kita yang dibenarkan, kita akan dimuliakan. Berarti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan?

Pertama, pengharapan menjadi orang benar. Pengharapan kitamenjadi anak-anak Allah dan menjadi miliki Kristus dan anggota tubuh Kristus.

Kedua, pengharapan sebagai anak-anak Allah dimana kita hidup punya kuasa mengalahkan dosa. Bagaimana kita tahu sebagai milik Kristus? yaitu kita selalu disertai oleh Kritus dan tidak ada penguasa manapun juga yang akan bisa merebut kita dari tangan Kristus. Setelah kita mengalami union with Christ maka kita akan mengalami Unity in Christ. Jadi orang Kristen selalu punya pengharapan kalau sudah menjadi anak-anak Allah maka kita sudah menjadi milik Kristus dan kita selalu ada dalam persekutuan di dalam anak-anak Allah.

Ketiga, pengharapan supaya kita menjadi orang Kudus. Roma 1:7 & 1 Korintus 1:2 kembali menjelaskan bahwa orang Kristen senjati mengharapkan menjadi orang yang benar yang selalu terlibat dalam persekutuan di dalam ikatan tubuh Kristus supaya menjadi Kudus. Allah memilih kita dengan panggilan yang kudus itu yang disebut Ekklesia, panggilan kudus kita adalah dikeluarkan dari tempat orang berdosa masuk ke dalam tempat kesucian Tuhan. Panggilan Tuhan adalah mengubah status kita yang tadinya tidak benar menjadi dibenarkan di dalam Kristus. Itu yang disebut effectual calling bagaimana pada waktu Tuhan memanggil kita, kita tidak mungkin menolak. Artinya Tuhan pertama memilih kita. Kemudian kita taat terhadap panggilan tersebut. Tuhan sudah menanamkan satu benih iman. Dan benih iman ini kemudian bertemu dengan Firman Tuhan. Dan kita diberikan satu hikmat spiritualitas maka terang daripada hati kita akan memampukan kita untuk menggenapi panggilan ketaatan kita oleh pertolongan Roh Kudus. Artinya setiap orang Kristen pasti memiliki ketaatan. Maka ketika hidup kita tidak taat akan panggilan Tuhan untuk hidup suci untuk menyatakan kita anak Allah. Waktu Samuel dipanggil seperti tidak jelas tetapi akhirnya dia tahu jelas bahwa yang memanggil adalah Allah. Panggilan Tuhan terkadang melampaui akal dan pikiran kita dan panggilan Tuhan terkadang sebagai bentuk nilai pembentukan nilai hati kita. Panggilan Tuhan pasti akan mendatangkan ketaatan bagi kita, kalau kita tidak taat kita akan dipukul karena panggilan Tuhan bersifat kudus. Kalau kita dipanggil bersifat kudus, kita bersyukur. Maka 1 Petrus 1:16 mengatakan “Kuduslah kamu sebab Allah itu kudus”. Di dalam surat Petrus mengajarkan di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan apapun juga nyatakan tetap kekudusan hidup kita karena Tuhan adalah Kudus.

Keempat, pengharapan supaya kita hidup dalam kemerdekaan iman tidak boleh lagi terikat dengan isme-isme daripada dunia ini.

Kelima, supaya kita menikmati perdamaian daripada Kristus sebagai bukti kita dipanggil dalam satu tubuh Kristus. Artinya manusia di luar Kristus bisa menyimpan kebencian. Kita yang sudah diperdamaikan dalam Kristus mengalami damai dengan Tuhan dan damai dengan diri kita maka kita tidak akan membenci diri dan kita tidak akan protes terhadap diri dan kita akan damai dengan orang lain. Jadi di manapun kita berada kita harus damai.

Keenam, supaya kita hidup dalam kerajaan-Nya dan kemulian-Nya. Menjadi orang Kristen kita akan mengalami dengan penderitaan dengan nilai kerajaan dan kemuliaan-Nya.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

 

Mata Hati yang Terang

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami