Latest Post

Keunikan Kepemimpinan Kristus

Categories: PA Khusus

Pdt. Tumpal H. Hutahaean

Tidak mudah mencari buku leadership yang ditulis oleh teolog reformed. Yang cukup mewakili adalah buku John Stott berjudul Basic Christian leadership. Buku itu mengarahkan bagaimana model kepemimpinan di gereja dan bagaiamana pelayanan rohani. Apa itu kepemimpinan? Dan apakah setiap kita mempunyai bakat menjadi pemimpin? Dari mana sumber bakat seorang pemimpin? Apakah menjadi pemimpin berarti tidak mau kalah dan orang yang dipimpin adalah orang yang selalu mengalah?

Apa substansi pemimpin?

Kepemimpinan tentang bagaimana visi kita mempengaruhi orang lain untuk bergerak mencapai tujuan yang sama. Contoh Nehemia yang mempunyai visi yang mempengaruhi orang lain untuk bergerak bersama. Kalau kita menyampaikan visi tapi orang lain tidak terpengaruh berarti kita tidak mempunyai bakat pemimpin. Kepemimpinan rohani berbeda dengan kepemimpinan dunia. Kepemimpinan rohani itu non-profit, sedangkan kepemimpinan dunia itu profit. Orang kristen seharusnya menjalankan kepemimpinan rohani dalam kehidupan sehari-hari di dunia. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk “carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Dalam hal ini, profit ada namun bukan hal utama. Ketika mengikut Kristus maka kita menjadi cerdas dalam menjalani hidup. Orang kristen didorong untuk mendapatkan profit namun tidak mengutamakan profit. Keuntungan usaha atau kerja kita harus dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan dan perkembangan pekerjaan Tuhan.

Kita perlu memikirkan dan menjalankan panggilan kita sebagai pemimpin. Setiap orang kristen dipanggil menjadi pemimpin minimal pemimpin diri sendiri, keluarga, dan ruang lingkup yang lebih luas lagi. Apakah pemimpin yang berhasil berarti dalam jangka waktu yang lama? Tidak. Pemimpin berhasil bukan tentang kuantitas berlama menjadi pemimpin tapi kualitas yang memengaruhi banyak orang. Banyak orang tergila-gila ikut seminar Jack Ma tapi tidak mau ikut seminar kristen. Jika kita mengikuti seminar kepemimpinan dengar membayar harga begitu mahal tapi pengaruhnya tidak terkait dengan ajaran kebenaran Tuhan Yesus Kristus maka itu suatu kebodohan. Banyak orang mau popular dengan pendekatan fenomenal tapi tidak sadar dipakai setan.

Darimana seseorang mempunyai bakat pemimpin: dilahirkan, dididik, atau kondisi lingkungan? Ketiganya merupakan faktor yang menumbuhkan bakat kepemimpinan seseorang. Ada pemimpin yang “instan” namun banyak yang melewati proses waktu relatif panjang.

I. Supremasi kepemimpinan Tuhan Yesus

Supremasi kepemimpinan Tuhan Yesus tidak dapat dibandingkan dengan pemimpin agama mana pun.

