Latest Post

Tiba saatnya kita akan melanjutkan eksposisi dari surat Petrus, khususnya surat 1 Petrus 3 : 1 – 5. Saya memberikan judul yaitu Karakter Isteri yang takut akan Allah, dan kita hanya akan membahas 1 Aspek daripada nilai karakter ini. Mari kita baca bagian ini 1 Petrus 3 : 1 – 5. 1 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.  3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.  5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya.

 

                Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan hari ini kita akan membahas tema berkaitan dengan karakter seorang isteri, yaitu isteri yang takut akan Tuhan adalah isteri yang tunduk dan menghormati akan suaminya. Di dalam konteks ini rasul Petrus ingin memberitahu kepada isteri-isteri yang sudah mengenal Tuhan sedangkan suaminya belum mengenal Tuhan. Disini kita melihat bagaimana peranan isteri membangun keluarga bukan saja melihat dirinya yang sudah diselamatkan oleh Tuhan, tapi dia juga merindukan supaya suaminya diselamatkan oleh Tuhan. Jikalau seorang suami sudah diselamatkan oleh Tuhan dia pun harus memiliki satu kerinduan untuk isterinya diselamatkan oleh Tuhan, dan suami isteri memiliki juga program jikalau mereka sudah diselamatkan anak-anaknya juga harus diselamatkan. Jadi dengan kata lain di dalam kita membangun keluarga harus memiliki jiwa misi. Jiwa misi bukan untuk kita membangun keluarga kaya, jiwa misi bukan membangun keluarga kita menjadi popular, jiwa misi bukan kita ingin membangun keluarga menikmati segala tawaran dunia, tapi jiwa misi yang berkonten kerohanian. Disinilah rasul Petrus ingin membangun karakter seorang isteri yang sungguh-sungguh bisa dipakai oleh Tuhan, karakter isteri yang sungguh-sungguh bisa efektif hidupnya karena bisa memenangkan suami bukan dengan kekuatan perkataan tapi berdasarkan kekuatan tingkah laku, prilaku karakter yang tunduk kepada suami.

 

Disini kita ingin merenungkan satu pertanyaan, apakah setiap wanita yang akan menikah sudah memiliki karakter yang tunduk kepada calon suaminya? Belum tentu. Kenapa belum tentu? Lihatlah ada orang menikah akhirnya konflik. Kenapa konflik? Karena dia punya isteri yang begitu agresif plus aggressor. Apakah isteri seperti itu baik? Tidak baik. Tapi kenapa banyak suami yang mau diatur oleh isteri. Kenapa banyak suami yang jiwanya pasif, tetapi isterinya yang aktif? Disinilah kita baru tahu bahwa banyak juga laki-laki yang mengalami kekritisan dalam jiwa kepemimpinannya, padahal di dalam rumah tangga laki-laki adalah pemimpin dan wanita yang dipimpin. Jadi kalau engkau wanita tidak siap untuk dipimpin jangan menikah, dan kalau engkau tidak siap untuk menundukan diri untuk bagaimana menghormati dan menghargai laki-laki juga jangan menikah karena nanti menjadi masalah. Jadi di dalam bagian ini seorang isteri harus memiliki jiwa ketundukan.

 

Pertanyaan kedua, sejak kapan seorang wanita tunduk atau menghormati otoritas laki-laki? Sejak dini. Alkitab mengatakan dalam Timotius, wanita tidak boleh menonjolkan diri di dalam ibadah, di dalam pengajaran Gereja, jikalau ada laki-laki yang mengajar, jikalau ada laki-laki yang lebih ada aktualisasi diri memimpin maka wanita itu harus mengalah, jadi artinya Alkitab memberikan tempat bahwa laki-laki harus memimpin di depan. Jadi kapan anak dilatih yang wanita punya jiwa ketundukan dan harus menghormati otoritas laki-laki? Sejak dini. Kenapa laki-laki harus dihormati otoritasnya? Karena dia pemimpin, karena dia dicipta Tuhan untuk memimpin kaum daripada wanita yang bersifat modalnya adalah perasaan. Jadi di dalam bagian ini kita harus belajar bagaimana kita memberikan didikan-didikan kepada anak sehingga mereka punya sikap karakter dibangun dalam nilai Kristen sejak dini, jangan sampai ada masalah dulu baru dibentuk, seharusnya sebelum ada masalah harus sudah diajarkan.

 

Bagaimana dengan konteks pada saat itu? Apakah ini menunjukan boleh menikah dengan orang yang beda iman? Jawabannya bukan. Dalam konteks pada saat itu mereka adalah orang yang bukan berlatar belakang bukan Kristen, tetapi isterinya terlebih dahulu jadi Kristen maka akhirnya isterinya punya satu misi bagaimana suaminya yang tidak taat pada firman boleh dimenangkan oleh kekuatan Tingkah laku istri. Bagaimana kalau suami yang terlebih dahulu percaya? Maka suaminya pun terlebih dahulu melayani isteri dan anak-anak supaya sampai percaya. 1 Korintus 7 : 12 –  16 itu konteks yang sama, dimana dalam bagian ini Paulus juga berbicara peran daripada salah satu keluarga yang sudah percaya bagaimana membuat pasangannya itu percaya di dalam nilai karakteristik dengan tingkah laku , dengan hidup yang salah dan lain-lain. Di dalam konteks yang lain 2 Korintus 6 : 14 pun mengatakan pernikahan yang sesungguhnya adalah harus satu iman, tidak boleh beda iman. Apa artinya? Imannya sama, hatinya sama, tujuan hidupnya sama. Jadi pernikahan disatukan oleh iman, bukan disatukan oleh cinta. Kenapa ini perlu kita bedakan? Orang yang disatukan dengan cinta tidak perlu memakai seremoni Gereja, tidak perlu diberkati dalam nama Allah Tritunggal mereka bisa satu rumah bahkan sampai punya anak, tidak perlu memakai iman. Tetapi kalau kita menikah biarkan iman yang memimpin cinta, iman yang membangun cinta, iman yang membentuk cinta. Jadi di dalam pernikahan modal pertama adalah iman, bukan kekuatan cinta. Jadi di dalam bagian inilah kita mengerti bukan Alkitab mengijinkan pernikahan dengan beda iman, justru harus satu iman. Di dalam konteks itu adalah pernikahan untuk orang yang belum percaya, dan mereka salah satu akhirnya percaya isterinya dan isterinya punya nilai misi untuk menyelamatkan akan suaminya, tujuan yang lain adalah berbicara karaso. Apa itu karaso? Karakter dalam bahasa Yunani. Apa artinya? Huruf dan tulisan. Jadi engkau baru percaya, dan engkau sekarang sudah punya suami, engkau punya isteri, milikilah karakter Kristus untuk bagaimana engkau membangun keluarga, milikilah karakter Kristus untuk engkau memenangkan suamimu, bukan dengan kata-kata keras, tetapi dengan kekuatan prilaku yang bisa menundukan suaminya. Disinilah kita melihat betapa pentingnya seorang isteri memiliki karakter Kristus untuk boleh menjadi berkat di rumah, betapa pentingnya juga seorang suami memiliki karakter kristus untuk membangun kebahagiaan bersama suami isteri dan anak.

 

                Saudara-saudara yang terkasih dalam nama Tuhan, karakter isteri yang takut akan Tuhan adalah:

  1. Harus mengasihi Allah dan sesama. Kalau engkau ingin uji jiwa dari kekasihmu, lihatlah apakah kekasihmu mengasihi Tuhan dan sesama? Kalau kekasihmu mengasihi Tuhan dan sesama mereka akan mengutamakan Tuhan dan sungguh-sungguh mau melayani Tuhan.
  2. mengasihi suami dan keluarga dalam situasi apapun juga. Jadi jikalau suamimu ada masalah tetaplah engkau kasihi, jikalau suamimu sakit tetap engkau kasihi, jikalau suamimu mungkin sedang ada pergumulan kerja tetaplah engkau kasihi, jikalau ada keluargamu ada masalah tetaplah engkau kasihi. Jadi di dalam bagian ini karakter isteri mengasihi suami dan keluarga, karakter suami juga sama mengasihi isteri dan kondisi apapun, dan mengasihi anak-anak dalam kondisi apapun juga.
  3. Menghormati suami. Hai engkau wanita jikalau engkau sudah tidak bisa lagi menghormati pacarmu, dan engkau masih mau menikah, itu adalah kecelakaan besar. Jadi menghormati suamimu sudah bisa dilihat pada waktu pacaran. Demikian pun dengan seorang suami, mau menghargai akan isteri engkau tidak lagi punya aspek penghargaan kepada isteri karena engkau tahu isterimu adalah orang yang tidak benar, sudah sering ganti-ganti pacar, tapi karena pacarnya yang terakhir adalah engkau, dan engkau sudah membuat satu benih cinta dalam rahimnya, akhirnya engkau menikahi dia, tinggal siap-siap saja jikalau tanpa pertobatan dari nilai keluargamu, keluargamu akan hancur. Disini maka kita harus melihat hal menghormati suami sudah dibangun pada waktu pacaran, hal menghargai isteri sudah dibangun pada masa pacaran, maka pada waktu pacaran jangan bermain-main dengan dosa, pada waktu pacaran jaga nilai kesucian. Tapi jikalau engkau jatuh harus minta ampun kepada Tuhan supaya minta diperbaharui, sehingga pada waktu kita membangun keluarga benar-benar menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan dan keluarga yang dipakai oleh Tuhan.
  4. Artinya pada waktu kita menikah salah satu janjinya adalah setia, tidak boleh ada lagi pikiran seorang isteri memikirkan pria lain, sama demikian pun dengan pria tidak boleh memikirkan wanita lain. Jadi disitulah ingin memberitahu kepada kita pada waktu kita menikah itu adalah komitmen untuk setia. Jadi kalau engkau punya pacar dia tidak bisa komitmen untuk setia jangan coba-coba diikat dalam pernikahan, karena modal dalam pernikahan adalah setia sampai mati. Jadi ini berarti laki-laki jangan mencobai diri, wanita juga jangan mencobai diri. Jadi hati-hati dengan aspek social media.
  5. Bertanggung Dalam nilai seorang isteri kepada suami, dalam nilai seorang ibu kepada anak-anak, dalam nilai isteri yang punya keluarga besar dia harus bertanggung jawab, siteri yang baik harus konsentrasi di rumah, suami yang baik konsentrasi bekerja, jadi kenapa ada home schooling? Home schooling itu meniru gaya orang Yahudi, suami bekerja, isteri di rumah sebagai guru untuk anak-anak, guru pengetahuan umum, guru daripada pengetahuan Alkitab. Seorang ibu rumah tangga juga sebagai Pembina anak-anak, sebagai perawat anak-anak, sebagai nilai yang juga mendidik akan setia talenta daripada anak-anak. Jadi seorang ibu itu berat kalau dalam nilai kekristenan, kenapa? Karena perannya bbukan hanya untuk masak saja, tapi perannya bagaimana dia menjadi guru, Pembina, pengajar, pentraining, suster, pembimbing untuk anak-anak di rumah. Jadi kalau isteri bolehkah berkarier lebih besar daripada suami? Jawabannya tidak boleh. Kenapa tidak boleh? Karena kalau isteri sibuk diluar keluarga berantakan, anak-anak tidak ada yang ngurus, suami tidak ada yang ngurus. Jangan pernah berpikir keluarga bahagia karena uang, jangan berpikir keluarga bahagia karena punya fasilitas, keluarga bahagia pada waktu suami isteri rulenya dengan semua jalannya sesuai dengan prinsip Tuhan, jadi yang harus maju berkarier adalah suami dan yang mengatur pekerjaan rumah tangga adalah isteri.
  6. Tunduk kepada suami seperti kepada Tuhan. Apa pengertian isteri yang tunduk kepada suami? Efesus 5 : 22. Hai isteri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Engkau tunduk karena engkau punya misi menyatakan kualitas keimananmu, menyatakan kualitas tingkah laku dan karaktermu supaya suamimu bertobat, itu baru benar. Jadi itulah yang ingin dimaksudkan oleh rasul Paulus, itulah yang dimaksudkan oleh rasul Petrus, ketika seorang isteri sudah diselamatkan harus juga menyelamatkan suami berdasarkan iman dan kualitas karakter.

 

Apa pengertian isteri yang tunduk kepada suami?

  1. Menghargai ordo. Di dalam daripada Alkitab dikatakan laki-laki adalah pemimpin dan wanita yang dipimpin, laki-laki yang bersifat futuris merencanakan di depan, wanita yang bersifat partner untuk berdiskusi memantapkan setiap kajian dan analisa. Ketika isteri dibilang harus tunduk bukan berarti dia tidak boleh mengkritik, bukan berarti dia tidak boleh kasih masukan. Ordonya adalah suamimu pemimpin, engkau yang dipimpin, tapi ketika engkau melihat suamimu memimpin ada hal-hal yang mungkin bisa kurang efektif engkau bisa kasih kritikan, engkau bisa pakai komunikasi dengan bahasa kasih dan bahasa cinta, jangan komunikasi seperti bahasa di kantor pakai rasio dan segala sesuatu. Jadi isteri tunduk berarti bukan tidak boleh kasih masukan, justru isteri yang tunduk, isteri yang mengisihi suami, isteri yang mengasihi keluarga justru mengefektifkan setiap keputusan itu berjalan dalam jalan Tuhan. Nah disitulah isteri boleh aktif, boleh proaktif untuk sesuatu yang baik mendukung setiap keputusan suami, jadi jangan dilawan, jangan diberontak, jadi didukung.
  2. Menjalankan fungsi isteri. Jadi di dalam bagian ini isteri harus bisa melayani suaminya baik-baik dan harus bisa melayani anak-anak di rumah baik-baik, jadi isteri yang baik punya fungsi secara lahiriah untuk pelayanan suami harus baik, sehat dan anak-anak harus sehat, tapi isteri di rumah dengan anak-anak, dengan suami isteri juga punya peranan keimanan kerohanian. Hubungan dengan masyarakat isteri harus baik-baik.
  3. Taat dengan keputusan suami. Jadi pada waktu setelah berdiskusi dengan suami isteri, dengan anak-anak, suami memutuskan sesuatu dan isteri harus taat. Tapi menjadi pertanyaan taat di dalam nilai apa? Dalam Efesus 5 : 22, taatnya, tunduknya seperti kepada Tuhan, bukan taat karena takut, berarti taat dan tunduknya isteri dengan keputusan suami yang dilihat baik adalah jelas semuanya untuk kebaikan Tuhan dan kebaikan keluargamu. Jadi disini tunduk nilainya adalah ibadah.

 

Sampai batasan apa seorang isteri harus tunduk dengan suami?

Sebatas engkau tahu suamimu punya keputusan benar, tidak melawan akan imanmu disitu engkau harus dukung, tetapi kalau suamimu punya keputusan tidak benar melawan akan prinsip-prinsip imanmu boleh engkau tidak tunduk.

 

Apa tujuan isteri tunduk kepada suami?

  1. Mempertobatkan suami bagi Tuhan Yesus Kristus. Ayat 1 sudah jelas, rasul Petrus berkata menangkanlah suamimu tanpa kata-kata, berarti dengan kekuatan tingkah laku, dengan sikap teladanmu, dengan sikap kematangan cara berpikirmu dan pola rasamu, tunjukan hidupmu bisa diandalkan oleh suamimu, tunjukan engkau punya kwalitas berbeda dengan wannita-wanita yang lain sampai suamimu bisa mengatakan engkau sungguh-sungguh wanita yang luar biasa. Di dalam pola tingkah laku engkau luar biasa, di dalam mendidik anak engkau luar biasa, di dalam engkau berperan sebagai seorang isteri engkau luar biasa. Nanti disaat suamimu melihat engkau sudah bisa diandalkan dan engkau menjadi contoh, menjadi teladan , baru dia membuka hatimu, baru engkau berkata-kata dengan firman Tuhan. Di dalam konteks ini kita harus jelas Roma 10 : 17, iman timbul karena dengar-dengaran akan firman Tuhan, jadi di dalam pola ini rasul Petrus ingin mengajarkan pra penginjilan, yaitu apa? Menjembatani dengan karakter seorang isteri yang begitu baik dimata Tuhan, baik dimata keluarga, dan baik dimata suami, demikian pun engkau membawa isterimu bagaimana untuk dia kembali kepada Tuhan? Punya jembatan tingkah lakumu, karaktermu, fungsimu yang baik ini menjadi jembatan terlebih dahulu supaya isterimu bisa melihat engkau sungguh-sungguh suami yang bertanggung jawab yang takut akan Tuhan, baru dengan firman Tuhan. Maka disini kita melihat, seluruh anugerah dan pimpinan Tuhan itu adalah sesuatu yang luar biasa, bisa bekerja kepada kita hari lepas hari, dan kita dimampukan untuk terus menjadi teladan, itulah salib kita. Jadi bagaimana mempertobatkan suami yang tidak percaya kepada Tuhan? Yaitu dengan memiliki kemurnian hati. Engkau ingin punya kuasa mengubah suamimu, jagalah kesucian hatimu, jangan menyimpan marah kepada suami, jangan menyimpan sungut-sungut kepada suami, jangan menyimpan kekecewaan kepada suami, jaga kesucian hati. Kedua, jaga sikap salehmu. Engkau mendapatkan kesulitan demi kesulitan dalam berkomunikasi dengan suami, engkau mendapatkan satu prilaku yang tidak baik daripada suamimu jangan lawan dengan dendam, jangan lawan dengan kata-kata, tunjukan nilai kesalehanmu seperti Tuhan Yesus di salib, ya Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Jadi kalau kita tahu suami kita belum percaya, jadi pengampunanmu harus lebih besar karenea engkau punya misi untuk menyelamatkan suamimu. Yang ketiga, bagaimana cara mempertobatkan suami? