Latest Post

Kerendahan Hati Paulust (2)

Pdt. Tumpal Hutahaean

 

2 Korintus 11:16-33

Berbicara tentang satu nilai kerendahan hati maka kita harus melihat satu konsep theology humility yang diajarkan alkitab. Di sini kita percaya setiap orang Kristen pasti memiliki aspek humility. Setiap orang Kirsten akan membangun kerendahan hatinya menjadi hal yang boleh menyenangkan hati Tuhan. Kita melihat bagaimana Rasul Paulus memiliki kelayakan dan juga kebanggaan yang harus dia tonjolkan berkaitan dengan nilai pelayanannya dimana semua tempat yang dia layani berhasil dan mempermuliakan nama Tuhan namun dia tidak pernah menonjolkan itu sebagai satu nilai kekuatan dia sendiri. Tapi dia melihat semuanya karena anugerah Tuhan, maka Rasul Paulus pun tidak pernah membanggakan diri. Itulah kerendahan hati. Bagaimana kita tahu kita sudah mempunyai aspek kerendahan hati?

Pertama, Itu pada saat kita dipuji, kita tetap tidak membanggakan diri. Yang menjadi pertanyaan mungkinkah orang Kristen tidak memiliki kebanggaan hidup? Di dalam bagian ini jikalau orang Kristen tidak punya satu nilai syukur kepada Tuhan maka imannya dipertanyakan. Tetapi mungkinkah orang Kristen memiliki satu kebanggaan fisik melampaui daripada kebanggaan dia di dalam Tuhan? Mungkin, tetapi kita percaya di dalam Kristus seluruh kebanggaan-kebanggaan yang tidak suci, yang punya potensi kesombongan perlahan akan dikikis dalam terang Firman.

Kedua, kita akan melihat bagaimana disebut dalam ayat 7 dan 15 dimana orang yang rendah hati diuji pada saat menghadapi orang-orang yang sombong. Di dalam konteks Korintus Paulus menghadapi guru-guru palsu yang senantiasa menonjolkan kehebatan mereka, kefasihan mereka dalam berkata-kata dan juga kefasihan mereka dalam membangun satu kebenaran yang sebetulnya semuanya palsu. Orang yang rendah hati diuji pada saat ada orang yang menonjolkan diri. Maka kalau sikap kita merendahkan orang itu maka kita sombong. Di sini Rasul Paulus tidak merendahkan jemaat Korintus termasuk juga yang terjebak dalam ajaran yang sesat. Di sini kita melihat bagaimana kerendahan hati kita, akan memiliki satu sikap yang aktif untuk bagaimana membangun satu nilai hidup yang benar dalam menegakkan satu kebenaran dan sikap yang rendah hati adalah sikap yang aktif yang tidak rela jikalau jemaat itu justru hidupnya tidak benar. Jadi bukan yang rendah hati secara pasif melainkan secara aktif.

Ketiga, di sini kita melihat Rasul Pulus difitnah. Rasul Paulus seolah-olah adalah orang yang memanipulasi uang karena begitu banyak uang yang dia terima karena itulah dia tidak mau menerima persembahan dari pada Jemaat Korintus untuk menghidupi dirinya. Maka sebaliknya jemaat Korintus sudah dikerok dananya oleh guru-guru palsu untuk mendukung seluruh hidup mereka. Maka Paulus dituduh memanipulasi uang disakiti, dianggap orang yang takut, dianggap orang yang lemah. Di dalam bagian ini kita melihat Rasul Paulus tidak melakukan serangan balik yang sama seperti orang yang menuduh dan memfitnah dia karena dia rendah hati. Ketika Yesus disakiti, Yesus tidak membalas dengan menyakiti orang. Ketika Yesus difitnah Yesus tidak membalas dengan satu fitnaan tetapi sebaliknya Yesus memberikan berkat doa kepada mereka yang telah menyakiti hati Yesus. Orang yang rendah hati selalu punya satu nilai kasih yang luas dan kasih yang selalu mau menjadi satu hal yang harus dinyatakan untuk menyatakan kasih Tuhan.

Di dalam 2 Korintus 11:16, “jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya akupun boleh bermegah sedikit.” Bagi Paulus hal yang membanggakan diri adalah satu kebodohan. Tetapi dalam ayat ini mengapa Rasul Paulus mengatakan jangan hendaknya menganggapnya bodoh. Artinya Rasul Paulus meminta jikalau menganggap dia bodoh maka itu salah tetapi jikalau masih berkeras hati menganggap Paulus bodoh, maka terimalah Rasul Paulus sebagai orang yang bodoh karena nanti jemaat Korintus akan bisa melihat bahwa Paulus justru mengerjakan hal-hal yang membuktikan dia bukan orang yang bodoh. Di sini Rasul Paulus akan membangun satu kemegahan diri, akan membangun satu kebanggaan diri di dalam Yesus. Sedangkan guru-guru palsu sudah membangun satu kemegahan diri dan kebanggaan diri yang terlalu besar yang di mana pusatnya adalah diri. Di sini kita mengerti bagaimana Rasul Paulus pasti mengerti theology kerendahan hati dengan konsep perjanjian lama. Di dalam Mazmur 25:9, pemazmur mengatakan Tuhan akan membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum. Ia akan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Kalau kita rendah hati kita dibimbing oleh Tuhan melalui terang Firman. Kalau kita rendah hati kita akan diajarkan jalan Tuhan kepada kita. Mikha 6:8 mengajarkan kepada kita tiga hal yang dituntut Tuhan kepada kita: 1. Berlaku adil, 2. Mencintai kesetiaan, 3. Hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Ketika Rasul Paulus tahu tentang konsep ini dia berani membangun satu konsep kerendahan hati karena dia membangun satu kebanggaan di dalam Yesus. Maka pada waktu kita melihat plot yang kedua yaitu ayat 22-33 di situ Rasul Paulus membangun satu kebanggaan dalam Kristus yang pada saat kita baca ini menunjukkan bahwa Rasul Paulus tidak berdosa. Saya simpulkan ayat 22-23 ini kebanggaan yang Rasul Paulus bangun adalah: 1. Kebanggaan di dalam penderitaan demi kemuliaan Kristus. 2. Pada waktu akhirnya Paulus membangun satu nilai, dia boleh bermegah dan dia ingin menyatakan satu kebanggaan dalam Kristus demi Injil. 3. Pada waktu dia mengatakan aku boleh bermegah sedikit maka dia menyatakan satu kebanggaan demi kebenaran Firman Tuhan supaya iman jemaat Korintus semakin murni dan tidak lagi ikut-ikutan dan berani terbebas daripada ajaran guru palsu.

Dalam 2 Korintus 11:17-18, “Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah. Karena banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga.” Di sini kembali lagi bagi Rasul Paulus, hal membangun satu kebodohan di dalam Kristus justru menyatakan satu nilai hikmat. Artinya jikalau orang dunia menganggap kita bodoh maka kita bangun saja satu nilai jati diri yang akhirnya membuktikan bahwa seluruh hidup kita bukan orang yang bodoh. Ketika Rasul Paulus mengatakan banyak orang bermegah secara duniawi, dia bermegah juga yaitu bermegah secara rohani. Ada tujuh kemegahan yang patut kita banggakan tetapi tiga yang paling inti yaitu: Pertama, waktu kita boleh sungguh bermegah karena kita sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus, kita boleh bangga karena kita menjadi anak Allah. Kedua, kita boleh bermegah karena di balik kelemahan kita, di balik keterbatasan kita, di balik ketidak berdayaan kita, kita selalu dimampukan Tuhan untuk melayani Dia, raja diatas segala raja. Kita selalu didorong dan diberikan kesempatan untuk terus mengaktualisasikan iman kita walaupun kita orang yang lemah dan terbatas. Ketiga, kita boleh bermegah secara inti karena iman kita dipelihara sehingga kita diberikan satu nilai konsistensi iman yang terus menerus melayani Tuhan, mencintai Tuhan sampai kematian tiba maka kita harus bermegah. Ketika Rasul Paulus mengatakan guru-guru palsu, sebagian orang Korintus sudah terjebak dengan hal bermegah dengan secara dunia. Kita belajar untuk tidak membangun kemegahan secara duniawi yang akhirnya Kristus tidak dipermuliakan tetapi justru kekayaan kita yang menonjol, justru kehebatan kita yang menonjol, justru pengalaman kita yang menonjol maka kita berdosa. Alkitab mengatakan dalam Filipi 2:5-8 bahwa Yesus mengosongkan diri. Artinya Ia setara dengan Allah berarti Dia pencipta layak untuk dipuji dan disembah namun dia mengambil rupa seorang hamba menjadi sama dengan manusia. Maka Rasul Paulus pasti mengerti tentang satu theology kenosis, karena itu jikalau kita membangun satu kemegahan secara dunia berarti kita mencuri kemuliaan Tuhan karena Kristus tidak pernah mengajarkan kita untuk bermegah secara duniawi. Kita sebagai Kristen harus melihat Kristus sebagai teladan kita, maka mari kita membangun satu konsep theology kenosis dengan tepat sehingga kita tidak terjebak membangun kemegahan secara duniawi. Karena itulah kita harus berdoa bagaimana Tuhan bekerja supaya kita sadar bagaimana seharusnya kita mengikuti Kristus dan mengikuti pimpinan Allah Roh Kudus.

Dalam 2 Korintus 11: 19-20 Beberepa jemaat Korintus membiarkan diri mereka diperhambakan dengan ajaran taurat yang tidak beres. Mereka diikat kembali dengan satu ajaran yang tidak melihat anugerah Kristus melampaui hidup mereka. Jadi mereka menjalankan hidup berdasarkan kekuatan diri mereka saja dan juga ajaran-ajaran yang sesat bukan bersandar pada anugerah Yesus Kristus.  Selain itu, jemaat Korintus membiarkan guru-guru palsu memanfaatkan uang dari jemaat Korintus. Ketika jemaat Korintus sabar terhadap hal-hal demikian maka justru itu adalah suatu kebodohan. Di dalam ayat 20 kita perhatikan jemaat Korintus membiarkan guru-guru palsu membanggakan diri. Ini menunjukkan hal yang tidak benar. Yang menjadi pertanyaan mengapa jemaat di Korintus seperti tidak berdaya padahal bukankah 1 Petrus 5:3 sudah mengatakan bahwa seorang pelayan harus memberikan satu contoh keteladanan, tidak boleh memiliki satu nilai otoriter, jangan kamu memerintah seolah-olah kamu ini seperti penguasa? Harusnya jemaat Korintus tahu siapa yang disebut: guru yang benar dan siapa yang disebut guru tidak benar, Hamba Tuhan yang sejati dan hamba Tuhan yang palsu, Rasul yang sejati dan Rasul yang palsu dia harus tahu. Disinilah Rasul Paulus berani mengatakan suka sabar terhadap orang bodoh itu hal yang tidak bijaksana.

2 Korintus 11:21 mengatakan “Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka akupun – aku berkata dalam kebodohan – berani juga!” Artinya guru-guru palsu dengan para pengikutnya berjuang keras untuk membangun satu kemegahan dan kebanggaan yang semu. Sebaliknya Rasul Paulus memang lemah artinya Rasul Paulus tidak pernah berjuang secara keras untuk meminta pujian, untuk pengakuan diri, atau untuk kebanggaan-kebanggaan yang tidak suci itu. Dalam ayat 22-33 akhirnya Paulus menyatakan kebanggaan tetapi semua demi Yesus Kristus, demi Injil, dan demi kebenaran ditegakkan supaya iman jemaat dimurnikan. Ada tiga kesimpulan pada waktu Rasul Paulus akhirnya mengatakan: “aku pun berani untuk membangun satu kebanggaan.” Maka semua kebanggaan yang berkaitan dengan penderitaan di dalam Yesus Kristus untuk menyatakan kemuliaan Kristus. Semua kebanggaan itu untuk menyatakan bagaimana akhirnya Rasul Paulus sungguh-sungguh hidup sebagai Rasul yang sejati karena semuanya dibangun demi Injil itu sendiri.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kerendahan Hati Paulust (2)

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti

Bitnami