Latest Post

Renungan Harian

14 Desember 2020

Katekismus Heidelberg P2 (Pengetahuan untuk Kebahagiaan)

 

Pert. Berapa pokok yang perlu Saudara ketahui, supaya dengan penghiburan ini Saudara hidup dan mati dengan bahagia?

Jaw. Tiga pokok (a). Pertama. betapa besarnya dosa dan sengsaraku (b). Kedua, bagaimana aku mendapat kelepasan dari semua dosa dan sengsaraku (c). Ketiga, bagaimana aku harus bersyukur kepada Allah atas kelepasan yang demikian itu (d).

(a) Maz 130:3-4. (b) Rom 7:24-25. (c) Mat 11:28. (d) Kol 1:12.

 

Penulis katekismus di sini mengaitkan kebahagiaan dengan pengetahuan. Ada hal-hal yang perlu kita ketahui untuk mencapai kebahagiaan ini. Allah memberikan Alkitab untuk pertama-tama kita baca dan mengerti. Pengetahuan yang benar tidak mungkin dilepaskan dari kebahagiaan yang sejati.

Penulis katekismus memberikan tiga poin inti yang harus kita ketahui untuk mencapai kebahagiaan ini. Pertama kita harus mengerti akan dosa dan kesengsaraan kita karena dosa. Jika kita tidak mengerti atau mengakui akan hal ini, maka kita tidak akan mungkin mencari dan menerima penghiburan yang sejati itu. Orang yang merasa dirinya sudah terhibur tidak mungkin merasa dirinya membutuhkan penghiburan. Injil merupakan kabar baik bagi kita karena kita menyadari bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan Injil. Orang-orang menolak Injil karena bagi mereka Injil bukanlah kabar baik. Ini karena mereka tidak menyadari dosa-dosa mereka.

Hal kedua yang harus kita ketahui adalah solusi bagi masalah dosa (dan kesengsaraan karena dosa). Mengerti apa masalahnya merupakan langkah pertama dari menyelesaikan masalah itu. Setelah kita mengerti apa masalahnya, kita kemudian mencari solusi. Injil adalah solusi bagi masalah dosa.

Tidak hanya sampai pada mendapatkan solusi, penulis menulis poin ketiga yaitu pengucapan syukur. Pengucapan syukur merupakan bagian dari praktik spiritualitas Kristen. Ucapan syukur dinaikkan bukan karena Allah merasa kurang dihargai atau membutuhkan pujian atau pengakuan. Kita mengucap syukur karena memang itulah yang baik untuk kita lakukan (Mazmur 92:2). Seorang teolog berkata bahwa rasa syukur merupakan kombinasi dari kerendah-hatian dan sukacita. Keengganan untuk mengucap syukur sangat mungkin mencerminkan jiwa yang sedang pahit atau kosong. Jiwa Kristen seharusnya tidak seperti itu.

Bitnami