Latest Post

Kesementaraan Hidup (Hevel-Pengkhotbah)

Categories: Renungan Harian

Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. (Pengkhotbah 1:2)

 

Kitab Pengkhotbah dibuka dengan kata “kesia-siaan.” Kata ini terus menerus dipakai sampai pada bagian akhir dari kitab ini (12:8). Bahasa Ibrani dari kata ini adalah hevel. Hevel bisa berarti meaningless atau vanity. Namun dalam konteks kitab Pengkhotbah, kata ini lebih tepat diterjemahkan sebagai ‘sementara’ (mere breath) seperti nafas yang ada sesaat namun kemudian lenyap begitu saja dalam waktu yang singkat. Kata ini juga menjelaskan bahwa hidup ini adalah misteri; nafas atau asap bisa memiliki bentuk pada satu waktu namun ia akan berubah bentuk dan lenyap ketika kita mencoba untuk menangkapnya. Kitab Pengkhotbah menyatakan bahwa mereka yang saleh bisa saja berumur pendek dan mereka yang fasik bisa saja berumur panjang–tidak ada manusia yang bisa memastikan. Semuanya hanya diketahui oleh Allah yang berdaulat, yang melebihi pemikiran manusia.

Penjelasan ini seolah membawa nuansa pesimis bagi para pembacanya, namun sebenarnya kitab ini mau menyatakan bahwa manusia seharusnya tidak meletakkan pengharapannya pada hidup yang sementara ini. Manusia seharusnya merendahkan dirinya dan meletakkan semua pengharapannya pada Allah, meskipun Allah tidak mungkin bisa dimengerti sepenuhnya oleh manusia.

Kitab ini menyatakan bahwa mencari kekayaan dunia adalah hevel, mencari bijaksana pun juga hevel (dalam arti bahwa kebijaksanaan tidak selalu pasti melindungi dan memberikan kesuksesan hidup bagi orang-orang bijaksana), dan hampir semua hal yang bisa dilakukan di dunia ini adalah hevel.

Jika demikian, maka apa saja hal yang seharusnya dilakukan oleh manusia selama hidup di dunia ini? Kitab ini menyatakan bahwa manusia bisa menikmati hal-hal yang sederhana seperti makan dan minum, menikmati waktu kebersamaan dengan orang-orang yang dikasihi, dan menikmati alam ciptaan Tuhan misalnya matahari–semua ini bisa dinikmati karena Allah memberikan anugerah kepada manusia. Sang Pengkhotbah menutup dengan kalimat “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.┬áKarena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:13-14). Allah pada akhirnya akan memberikan kekekalan setelah penghakiman terakhir. Hidup kekal yang Allah berikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya akan menghapus hevel.

Author: Tommy Suryadi

Bitnami