Latest Post

KARAKTER KEPEMIMPINAN MUSA: BERKORBAN Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

Categories: Transkrip

Hari ini kita akan membahas tentang karakter kepemimpinan Musa yaitu berbicara tentang pemimpin yang berkorban, bukan pemimpin yang mengorbankan. Dan berikutnya kita akan membahas karakter yang terakhir yaitu pemimpin yang berkarakter futuris. Di dalam aspek nilai futuris pasti ada nilai strategis. Dan orang yang berpikir strategis belum tentu berpikir futuris jangka panjang. Jadi ini tema yang menarik untuk kita pelajari yaitu bagaimana menjadi pemimpin yang selalu melihat ke depan di dalam pimpinan Tuhan, bukan melihat apa yang di depan menurut pemikiran kita. Kita akan membaca firman bersama-sama yaitu Keluaran 32:32, Yohanes 15:13, dan 1 Korintus 10:10.

Paulus membahas peristiwa dimana orang Israel selalu bersungut-sungut dan tidak sungguh-sungguh belajar melihat pimpinan Tuhan tetapi terus melihat pimpinan diri, maka Paulus menulis suatu pesan yang singkat di dalam 1 Korintus 10:10. Paulus memakai istilah malaikat maut. Ada di antara mereka yang terkena api dari Tuhan dan ada di antara mereka yang langsung mendapatkan gigitan ular. Ada keturunan Ruben yang akhirnya juga ditelan oleh bumi dan masih banyak lagi kejadian yang lain. Jadi Paulus memakai istilah ‘mereka dibinasakan oleh malaikat maut.’

 

Pendahuluan

Apa itu pengorbanan? Jikalau kita masih melihat kepada diri sendiri yang berkorban dan apa yang kita kerjakan di dalam nilai pengorbanan, maka itu bukanlah pengorbanan yang benar. Kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk murah hati dan mau berkorban dengan tulus. Pengorbanan yang sejati adalah pengorbanan yang dimana orang yang berkorban itu tidak berpikir untuk mendapatkan pujian dan tidak berpikir untuk mendapatkan penilaian positif dari orang lain. Pengorbanan adalah apa yang kita bisa berikan untuk orang di luar agar mereka bisa menjadi lebih baik. Alkitab mengajarkan bahwa pada waktu kita berkorban justru kita tidak boleh berpikir bahwa kita sedang berkorban. Ini karena pengorbanan itu nilainya adalah panggilan. Ketika kita melihat orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37), orang Samaria itu justru berkorban secara total untuk orang yang sudah dirampok, dipukuli, dan mengalami sakit penyakit. Dia berani berkorban bahkan sampai menitipkan orang itu untuk dirawat di tempat yang baik, sementara orang-orang Lewi yang pulang dari ibadah itu tidak peduli dan tidak bertindak untuk menyembuhkan. Yesus kemudian bertanya tentang siapa yang menjadi sesama dan siapa orang yang benar. Jawabannya adalah orang yang bertindak benar, dan bukan hanya melihat yang benar. Pengorbanan harus dikaitkan dengan Kerajaan Tuhan, bukan dikaitkan untuk citra diri.

Mengapa seseorang mau berkorban? Ada banyak orang yang mau berkorban agar orang lain menilai bahwa dirinya baik. Ada orang yang mau berkorban supaya dinilai sudah berhasil oleh orang lain. Ada orang yang berkorban demi mendapatkan cinta seseorang. Ada yang mau berkorban supaya mendapatkan keuntungan. Tetapi motivasi yang paling mendasar yang harus kita punya ketika kita berkorban adalah, seperti Musa, untuk menyatakan kebesaran Tuhan, supaya orang lain melihat Tuhan dan bukan melihat diri kita baik.

Apakah semua pengorbanan dapat disebut sebagai pengorbanan yang mulia (1 Korintus 13:3)? Ada orang yang berkorban secara total; seluruh hartanya dibagikan, nyawanya rela untuk dikorbankan, dirinya dibakar, tetapi Paulus berkata bahwa semuanya sisa-sia karena pengorbanannya bersifat antroposentris, tidak bersifat teosentris, tidak ada dasar kasih kepada Allah dan tidak ada dasar kasih kepada orang lain agar mereka melihat Tuhan. Pengorbanan seperti itu hanya bersifat sementara dan tidak bersifat sejati. Di dalam bagian inilah setiap kita harus memahami bahwa pengorbanan adalah panggilan. Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya bahwa janda miskin itu memberi lebih banyak dan lebih berbahagia daripada orang kaya yang kelihatannya memberi lebih banyak. Janda miskin itu memberi dari kekurangannya, tetapi orang kaya itu memberi dari kelimpahannya. Di dalam bagian ini kita harus mengerti agar kita jangan berkorban hanya ketika kita sudah menjadi orang kaya. Setiap kita, pada waktu sudah lahir baru, diberikan potensi untuk berkorban untuk Tuhan.

Jika demikian, apa dasar dari pengorbanan? (Yohanes 15:13) Dasar dari pengorbanan yang sejati adalah kasih. Tuhan Yesus telah berkorban bahkan sampai mengorbankan nyawa-Nya sendiri. Kita yang mengikut Tuhan pun harus siap untuk berbuat demikian dan dikaitkan kembali dengan kasih Tuhan karena inilah dasarnya.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berkorban atau mengorbankan? Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berkorban dan bukan mengorbankan orang lain. Di dalam bagian inilah kita belajar bahwa pemimpin yang baik harus berani berkorban dan berkarakter Kristen. Musa pernah membuat tongkat dengan ular tembaga untuk bangsa Israel (Bilangan 21:9). Saat itu setiap orang Israel yang bersungut-sungut kepada Tuhan bisa mati jikalau mereka tidak melihat ular tembaga itu. Ular tembaga itu menyatakan bahwa ada kuasa. Yesus berkata “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan” (Yohanes 3:14). Yesus adalah Raja di atas segala raja. Dia-lah singa Yehuda. Dia seperti ular tembaga yang mengalahkan bisa ular. Orang yang dipagut ular melihat harus dengan iman dan meminta pengampunan karena sudah berdosa bersungut-sungut.

Dosa yang keji di mata Tuhan pertama adalah penyembahan berhala (Keluaran 20:3-5). Pada zaman sekarang kita tidak menyembah patung tetapi kita menyembah berhala kenikmatan yaitu gadget, games, dan hobi kita. Hal-hal ini mendatangkan satu kenikmatan dan kepuasan yang mengikat kita. Itulah hal yang sangat dibenci Tuhan. Dosa yang kedua adalah perzinahan (Keluaran 20:14). Tuhan jijik dengan percabulan dan pencemaran. Tuhan membenci kemunafikan (Matius 6:2), yaitu bagian luar dan dalam berbeda, mulut dengan realita berbeda, dan berani menghilangkan identitas dan berkompromi secara sembunyi-sembunyi. Tuhan juga membenci orang yang suka bersungut-sungut (1 Korintus 10:10). Inilah dosa orang Israel yang sangat dibenci oleh Tuhan.

Ketika seorang pemimpin menjadi pemimpin yang berkorban, maka ia telah menjadi pemimpin yang bersifat Kristen. Di sini kita akan belajar bagaimana Musa bisa disebut sebagai pemimpin yang berkorban.

 

Pemimpin yang Berkorban

Ketika Musa pertama kali muncul sebagai orang yang mau membela bangsanya, ia bertindak dengan caranya sendiri yaitu dia membunuh tentara Mesir yang menyiksa saudara sebangsanya itu (Keluaran 2:11-12). Dia berpikir bahwa orang Ibrani akan membela dirinya tetapi justru orang Ibrani mempertanyakan kuasa dan otoritas Musa (Keluaran 2:14). Di dalam bagian inilah Musa merasa begitu percaya diri karena ia adalah putra dari putri Firaun. Dia adalah satu-satunya orang Ibrani yang memiliki pendidikan modern pada saat itu dan dia adalah orang yang paling terhormat di antara orang-orang Ibrani. Dia merasa punya kedudukan, uang, dan apapun juga. Ketika dia melihat itu, dia merasa bahwa dirinya pantas menjadi pemimpin. Ini membuat dirinya berani membunuh orang Mesir itu dengan strateginya sendiri. Di dalam bagian inilah kita tahu bahwa kejadian ini mendatangkan satu pukulan dan satu pintu tantangan bagi Musa. Ia harus membuat pilihan. Jikalau dia mau membela diri karena statusnya maka Musa pasti bisa. Dia bisa berbicara dengan ibu angkatnya dan meminta pembelaan sehingga ia dianggap tidak sengaja membunuh pegawai istana. Namun Musa tidak memilih pilihan itu (Ibrani 11:24-27). Musa marah karena orang Mesir menyiksa orang sebangsanya. Musa merasa lebih baik tidak disebut sebagai putra dari puteri Firaun. Ia merasa lebih baik menderita sama seperti orang Ibrani daripada menikmati seluruh fasilitas Firaun. Ia merasa lebih baik dihina karena Kristus daripada mendapatkan satu upah dosa karena penderitaan ini dianggap sebagai harta yang berharga.

Di dalam bagian inilah Musa meninggalkan hidup yang penuh kenikmatan yang dilihat sebagai dosa. Dia merasa lebih baik memilih untuk pergi ke Midian, pergi ke padang gurun, ke tempat yang jauh. Dengan iman dia melangkah. Di dalam bagian inilah yang dinamakan pengorbanan yaitu pengorbanan yang berani meninggalkan kenikmatan hidup karena dosa (Ibrani 11:24-26). Ia memulai sesuatu yang baru berdasarkan iman. Maka di sini saya mengatakan bahwa iman menjadi kunci yang mengajarkan kepada kita tentang nilai pengorbanan. Dan jikalau bukan karena iman, maka seluruh pengorbanan kita akan menjadi pengorbanan yang bersifat horizontal saja yang akan musnah di dalam ruang dan waktu. Tetapi pada saat Musa berani berkorban karena iman, ada aspek kekuatan kasih yang mendorong dirinya untuk berani berkorban, dan di dalamnya ada konsep bahwa Musa tidak mau disebut sebagai putra dari putri Firaun dan mau menderita bersama orang-orang sebangsanya demi Kristus, di situlah Musa melakukan pengorbanan yang sejati.

Ciri orang yang sudah bertobat yang paling penting adalah perubahan cara pandang tentang uang, waktu, kenikmatan, karier, dan hal penting lainnya. Maka perubahan paradigma yang harus ditanamkan oleh guru Kristen adalah untuk menyadarkan orang yang diajar dan harus dikaitkan dengan Tuhan. Menjadi sumber agen perubahan dan dikaitkan dengan tanggung jawab inilah yang menjadi keunikan guru Kristen. Maka dari itulah guru-guru Kristen harus dipersiapkan dengan iman, kasih, dan punya satu nilai untuk mengajar perubahan paradigma bagi setiap murid. Sikap bertanggung jawab dalam pendidikan itu harus berdasarkan Alkitab, jadi di dalam bagian inilah filsafat pendidikan itu sangat penting karena dasarnya adalah Alkitab. Jikalau engkau menjadi guru Kristen tetapi tidak ada filsafat Kristen maka sebaiknya jangan menjadi guru. Di dalam hal inilah kita perlu belajar.

Setelah keluar dari Mesir, Musa pergi ke Midian. Ia tidak tahu tempatnya dan tidak tahu fasilitasnya. Dia pergi dengan iman dan dia bertemu dengan anak-anak dari Yitro. Dia bertemu dengan Zipora dan dia menikah dengannya. Status Musa menjadi gembala kambing dan domba. Musa belajar merendahkan hati ketika menjadi gembala. Sebelumnya ia terus menikmati kehormatan karena kedudukannya sebagai putra dari putri Firaun. Setelah itu dia belajar menggembalakan kambing dan domba dan dia harus belajar merendahkan hatinya. Musa melakukan pengorbanan secara status atau martabat, kenyamanan fisik, dan pengetahuan selama ia menjadi gembala kambing dan domba. Di dalam aspek-aspek inilah Musa harus belajar untuk merendahkan hati ketika dia menjadi gembala. Ini adalah pengorbanan supaya ia memiliki hati yang lebih mulia. Ketika engkau belajar untuk berkorban, maka janganlah melihat dirimu sedang berkorban karena dirimu sedang diajar dan dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin yang besar. Pemimpin yang diinginkan oleh Tuhan adalah pemimpin yang sempurna serta punya nilai keteladanan dan ketaatan.

Ada hal yang Musa lupakan yaitu sunat. Zipora adalah orang Midian yang tidak dibesarkan dengan iman orang Israel, jadi dia tidak pernah mengerti tentang sunat. Ketika dia tahu bahwa suaminya akan menjadi orang rohani yang besar dan ketika dia tahu bahwa Tuhan sedang marah kepada Musa dan akan membunuhnya karena urusan sunat, dia kemudian mengambil tindakan sendiri. Ia mengambil pisau batu yang sudah diasah dan anaknya disunat. Dari peristiwa ini Musa sadar sekali bahwa ini adalah satu misi yang besar. Banyak penafsir mengatakan bahwa setelah peristiwa itu Zipora dan anak-anaknya dipulangkan ke Midian. Mereka tidak ikut program misi, yaitu eksodus, dimana Musa memimpin orang Israel keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, karena ini berisiko besar. Di dalam bagian inilah dikatakan bahwa Musa bukan pemimpin yang tipenya kekanak-kanakan. Dia bisa membedakan antara emosi untuk Tuhan dan emosi untuk keluarga.

Musa harus terpisah dengan keluarga setelah peristiwa “pengantin darah” (Keluaran 4:25-26). Musa harus berfokus pada misi eksodus. Ketika Yitro mendengar bahwa Musa sudah memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, ia membawa kembali anaknya yaitu Zipora dan cucu-cucunya agar bertemu dengan Musa (Keluaran 18:1-4). Di dalam bagian inilah kita tahu bahwa menjadi pemimpin yang dituntut adalah suatu pengorbanan. Kadang-kadang pengorbanan yang paling dituntut adalah dirimu, tetapi terkadang keluargamu. Pengorbanan keluarga ini bukan jangka panjang tetapi bersifat sementara dan Tuhan memakai Yitro untuk membawa keluarganya bertemu dengan Musa. Kita tahu bahwa keputusan Musa ini adalah supaya dia bisa berfokus memimpin satu misi yang besar. Dia harus berfokus menyatakan Tuhan yang besar di hadapan seluruh umat Israel yang sangat tegar tengkuk. Di sini kita belajar bahwa pengorbanan terkadang menuntut kita di dalam satu nilai relasi yang salah satunya adalah keluarga kita. Tetapi ini harus dilihat dalam program jangka pendek dan bukan jangka panjang.

Selama Musa menjadi pemimpin bagi bangsa Israel, Musa sering dipersalahkan oleh bangsa Israel (sungut-sungut). Paulus berkata bahwa orang yang sering bersungut-sungut pada akhirnya akan dihukum mati oleh Tuhan (1 Korintus 10:10). Pada waktu mereka terus bersungut-sungut, Tuhan mengirimkan api yang menghanguskan mereka (Bilangan 11:1-3). Mereka masih bersungut-sungut lagi setelah itu. Tuhan kemudian mengirimkan ular-ular tedung sehingga mereka mati (Bilangan 21:6). Mereka kemudian mengaku dosa mereka dan Tuhan memberikan mereka ular tembaga sehingga yang melihatnya dengan iman akan selamat. Setelah itupun mereka masih bersungut-sungut dalam peristiwa 12 pengintai (Bilangan 13 dan 14). Dari 12 pengintai hanya 2 orang yang memberikan laporan yang positif yaitu Yosua dan Kaleb. Pengintai-pengintai yang lainnya bersungut-sungut bersama dengan banyak orang Israel. Kemudian Tuhan berkata bahwa yang bisa masuk ke tanah Kanaan adalah orang yang berumur 20 tahun ke bawah, yang masih bisa dibentuk. Semua orang yang bersungut-sungut tidak bisa masuk ke dalam tanah Kanaan.

Dalam Bilangan 16 dinyatakan tentang kisah pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram. Mereka mengajak bangsa Israel untuk memberontak melawan Musa. Mereka mempertanyakan kepemimpinan Musa dan mereka mau membuat tandingan. Di dalam bagian inilah Musa sering dipersalahkan. Hal yang menarik adalah Musa masih membela Israel ketika dia berhadapan dengan Tuhan. Musa masih mau memohon pengampunan bagi bangsa Israel. Dia masih membela orang Israel untuk menahan amarah Tuhan supaya orang Israel bisa melihat kemurahan Tuhan. Jadi, pemimpin terkadang berkorban secara batin. Otoritas Musa dipertanyakan oleh Korah, Datan, dan Abiram (Bilangan 16, band. 1 Korintus 10:10, dan Filipi 2:14-15). Ini berarti mereka sedang mempertanyakan otoritas Tuhan. Pada saat itulah sebenarnya Musa merasa berat hati tetapi dia tetap memohon pengampunan dari Tuhan karena bangsa Israel tetap tidak mengerti tentang Tuhan yang mengangkat Musa sebagai pemimpin. Di dalam 1 Korintus 10:10 Paulus berkata bahwa ada keadilan Tuhan. Filipi 2:14-15 mengingatkan kepada kita bahwa kita tidak boleh bersungut-sungut karena kita dipanggil bukan untuk bersungut-sungut. Apapun yang kita kerjakan pada dasarnya harus ada kerelaan dan jangan mempertanyakan Tuhan karena kita adalah orang-orang yang sudah ada di dalam Tuhan. Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa Ia mengorbankan nyawa-Nya untuk kita.

 

Kesimpulan

Kasih adalah dasar untuk sikap pengorbanan yang mulia (1 Korintus 13:3). Semua pengorbananmu jika tidak ada kasih kepada Tuhan, maka semuanya sia-sia. Pengorbanan cinta, pengorbanan adat, pengorbanan apapun juga, jika tidak dikaitkan dengan Kristus maka semuanya akan sia-sia.

Pengorbanan yang mulia adalah berani memberikan nyawa untuk Kerajaan Allah (Yohanes 15:13). Contoh dari pengorbanan ini adalah para martir. Semua hamba Tuhan bercita-cita untuk mati martir. Setiap kita yang mati sebagai martir akan tertulis dalam sejarah rohani karena mati demi penginjilan.

Pemimpin yang berkarakter Kristus adalah pemimpin yang rela untuk berkorban. Di dalam bagian inilah ketika kita menjadi pemimpin, kita tidah boleh hanya berpikir tentang uang. Banyak pemimpin memiliki mental kapitalis dan money-oriented sehingga tidak dikaitkan dengan Kerajaan Tuhan. Ini akan menjadi kapitalis yang bersifat sekuler murni. Segala hal patokannya adalah nilai uang. Akan tiba saatnya dimana orang ini bisa jatuh karena uang. Ada waktunya kita bekerja yang bukan bersifat profit. Ada waktunya kita bekerja bersifat profit tetapi bukan untuk keuntungan diri kita, misalnya untuk edukasi masyarakat. Sekarang ada pengusaha-pengusaha yang mau mengabdikan dirinya untuk menyejahterakan beberapa wilayah Kristen supaya mereka bisa lebih baik di dalam bertani, hasil bumi, dan lainnya. Para pengusaha ini tidak mendapat profit. Telah tiba saatnya mereka harus memikirkan orang lain karena Tuhan sudah mencukupi hidup mereka. Kita semua harus belajar tentang pengorbanan. Ini adalah karakter Kristus. Di sini kita belajar bagaimana kita terpanggil untuk berkorban supaya orang melihat Tuhan dan bukan diri kita. Dan setiap dari kita harus menolak segala sesuatu yang sifatnya hanya kenikmatan dunia. Pada waktu kita sedang dibentuk hatinya maka kita harus taat. Tuhan memberkati kita semua.

Author: gracelia Christanti

Bitnami