Latest Post

KUBUR KOSONG

Categories: Uncategorized

Di dalam lukas 24, tercatat dengan detail semua peristiwa demi peristiwa, semua gejolak emosi yang berkaitan dengan kubur kosong. Jika ditanya: Pernahkah dalam hidup ini kita merayakan satu nilai dimana hidup kita boleh merasakan suatu kesedihan, tetapi merayakan sukacita? Alkitab mencatat satu realita dimana kematian Kristus akhirnya mendatangkan satu perayaan yang besar. Di dalam bagian ini kita mempelajari tiga hal.

Pertama, realita kubur kosong menyatakan satu realita yang menyakitkan. Mengapa realita yang menyakitkan? Butuh tiga hari murid-murid dalam keadaan takut, mengunci pintu, dalam keadaan kuatir menjadi korban selanjutnya atau dibunuh oleh tentara-tentara Romawi/orang-orang Yahudi pada saat itu. Realita yang menyakitkan karena Tuhan yang sudah menjadi sandaran hidup mereka harus tidak ada di sisi mereka. Realita menyakitkan karena seolah-olah kebenaran dikalahkan oleh kekuatan politik, dikalahkan oleh kekuatan agamawi pada saat itu, kalah dengan kekuatan militer, kalah dengan gerakan-gerakan pencemooh. Siapakah diantara mereka yang sungguh sungguh memiliki keberanian untuk menerima realita itu? Siapakah yang lari dari realita itu? Kita menyaksikan para wanita: Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yohana, mereka pagi-pagi benar, jam 3 pagi mereka datang untuk mengunjungi makan Yesus. Saat itulah mereka melihat akan batu yang sudah dipindahkan dan timbullah kekuatiran, dimanakah jenazah Guruku? Dimanakah Dia? Saat kekuatiran itu tiba dalam suasana yang mencekam itulah mereka mendengar ada dua orang malaikat yang berkata: “Siapakah yang engkau cari, hai ibu?” Di situ kita melihat ada percakapan yang dikatakan oleh malaikat: “Dia telah hidup, Dia telah bangkit. Bukankah Dia pernah mengajarkan kepada engkau di Galilea bahwa Tuhan akan diserahkan kepada penjahat, Tuhan akan disiksa, Tuhan akan menderita, Tuhan akan mati dan Tuhan akan bangkit pada hari ketiga? Di situlah kita melihat reatreat tiga hari puncaknya adalah sebuah kelas di goa kuburan Yesus. Banyak diantara kita begitu dikasihi Tuhan. Tuhan tidak rela jika kita merasakan keputusasaan tanpa nilai kebenaran, Tuhan tidak rela jikalau kita merasakan hidup kita seperti dibuang tetapi realitanya hidup kita sedang diajar, Tuhan tidak rela jikalau kita mengalami kesedihan yang terlalu dalam tanpa melihat Tuhan adalah pemegang seluruh realita kehidupan kita.

Di dalam bagian inilah saudara mari kita melihat pengajaran langsung dari Tuhan Yesus. Ini mengajarkan kepada kita peristiwa kubur kosong adalah peristiwa konfirmasi hal yamg sakit dari pada dirimu, hal yang menyedihkan dari dirimu, harus berubah di dalam kepastian Kristus yang hidup. Jikalau kita menghadapi pergumulan demi pergumulan, kesakitan demi kesakitan, dan kita tidak melihat Tuhan itu hidup, maka kita akan hancur di dalam kesedihan kita yang tanpa nilai itu. Kita akan rusak karena kita begitu menyiksa diri tanpa melihat realita Tuhan hidup untuk menghidupkan dan meraih satu kemenangan bersama Dia. Di sinilah kita melihat perlu turut campur dari kehadiran Kristus. Ada perubahan cara pandang bahwa Dia adalah Allah yang menguasai kehidupan. Dia bangkit membuktikan bahwa maut tidak bisa mengunci Dia, dan alam maut tidak bisa melihat dia.

Ada banyak orang masih ragu dan pesimis, ketika Maria Magdalena, Yohana, Maria Ibu Yakobus memberi tahu kepada murid-murid seluruh peristiwa itu. Hal ini mengajarkan kepada kita bagaimana kita melihat satu realita yang benar-benar menyakitkan berubah menjadi realita yang punya satu nilai kepastian. Ada proses. Para muridpun dikatakan mereka tidak langsung. Merekapun butuh butuh proses. Di dalam proses, itu butuh iman. Ini yang kedua, realita keimanan. Malaikat-malaikat mengkonfirmasi seluruh yang dikatakan Tuhan bahwa dia akan bangkit pada hari yang ketiga. Satu kebenaran jikalau tidak disingkap dengan iman, mungkin kacamata kita akan menjadi kacamata prejudice. Mungkin kita akan berpikir: Yesus tidak bangkit, mayatnya telah diculik, mayatnya sudah diambil oleh orang lain. Dari aspek medis mengatakan Yesus tidak bangkit dari kematian, Dia hanya mati suri, dan bukan sungguh-sungguh mati. Alkitab mengatakan realita kebenaran, Dia sungguh-sungguh bangkit pada hari yang ketiga. Di dalam realita itu kita melihat kebenaran: Tidak ada gerhana selama 3 jam, tidak ada peristiwa Gempa yang mengakibatkan Bait Allah yang dibangun oleh Herodes tirainya harus terbelah. 3 jam kegelapan menjadi ekpresi kesedihan Allah atas ketidakpercayaan manusia kepada Kritus yang adalah Mesias dan Juruselamat. Kesedihan Tuhan akhirnya ditandakan dengan satu peristiwa setelah itu. Tuhan Yesus berteriak: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”Di dalam doa pertama Yesus memanggil Allah Bapa. Setelah itu diakhiri dengan menyebut nama Bapa, “Bapa kuserahkan seluruh nyawaku kepadaMu”. Pada saat itulah peristiwa penebusan terjadi, maka di dalam peristiwa itu ditandai dengan Bait Allah harus mengalami satu pembaharuan, yaitu tidak ada lagi yang disebut ruang suci, dan ruang mahasuci. Mengapa demikian? Karena Dia telah mati dan Dia membuktikan Dia bangkit. Artinya Tuhan akan menjadi Raja gereja, Dia akan menjadi Imam diatas segala imam, Dia Nabi di atas segala  nabi.

Kita mendengar Firman Tuhan butuh proses untuk menghasilkan keimanan. Di dalam  bagian inilah Tuhan Yesus menampakkan kepada wanita pada saat itu, dan menampakkan diri lagi kepada orang-orang di Emaus. Tuhan ada di kelompok itu dan mereka baru sadar ketika Yesus mengadakan perjamuan. Mata mereka terbuka dan melihat siapa Yesus. Setelah itu Tuhan Yesus menghilang. Kemudian Tuhan Yesus menampakkan diri kepada kesebelas murid dalam keadaan rumah dikunci. Yesus berkata: “Damai beserta dengan engkau”. Di sinilah kita melihat konfirmasi demi konfirmasi, perbedaan konteks dengan konteks, yang mengajarkan kepada kita kubur kosong harus kita terima dengan iman. Kubur kosong harus membangkitkan iman kita bahwa Yesus tidak kalah dengan kematian. Yesus tidak ditelan oleh maut sebaliknya dia mengalahkan akan maut itu. Maka apapun peristiwa yang kita hadapi, yang menyakitkan, realitanya tidak engkau inginkan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan barang yang kita senangi, jangan lupa ada kebenaran, ada iman. Segala sesuatu lihat dari kacamata iman. Pakailah kacamata dari keimananmu sehingga kita tidak salah bersikap. Thomas salah bersikap dengan katakan: “Aku tidak percaya jikalau aku belum melihat dengan mata kepalaku sendiri”. Mengapa demikian?  Karena Thomas tidak melihat semua itu dengan iman. Maka Tuhan berkata setelah Dia memberikan konfirmasi konfirmasi kepada Thomas: “Berbahagialah kita yang tidak melihat namun percaya.” Maka bukalah telingamu pada waktu engkau membaca Firman Tuhan, renungkan Firman itu dan resapi. Biarlah firman membelah pada setiap kehidupanmu jikalau kehidupanmu ada yang gelap, jikalau kehidupan mu ada yang kotor, biarlah Firman itu akan membongkar itu semua. Di sanalah iman kita bertumbuh. Iman yang mampu menghadapi ketakutan demi ketakutan dan iman akan menghadapi realita dalam satu milai optimis bahwa didalam Tuhan aku bisa melakukan segala sesuatu.

Ketiga, dari realita yang menyakitkan menjadi satu realita keimanan, kemudian realita yang siap diutus. Tuhan hadir dua kali kepada murid-murid. Murid-murid pada saat itu dalam keadaan pintu dikunci Tuhan menerobosi ruang dan waktu, membuktikan Dia hidup. Pada waktu Dia membangun realita komitmen dan pengutusan, Tuhan hadir lagi di danau Tiberias. Saat itu murid-murid tidak mengerti. Setelah Tuhan hadir, Tuhan menanyakan makanan kepada murid- murid-Nya, lalu merekapun menjawab tidak ada ikan dan kapal mereka juga di tepi pantai. Tuhan berkata: “Tebarkanlah jalamu”, dan beberapa saat kemudian mereka tahu jala mereka dipenuhi oleh ikan. Pada saat itulah mereka baru sadar siapa yang dihadapan mereka, yaitu Tuhan Yesus. Kenapa Tuhan Yesus harus hadir 2 kali untuk murid-murid-Nya? Karena murid- murid tidak mengerti realita kebangkitan harus menghasilkan komitmen yang baru dan harus menghasilkan hidup dalam pengutusan Tuhan. Atas dasar realita ini, kita tidak boleh lagi hidup di dalam ketakutan kubur kosong. Kubur kosong menandakan Tuhan hidup, Tuhan adalah Raja di atas segala Raja. Dia membuktikan bahwa Dia sudah bangkit dan kebangkitan-Nya menyatakan bahwa dia adalah Tuhan yang sejati, dan Tuhan yang sejati itulah yang mengutus murid-murid-Nya untuk hidup penuh dengan komitmen. Karena melalui Paskah, menyatakan kita menang atas kematian. Jika kita tidak takut dengan kematian maka yang kita harus lakukan adalah isi hidupmu.

Setiap kita akan mati, setiap kita akan bangkit bersama dengan Tuhan tetapi dalam seluruh periode waktu mari kita mengisi hidup ini dengan sesuatu yang berarti. Jangan kosong, harus punya komitmen, jangan tanpa arah, harus punya fokus, jangan mengandalkan manusia, harus siap diutus bersama dengan Tuhan. Kaitkanlah seluruh realita studimu, realita kerjamu, realita usahamu, realita dari seluruh keluargamu, dikaitkan dengan kita sedang diutus Tuhan untuk mendemonstrasian Tuhan hidup di dalam seluruh kehidupan kita. Alkitab mencatat kematian bisa jauh lebih baik dari pada nilai kelahiran. Kematian di dalam Kristus lebih mahal dari pada minyak, lebih mahal dari pada tahtamu, lebih mahal dari pada emasmu, karena kematian orang percaya adalah kematian untuk hidup memuliakan nama Tuhan.

Marilah kita boleh sungguh melalui paskah ini dengan menyadari bahwa kubur kosong adalah sebuah realita yang menyakitkan, tetapi telah berubah menjadi realita untuk kita hidup pasti di dalam Tuhan. Realita kebenaran harus kita sikapi dengan realita keimanan dan realita kebangkitan harus kita sikapi dengan realita komitmen untuk kita siap diutus bagi Tuhan. Waspadalah pada setan yang akan menjatuhkan kehidupan kita melalui sikap dan perilaku kita, dalam pekerjaan dan dalam relasi dengan siapapun. Sehingga akhirnya bukan Tuhan yang dipermuliakan tetapi Tuhan malah dipermalukan. Jangan tidur dalam kebodohan, jangan tidur dalam kemalasan, jangan tidur dalam pembenaran diri, jangan tidur dalam sikap yang tidak mengutamakan Tuhan. Kita harus bangkit karena kubur kosong berarti Tuhan hidup di dalam keseluruhan hidup kita. Amin.

Tuhan memberkati.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah –YFS)

 

 

Author: gracelia Christanti

Bitnami