  1. Yesus adalah pemimpinan utama dalam alkitab. Ia adalah pusat dan standar kepemimpinan. Pusat kekristenan adalah Kristus. Saat Kristus hadir ke dunia, Ia berfokus pada tubuh Kristus (umat-Nya). Kekristenan tanpa Kristus akan kehilangan identitas sejatinya.
  2. Tidak pemimpin dunia ini yang dapat menandingi kepemimpinan Yesus. Sebelum Tuhan Yesus hadir ke dunia, sudah ada nubuatan 4 zaman sebelumnya. Ini menyatakan bahwa kehadiran Yesus menjadi standar kepemimpinan yang benar. Ia adalah Raja di atas segala raja namun Ia mengosongkan diri-Nya sampai titik terendah. Tuhan dalam kedaulatan-Nya menetapkan Kristus lahir dalam keluarga sederhana yaitu Yunus dan Maria di tempat yang hina yaitu kandang binatang. Sedangkan kita seringkali ingin dilahirkan atau melahirkan di tempat-tempat yang terhormat atau di kota-kota yang terkenal. Karya Tuhan Yesus selama di dunia yaitu 3 tahun dapat sangat besar memengaruhi dunia. Ada perkiraan bahwa kekristenan di Asia akan semakin berkembang dan Cina kemungkinan besar akan menjadi yang besar umat Kristennya. Hanya Tuhan Yesus yang dapat menyatakan kapan mati dan bangkit. Tidak ada pemimpin yang melalui kematian dapat mengubah dunia kecuali Kristus. Tidak ada pemimpin lain yang melalui kematian memberikan pengharapan baru bagi dunia kecuali Tuhan Yesus. Melalui kebangkitan-Nya, banyak orang terpana. Melalui kenaikan-Nya, Ia adalah pemimpin dari kekal kembali lagi ke kekal sampai Ia datang kembali Hakim di atas sebagai hakim. Saksi Yehuwa seringkali menekankan tentang kedatangan Tuhan Yesus namun bersifat spekulasi yang seringkali salah dan hal ini tidak alkitabiah.
  3. Yesus memimpin berdasarkan pengajaran dan keteladanan. Inilah keunikan kepemimpinan Tuhan Yesus. Pengajaran-Nya mengubah kita dan mengalami pembaruan sejati dari hidup dalam dosa menjadi hidup dalam Kristus. Pusat dari pengajaran Firman Tuhan yaitu righteousness (dikayosune) atau Logos (Yohanes 1). Yohanes 8:31-32 menyatakan: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Ini menunjukkan bahwa pengajaran Tuhan Yesus bukan hikmat manusia. Pengajaran Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa dan membawa kita masuk dalam proses pengudusan. Masalah terbesar dalam hidup manusia adalah dosa. Melalui pengajaran Tuhan Yesus dapat menguduskan kita yang berdosa. Tuhan Yesus yang kekal inkarnasi ke dunia untuk membawa kita yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal. Tuhan Yesus sepenuhnya manusia (human being) sekaligus sepenuhnya Allah (divine being). Dengan demikian Tuhan Yesus dapat mengalami penderitaan hanya tidak berdosa (Ibrani 4:15). Selain itu, Tuhan Yesus menghidupi pengajaran-Nya. Inilah supremasi Kristus. Tuhan Yesus tidak pernah gagal dalam menghidupi pengajaran-Nya. Demikian pula kita seharusnya meneladani Kristus dengan menjalankan kebenaran yang dinyatakan kepada kita.  Ia juga menggenapi semua nubuatan tentang diri-Nya. Dalam kehidupan kita, apa yang kita inginkan seringkali tidak sesuai keinginan Tuhan. Tuhan Yesus menjalankan pengajaran-Nya yang penuh kuasa dengan keteladanan hidup. Dia melampaui pengajaran dan keteladanan dari orang Farisi dan ahli Taurat. Supremasi Kristus bukan secara fenomenal mukjizat melainkan pengajaran akan kebenaran.

II. Model kepemimpinan Tuhan Yesus

1. Visi: Kerajaan Allah yaitu menggenapkan keselamatan umat pilihan-Nya.

Berita keselamatan diberikan kepada semua orang dan Tuhan menginginkan semua orang diselamatkan yaitu umat pilihan-Nya. Kita tidak tahu berapa jumlah umat Tuhan tapi kemungkinan besar lebih banyak yang tidak diselamatkan. Fakta dunia berdosa menyatakan bahwa lebih banyak orang berdosa daripada orang yang mengasihi Kristus. Tuhan Yesus memiliki visi Kerajaan Allah tapi tidak memiliki tentara atau wujud kerajaan secara lahiriah. Dalam “12 rasul” tidak ada organisasi yang jelas. Jadi kepemimpinan Tuhan Yesus tidak memiliki sistem yang menggunakan standar dunia. Tuhan Yesus tidak mau organisasi dan administrasi mengikat visi-Nya. Dalam hal ini yang paling penting adalah visi Kerajaan Allah. Model kepemimpinan Kristus menerapkan visi bukan menjanjikan organisasi dan bukan menjanjikan sarana dan pra-sarana. Ini yang susah diterapkan. Namun jelas inilah yang paling penting bukan hanya dalam hal mengikut Kristus tapi juga dalam pendidikan, pekerjaan dan lainnya. Kita harus mengerti visi dan menerapkan visi. Ketika kita berada dalam suatu perusahaan yang paling penting mengerti dan menerapkan visi dari perusahan yang bersangkutan.

2. Misi: Membangun Kerajaan Allah.

Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya ikut Tuhan Yesus dari titik nol. Tuhan Yesus tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya (Matius 8:20). Ia ketika membayar pajak ada “usaha” yang dicatat dalam Matius 17:27. Yang menjadi pengikut Kristus itu dipanggil oleh Tuhan Yesus. Bagaimana dengan Yudas? Yudas memang dipanggil walaupun tidak dipilih. Yudas dijadikan bendahara tapi seringkali mengambil uang. Tuhan Yesus adalah pemimpin yang luar biasa karena Ia fokus pada misinya termasuk dalam hal Yudas. Dalam kedaulatan-Nya, Ia membiarkan Yudas masuk dalam 12 murid untuk membangun Kerajaan Allah. Kalau bukan umat pilihan, pasti tidak ada yang mau ikut Kristus. Misalnya kita diterima kerja di perusahan yang tidak memberikan fasilitas yang tidak memadai, umumnya kita tidak mau. Dalam hal ini Yesus tidak menggunakan daya tarik duniawi melainkan daya tarik surgawi yaitu diri-Nya.

3. Manajemen kepemimpinan sebagai hamba atau pelayan

Tuhan Yesus membangun kepemimpinan-Nya tidak menggunakan manajemen duniawi. Dia Raja di atas segala raja namun menjalankan manajemen sebagai hamba atau pelayan. Bukan berarti Yesus menjadi pelayan dari murid-murid. Yesus sebagai pelayan berarti Dia berorientasi pada jiwa-jiwa. Tuhan Yesus tetap mengajarkan kepada murid-murid untuk berorientasi kepada jiwa-jiwa. Hal ini paling jelas diajarkan ketika Tuhan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:1-20). Inilah warisan keteladanan kepemimpinan Tuhan Yesus kepada murid-murid. Kaki merupakan bagian tubuh yang kotor dan setiap kali memasuki rumah harus dicuci. Biasanya yang mencuci adalah orang yang bersangkutan atau budak. Namun Tuhan Yesus mau mencuci kaki murid-murid-Nya. Ia mengajarkan kerendahan hati kepada murid-murid-Nya. Ia mengajarkan agar murid-murid bukan dilayani melainkan melayani.

4. Gaya kepemimpinan yang berkorban

Gaya kepemimpinan Yesus adalah pribadi yang rela berkorban. Selain itu, Ia lebih mengutamakan kesetiaan diri-Nya dan diikuti kesetiaan murid-murid-Nya. Ia juga menekankan suatu waktu kairos. Ini yang tidak ada di dunia. Yesus memberikan kepuasan yang bersifat kairos. Bukan uang, harta, atau kenikmatan dunia melainkan momentum kerajaan Allah melalui pengajaran dan mukjizat untuk menemukan arti hidup dan kemuliaan Allah. Ia selalu menciptakan momentum-momentum yang mengandung kairos sehingga yang dipimpin melihat Dia sebagai Tuhan. Ini yang seharusnya kita teladani. Kita seringkali tidak membawa orang lain melihat kemuliaan Tuhan melainkan kemuliaan diri kita. Inilah konsistensi kekekalan. Setiap waktu hidup Tuhan Yesus mengandung waktu kairos sehingga orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan.

III. Karakter kepemimpinan Tuhan Yesus

1. Yesus mencerminkan kepemimpinan yang tidak ambisius

Lukas 14:5-7, 25-26, 33. Ayat 25-26 disebut sebagai gaya bahasa hiperbol (dilebih-lebihkan). Intinya adalah ayat 27 dan 33 bahwa orang yang ikut Tuhan Yesus seharusnya tidak lagi terikat dengan hal-hal duniawi yang menghalangi kita untuk mengikuti Kristus. Bukan berarti kita meninggalkan keluarga kita melainkan kita mengutamakan Kristus di atas segala sesuatu termasuk keluarga. Demikian pula ketika Tuhan Yesus mengatakan “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka” (Matius 8:22). Ini berarti jika ingin mengikut Yesus jangan tunda sekalipun dengan alasan keluarga. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin bukan menarik orang dengan janji-janji palsu yang menarik. Pendekatan kepemimpinan Kristus seperti menjadi domba. Domba adalah binatang yang tidak ambisius. Dalam kelompok domba tidak ada yang menjadi “penguasa”. Sedangkan dalam kelompok singa selalu ada satu penguasanya. Singa disebut juga sebagai raja hutan. Singa mempunyai dorongan untuk menguasai wilayah dan kelompok tertentu. Demikian pula monyet yang menyatakan penguasaan atas wilayahnya. Domba adalah binatang yang lemah dan penurut sedangkan kambing melawan. Tuhan Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai domba yang menyatakan bahwa Ia tidak ambius namun sumber kuasa sejati. Tuhan Yesus bukan pemimpin yang ambisius tapi ia menggenapkan ambisi paling suci yaitu membawa orang berdosa untuk diselamatkan. Ketika Ia menuntut semua pengikut-Nya untuk mengutamakan Tuhan, ini merupakan wujud ketaatan. Ketika kita taat pada suatu perusahaan tapi karena uang maka jiwa kita akan rusak. Di sini kita belajar agar pengikut Kristus lebih mengutamakan Tuhan Yesus lebih daripada apa pun.

a. Yesus sebagai Allah rela menjadi manusia

Ia mengosongkan diri dan mengambil rupa sama dengan manusia (Filipi 2:7). Sekarang ini banyak pemimpin yang sengaja menjadi karyawan untuk mengamati kerja karyawannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan perusahaannya dan karyawannya. Hal ini pertama kali dijalankan oleh Tuhan Yesus. Ia menjadi manusia supaya menghayati pergumulan manusia. Ibrani 4:15 menyatakan “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ini merupakan wujud kerendahan hati-Nya. Ia adalah Raja namun datang bukan langsung mau disembah melainkan mengosongkan diri-Nya. Ini adalah gaya kepemimpinan yang membangun dari bawah ke atas. Karena itulah para pemimpin yang tidak pernah mengawali sebagai karyawan seringkali arogan.

b. Mendapatkan kemuliaan namun rela disiksa dan menderita.

Salah satu yang harus kita lakukan adalah meninggalkan zona nyaman. Untuk meninggalkan zona nyaman, kita harus membatasi diri. Orang-orang Amerika dan Eropa seringkali jalan kaki di tempat umum untuk bepergian rata-rata sejauh 3-4 km. Sedangkan di Cina, transportasi terhubung dengan mall sehingga orang-orang sedikit jalan karena telah disediakan fasilitas yang terhubung. Jepang hampir mirip dengan Eropa dan Amerika tidak terlalu “memanjakan” orang-orang yang bepergian. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa pemimpin yang baik itu memberi contoh dari bawah ke atas bukan menyombongkan statusnya. Bahkan Tuhan Yesus rela “diperintah” oleh para pemimpin Romawi dan pemimpin agama. Karya Kristus yang tidak dapat ditandingi oleh pemimpin agama mana pun yaitu kematian dan kebangkitan-Nya.

2. Yesus membangun Kerajaan-Nya dari bawah ke atas

Yesus inkarnasi dari atas ke bawah namun membangun kerajaan-Nya dari bawah ke atas. Dalam hal ini Tuhan Yesus menekankan proses. Pada umumnya manusia ingin cepat atau instan dalam segala hal. Ada orang yang beli saham karena ingin cepat kaya. Siapa pun yang mau instan naik seringkali jatuhnya juga instan.

3. Yesus tidak memakai cara otoriter

Tuhan Yesus tidak mau kuasa-Nya murahan dan dipromosikan berdasarkan mukjizat-Nya. Orang-orang tertarik kepada Tuhan Yesus karena pengajaran-Nya. Seringkali ketika Ia berpesan kepada orang-orang “jangan beritahukan siapapun” atas mukjizat-Nya (Matius 8:4; Matius 16:20; Markus 8:30; Lukas 9:21). Ia tidak mau kuasa-Nya menjadi murahan. Tapi ada gereja-gereja tertentu lebih menonjolkan daya tarik mukjizat untuk menarik banyak orang. Tuhan Yesus dalam menggenapkan Kerajaan Allah melalui pengajaran dan karya kematian dan kebangkitan-Nya. Ia tidak mau dilihat sebagai pahlawan. Mengapa film superhero laku? Karena kita semua haus jiwa kepahlawanan. Zaman sekarang krisis kepahlawanan di rumah dan di mana pun. Dalam 1 Raja-raja 3:9, Salomo minta hikmat untuk memimpin umat Israel dan menyatakan keadilan. Ia minta hikmat untuk menyelesaikan perkara-perkara setiap orang untuk menyatakan keadilan. 2 Korintus 4:7, “Tetapi harta ini kami punyaidalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu bearsal dari Allah, bukan dari diri kami.” Harta yang paling penting bukan dari apa yang kelihatan tapi yang tidak kelihatan yang berasal dari Tuhan. Inilah harta rohani yang harus kita kejar. Seluruh harta duniawi itu fana tapi harta surgawi itu kekal. Setiap kita harus sadar bahwa kepemimpinan bukan dengan ancaman atau janji yang menarik melainkan hikmat dan kuasa dari Tuhan untuk memampukan kita menjadi pemimpin. Bagi Paulus, harta yang paling penting adalah mengandalkan Tuhan. Inilah peran iman dalam hidup orang percaya.

4. Gaya kepemimpinan Yesus itu mengasihi bukan mendominasi

Tuhan Yesus mengikat murid-murid-Nya dengan Dia melalui kasih. Ia menyatakan kasih dan pengorbanan-Nya bagi pengikut-Nya. Ia tidak mendominasi dan menguasai sehingga murid-murid-Nya ikut Dia seperti mengikuti superhero. Ia berkorban bukan untuk mengorbankan orang lain. Puncak kasih-Nya dengan mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia berdosa yang percaya kepada-Nya. Gaya kepemimpinan-Nya adalah mengorbankan diri bagi orang lain. Inilah yang harus kita teladani. Seringkali kita yang ingin naik jabatan malahan mengorbankan orang lain. Jangan kita menjadi pemimpin berdasarkan kehebatan atau pengalaman kita. Hal ini akan mengakibatkan proses regenerasi kepemimpinan yang tidak sehat. Ketika ada bawahan yang lebih hebat dan banyak pengalaman maka kita akan dilupakan bahkan dibuang. Kejahatan dalam manajemen duniawi adalah pemimpin yang baru melupakan pemimpin yang lama. Perusahaan yang sudah berhasil tidak dipandang sebagai sumbangsih dari pemimpin yang lama melainkan sebagai pencapaian dari pemimpin yang baru. Tapi ada yang tidak bisa dilupakan yaitu jejak kaki pengorbanan pemimpin yang rela berkorban. Inilah konsistensi kekekalan. Ini yang menjadi prinsip kepemimpinan Tuhan Yesus yaitu rela berkorban.

1 Petrus 5:2-4 menyatakan Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.” (1.38)

Kekuatan orang kristen sejati adalah dari Tuhan Allah. Pada saat kita bekerja itu adalah peperangan rohani. Kita tidak boleh menjilat atau memakai intrik dunia. Kita harus minta hikmat dan kuasa dari Tuhan. Ketika kita hidup bersaksi dan menjadi pemimpin yang berkenan kepada Tuhan maka kita akan memperoleh mahkota surgawi. Ketika kita tidak menjadi saksi Kristus maka yang kita peroleh adalah sebaliknya.

5. Yesus mencerminkan kepemimpinan yang rendah hati

Tuhan Yesus tidak menggunakan ancaman dalam memimpin. Mengapa banyak pemimpin Kristen yang tidak rendah hati? Jangan-jangan dalam hidupnya tidak ada Kristus.

6. Yesus mencerminkan kepemimpinan tim atau kelompok

Bisakah misi Allah tercapai tanpa manusia? Bisa. Tapi Tuhan ingin melibatkan manusia sehingga bersifat kepemimpinan kelompok. Ketika Tuhan Yesus memimpin secara tim, setiap orang berharga di mata-Nya termasuk Yudas. Tuhan Yesus dalam pergaulan-Nya dapat dekat dengan orang berdosa supaya orang berdosa dapat bertobat. Ketika kita bergaul dengan orang-orang sekitar kita bertujuan untuk menjadi saksi Kristus. Kita harus jadi garam dan jadi terang dunia.

IV. Gaya kepemimpinan yang salah

1. Berfokus pada diri. Tidak mudah percaya pada orang lain dan berfokus pada diri. Semua yang dikerjakan untuk pujian diri.

2. Tidak tegas dan kompromi.

3. Gagal mempertahankan disiplin dan otoritas rohani

4. Kasih murahan.

5. Jiwa bos yang congkak dan selalu minta dilayani dan dianggap penting bahkan lebih menghargai kedudukannya. Contoh: Rehabeam.

(Ringkasan belum diperiksa oleh pengkhotbah – LS)

Author: Lukman Sabtiyadi

Bitnami