Latest Post

Kejahatan yang Lebih dari Sekedar Perbuatan

Pdt. Tumpal Hutahaean

 

2 Korintus 13:7-9

Ada satu kejahatan yang lebih daripada sekedar perbuatan itu yaitu orang yang tidak sadar akan kejahatanya sendiri. Terkadang banyak orang yang berbuat jahat menganggap itu sesuatu yang lumrah dan bagian dari nilai perjuangan hidup. Maka masalah evil (kejahatan) itu adalah sesuatu yang bisa dilihat dari dalam diri orang itu sendiri bukan dilihat dari apa yang berada di luar ketika dia melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Di dalam konsep Alkitab hal ini disebut buah dosa. Rasul Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 13:7, “Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat.” Dalam bagian ini Rasul Paulus meminta kepada beberapa orang yang terus hidup dalam dosa dan beberapa orang yang terus menyerang dia supaya mereka menyelidiki diri apakah mereka sungguh-sungguh sudah memiki satu nilai kepercayaan kepada Kristus yang sejati. Mereka sudah menyakiti hati Paulus dengan memfitnah Paulus. Bagi Paulus itu adalah satu kejahatan, tetapi bagi guru-guru palsu dan juga beberapa orang Korintus yang terjebak dengan iman yang salah justru itu menegakkan kebenaran. Berarti dari bagian ini cara pandang dan cara bersikap mereka tidak ada dalam satu keutuhan kebenaran. Di sini berarti dosa pikiran dan perasaan. Inilah yang dibahas di dalam Roma 13-15 ada dosa pikiran dan dosa perasaan. Berarti kalau kita sudah menuduh itu artinya sudah mengandung aspek penghakiman, kalau kita meragukan seseorang dalam nilai kejujuran tetapi kita menghidupi satu persepsi negatif tentang orang itu berati kita berdosa. Yang menjadi pertanyaan: Mungkinkah orang Kristen yang sejati selalu berbuat jahat di dalam hal berpikir dan di dalam hal merasa? Tidak mungkin. Setiap kita harus punya foto rohani, kita belajar bagaimana pentingnya memiliki foto rohani kita. Foto rohani sangat penting untuk mengetahui bagaimana seharusnya kita mengembalakan nilai diri kita. Mungkinkah kita menjadi orang Kristen ada kelemahan yang tidak kita ketahui tetapi orang lain ketahui? Mungkin, artinya adalah terkadang kita merasa diri kita benar dan ternyata orang lain melihat ada sesuatu yang tidak benar. Maka bagaimana kita menyadarkan orang yang tidak sadar akan kelemahannya? Tidak lain adalah melalui relasi yang terbuka satu dengan yang lain. Di sinilah penting sekali untuk setiap kita punya teman atau komunitas pemuridan.

Mengapa Rasul Paulus mengatakan “jangan engkau berbuat jahat” karena kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus. Orang yang berbuat jahat adalah tipe orang hidupnya tidak dipenuhi oleh Roh Kudus. Dalam Galatia 5:16, Paulus menasihati: “hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Maka yang tidak benar pasti nanti buahnya juga tidak benar. Dalam Titus 1:16 dikatakan: “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.” Inilah perbedaan kualitas hidup berdasarkan iman yang murni dan iman yang palsu. Kualitas hidup yang benar dalam Kristus dikarenakan kita punya iman yang benar. Kita belajar bagaimana seharusnya kita memiliki kuasa melawan dosa. Orang Kristen yang sejati tidak mungkin lagi diperbudak oleh dosa tetapi sebaliknya dia akan membenci dosa dan melawan dosa. Orang Kristen yang sejati akan memiliki karakter Kristus yang disebut buah Roh (Misalnya dalam Galatia 5:22-23, “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”).

2 Korintus 13:8  “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran.” Artinya kita menjadi orang Kristen bukan saja tidak boleh berbuat jahat tetapi sebaliknya kita berbuat yang baik. Mungkinkah orang Kristen yang sejati menindas kebenaran, memanipulasi kebenaran, atau lari dari kebenaran? Tidak mungkin secara waktu yang lama. Di dalam Roma 1:18 dikatakan: “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Orang berdosa menindas kebenaran, menghancurkan kebenaran, dan menutupi kebenaran karena hawa nafsu dan keinginan-keinginannya. Ditegaskan lagi dalam Roma 1:21, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Jadi orang ini seolah-olah mengenal Allah ternyata dalam perbuatan mereka justru adalah penindas kebenaran. Orang yang terjebak dengan dosa karena pikiran mereka sudah tidak ada lagi dalam terang Tuhan. Orang-orang jahat rela terus berbuat jahat dan mereka tidak sadar itu dosa karena mereka sudah dibuang oleh Tuhan. Kebenaran memang tidak perlu dibela karena kebenaran ada pada dirimu sendiri. Firman Tuhan ketika dihina dan dicaci maki tidak perlu seolah-olah kita membela kebenaran karena kebenaran. Demikian kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan adalah kemuliaan yang ada dalam diriNya sendiri. Jadi ketika ada kelompok-kelompok tertentu meragukan Firman Tuhan ini dalam proses gelombang waktu akhirnya mereka yang gugur. Tetapi ketika kita hidup untuk kebenaran karena kita yang sudah dibenarkan oleh Tuhan maka buktikan hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Rasul Paulus mengajarkan konsistensi sebagai orang Kristen yang sejati. Kita diberikan iman maka kita akan hidup oleh iman. Kristus adalah kebenaran. Dan kebenaran itu akan nyata untuk memperbaharui nilai karakter kita sebagai orang benar. (1) Apapun yang kita perbuat harus diperbuat dengan iman sebagai penggenap kebenaran Tuhan atas hidup kita secara pribadi. Jadi kita orang Kristen adalah penggenap kebenaran untuk kebenaran Tuhan dalam kehidupan kita. Jikalau kita menjadi orang Kristen tidak bisa menggenapkan kebenaran berkaitan dengan seluruh hidup kita maka iman kita perlu dipertanyakan. (2) Kehidupan kita menjadi satu nilai penggenapan kebenaran berkaitan dengan hal-hal di luar dari diri kita seperti di kantor, masyarakat, dan dalam dunia publik lainnya. Spirit iman kita adalah spirit menegakkan kebenaran dalam sistim dunia yang tidak benar. (3) Kita dipanggil untuk menggenapkan kehendak Allah dalam nilai kerajaan-Nya. Yaitu mencari orang-orang yang tidak benar supaya dibenarkan dan ini merupakan spirit penginjilan.

2 Korintus 13:9, “Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna.” Kata “sempurna” menunjukkan kepada progresif yang mengandalkan kuasa Tuhan. Karena itu lebih tepat dikatakan “supaya kamu selalu mau disempurnakan” karena hidup kita sedang mencapai yang sempurna dan kita masih bisa jatuh tetapi kita terus membuka diri untuk disempurnakan oleh Tuhan Yesus melalui firmanNya. 2 Timotius 3:16, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Artinya kita akan sempurna ketika kita rajin membaca Alkitab dan membiarkan Alkitab membaca kita sehingga alkitab akan menyatakan kesalahan kita dan memimpin serta mengarahkan kita untuk hidup sesuai kehendak Tuhan. Sukacita yang sejati yaitu bersukacita ketika orang Kristen terus hidup benar dan tahan uji. Biarlah Firman ini mengarahkan kita untuk sungguh-sungguh berani membuka diri dan mengkoreksi diri kita. Kita akan menjadi orang-orang yang berbuat untuk kebenaran yaitu orang yang memiliki kualitas hidup benar berkaitan dengan nilai kerohanian kita secara pribadi, dalam ranah public, dan satu semangat untuk meluaskan Kerajaan Allah. Dan biarlah kita mencapai satu proses kesempurnaan yang terus sempurna dalam nilai terang Kristus melalu Firman-Nya dan kita akhirnya sungguh-sungguh memiliki kematangan iman yang menghasilkan kematangan karakter dan akhirnya menghasilkan kematangan bersikap. Jadi kematangan iman memunculkan kematangan karakter yang akan menghasilkan kematangan bersikap dan berbuah.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kejahatan yang Lebih dari Sekedar Perbuatan

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami