Latest Post

Kerendahan Hati Paulust (3)

Pdt. Tumpal Hutahaean

2 Korintus 12:1-10

2 Korintus 12:1, Rasul Paulus mengatakan: “Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.” Orang Kristen tidak boleh bermegah secara duniawi dan membangun satu kebanggaan hanya berdasarkan nilai-nilai lahiriah saja yang akhirnya bukan Tuhan yang dikenal tetapi kehebatan dirinya. Rasul Paulus bermegah bukan karena hal-hal lahiriah. Ini merupakan bukti konsistensi Paulus sejak ia dipanggil oleh Yesus Kristus dimana ia mengalami peristiwa penglihatan dan penyataan. Ini adalah peristiwa yang luar biasa, peristiwa yang mungkin orang lain tidak mengalaminya tetapi dia menyimpan selama empat belas tahun. Kemudian Ia menceritakan pengalaman ini karena “terpaksa” untuk menghadapi guru-guru palsu. Mengapa demikian? Karena Paulus melihat secara jelas bahwa dia hanya bisa bermegah dalam kelemahannya. Di dalam pengalaman Paulus ketika dia lemah, ketika dia sakit, ketika dia hidup bergantung kepada Tuhan disitulah kuasa Tuhan itu nyata.

2 Korintus 12:2-4, “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau  —  entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya  —  orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu,  —  entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya  — ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Di dalam ayat pertama menggunakan kata ganti orang pertama: “aku.” Sedangkan dalam ayat kedua menggunakan kata ganti orang ketiga: “seorang Kristen atau orang itu.” Di sini Rasul Paulus konsisten tidak menonjolkan dirinya atau menyombongkan diri. Tapi dia menyatakan satu nilai rahasia: (1) dia punya pengalaman rohani sejati, (2) Pengalaman rohani itu sudah dia uji selama 14 tahun. Mengapa butuh empat belas tahun? karena Rasul Paulus tidak mau bersadarkan pengalamannya seolah-seolah dia menceritakan kesombongan rohaninya. Rasul Paulus yang mendapatkan penglihatan itu konsisten sampai mati semakin giat memberitakan Injil dan semakin berani mati bagi Tuhan. Dan tidak pernah Alkitab mempopulerkan semua nilai-nilai yang bersifat supra alami ini menjadi sesuatu yang terus ditinggikan atau disombongkan. Saya pernah mendengar dan mencatat secara langsung bagaimana hamba Tuhan yang di Jakarta ini menceritakan bahwa dia naik turun surga setiap saat karena dia sudah memiliki kesempurnaan rohani. Yang lain lagi ada yang menyatakan dituntun oleh malaikat dan diajak makan dalam suasana surga, sementara di dalam Alkitab tidak pernah kita membaca di surga ada makanan. Tidak pernah kita membaca di surga ada binatang tetapi yang lebih celaka lagi adalah banyak orang yang percaya. Mengapa mereka percaya? Karena mereka tidak mengerti akan kesaksian yang dicatat di dalam Alkitab tentang peristiwa itu.

Mari kita telusuri apa yang dikatakan Paulus tentang pengalamannya:

(1) Kita melihat di dalam ayat keempat sebagai kuncinya: “ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Beberapa hamba Tuhan justru mengatakan mereka bercakap-cakap dengan malaikat dan juga dengan Tuhan Yesus di Sorga. Di sini kita melihat semua hal itu perlu dipertanyakan. Apalagi di sini kita melihat Rasul Paulus tidak berani memutlakkan apakah tubuhnya juga terangkat tetapi beberapa hamba Tuhan berani mengatakan dia percaya tubuhnya itu juga terangkat walaupun peristiwa yang lain dia tidak terangkat. Alkitab mengatakan bahwa Rasul Paulus tiba-tiba diangkat. Artinya ini yang disebut kairos. Rasul Paulus bukan yang mengatur Tuhan untuk minta diangkat. Di sini berarti pengalaman yang bersifat supra alami selalu ada dalam waktu Tuhan. Karena kedaulatan ada di tangan Tuhan bukan berdasarkan kedaulatan karena pengalaman kita.

(2) Kata “Firdaus” berasal dari bahasa Persia yang artinya taman yang indah atau kebun yang indah. Kata Firdaus digunakan tiga kali digunakan dalam Alkitab yang dicatat dalam Lukas 23:43 dan Wahyu 2:7, tiga bagian ini menjelaskan istilah Firdaus sama dengan Heaven (surga). Itu memang tempat surga di mana ada orang-orang Kristen yang mati terlebih dahulu mereka di sana tinggal. Jadi istilah kata Firdaus/Auramos itu adalah bukan hanya untuk tempat tinggal sementara. Jadi benar-benar itu adalah tempat tinggal dalam suasana surga yang seperti tercatat dalam Wahyu 7:9-17 dan Wahyu 22:1. Di situ kita akan sudah bisa mendengar pujian-pujian dari Tuhan dan laporan-laporan rohani yang indah bagi Tuhan yang tak terkatakan.

(3) Dikatakan lagi “tidak boleh diucapkan manusia.” Mengapa karena kata-kata itu adalah satu kata-kata yang menyatakan rahasia kebesaran Tuhan. Artinya pada saat itu pun manusia tidak boleh sembarangan untuk mengikuti karena bahasa yang digunakan adalah bahasa dalam suasana surgawi dalam nilai kesucian.

(4) Tingkat ketiga. Ini adalah satu simbol yang menyatakan ada satu nilai keindahan suasana sorga yang mulia, yang sempurna, yang bersifat kekal adanya.

2 Korintus 11:5 mengatakan: “Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.” Kita melihat empat belas tahun Rasul Paulus menyembunyikan pengalaman itu, tetapi beberapa hamba Tuhan belum diuji dalam ruang dan waktu, bahkan belum lewat 1 tahun. Dan di sinilah Rasul Paulus tidak mau membangun kemegahan karena mempunyai pengalaman rohani yang begitu luar biasa, tapi bermegah dalam kelemahannya.

2 Korintus 11:6 dikatakan “Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku (pengajaran Firman Tuhan).” Jadi di sini Paulus tahu sekali mengapa menahan diri empat belas tahun yaitu karena Paulus mau memperkenalkan Kristus melalui kata-kata. Paulus ingin memperkenalkan kuasa Kristus melalui perubahan hidup. Dimana nantinya kita dipermuliakan bersama dengan Kristus dan itu tercatat dalam 1 Tesalonika 4:15-17, Filipi 3:21, 1 Korintus 15:51-52, Matius 24:40-42, dan Yohanes 14:3. Semua bagian Firman Tuhan dari lima bagian ini mencatat bahwa kita memang nanti akan terangkat ke sorga dan sebelumnya kita bertemu muka dengan muka di udara dengan Yesus. Di sini kita ingin mengatakan bahwa sebetulnya yang tepat yaitu pada waktu Kristus yang akan datang keduakalinya untuk menyatakan seluruh takhta pengadilan-Nya. Di sini kita belajar bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang dinyatakan kepada kita. Yang menjadi pertnyaan adalah bagaimana kita tahu kalau Rasul Paulus tahu tentang itu? Karena dia pernah melihat sendiri. Bagaimana Rasul Paulus bisa merasakan kemuliaan itu begitu indah melebihi daripada penderitaan? Karena dia mendengar kata-kata orang percaya yang menyatakan satu pujian penyembahan kepada Kristus di Surga.

2 Korintus 12:7 mengatakan “Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” Ini memang waktu Tuhan, ini sebenarnya bersifat wahyu dan ternyata menunggu empat belas tahun baru ditulis. Kita melihat ternyata cara Tuhan membentuk Rasul Paulus untuk memiliki satu kerendahan hati dengan diberikan penyakit. Dan penyakit itu dikatakan sebagai utusan iblis atas ijin Tuhan maka Rasul Paulus punya penyakit di mata dan pinggang, tetapi apakah hal ini menunjukkan bahwa Paulus tidak ada kuasa? Tidak, justru saat sakit pun Alkitab dengan jelas mencatat Paulus tetap menerobos untuk penginjilan. Dalam Galatia 4:13-14 mencatat bahwa Paulus tetap konsisten memberitakan Injil karena dia sakit. Paulus tidak pernah melihat sakit itu menjadi penghalang tetapi dia tahu ini membuat dia terus bersandar kepada Tuhan, meminta kekuatan Tuhan ternyata dia mengalahkan semua sakit itu berarti dia mengalahkan kuasa iblis. Ini bukan berarti ini sakit karena iblis. Sakit bisa karena bakteri, virus, dan mungkin karena organ tubuh kita lemah, juga sakit karena hukuman Tuhan, dosa dan juga karena iblis dan jangan disebut semua sakit karena iblis itu pernyataan salah total. Di sini kita melihat Rasul Paulus membuktikan dia dipakai Tuhan untuk membawa Injil sampai ke Asia kecil lewat daratan dan lautan, bahkan sampai ke Eropa, Korintus, Yunani, dan Roma. Rasul Paulus mengatakan bermegah dalam kelemahan. Karena di saat aku lemah, melihat kebesaran Tuhan. Tuhan mengatakan sebab justru dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Saudaraku yang terkasih cara Tuhan memukul kita seperti ini, bayangkan kalau ini dititipkan bukan karena dosa tetapi karena memang mau mengajar kita untuk rendah hati. Di dalam Ibrani 2:10, “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah  —  yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan  — , yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.” Tuhan terkadang mengijinkan ada satu kesulitan hidup untuk semakin menguduskan kita. Marilah kita terus belajar menggunakan seluruh anggota tubuh kita untuk kemuliaan Tuhan karena akan tiba saatnya penyakit umur. Seperti Paulus yang walaupun sakit, tetap mempersembahkan hidupnya untuk kemuliaan Tuhan saja.

2 Korintus 12:8-10, “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Saya selalu bersandar kepada Tuhan di tengah-tengah kelemahan dan keterbatasan saya. Di situ belajar mari kita mendemonstrasikan kuasa Tuhan yang melampui akal dan pikiran kita. Marilah kita melihat, Tuhan selalu memberikan kita kecukupan kasih karunia yaitu penyertaan, kekuatan dan jalan terus diberikan kepada kita. Dalam ayat 10 dikatakan “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Dua kata ini harus kita bawahi yaitu “aku senang dan rela yang menjadi kunci pelayanan Paulus. Rasul Paulus membuktikan pertolongan Tuhan yang ajaib ditengah sakit penyakit yang lemah namun tetap fokus dan konsisten karena punya hati yang senang dan rela.

Bagaimana dengan hidup kita? Biarlah Tuhan berkarya kepada diri kita dalam setiap saat. Waktu sehat, biarlah kita memohon kepada Tuhan untuk berkarya dalam studi, pekerjaan, dan karir. Dan kalau saatnya kita kena penyakit di masa tua, biarlah Tuhan juga boleh sungguh dipermuliakan dalam hidup kita. Biarlah kita belajar bagaimana Paulus menyatakan syukur dalam kerelaannya karena dia bisa membaca diri dalam anugerah bukan membaca diri dalam sakit penyakit. Maka setiap kita mendapatkan anugerah yang cukup karena itulah tidak ada alasan untuk kita tidak bersyukur kepada Tuhan.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kerendahan Hati Paulust (3)

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami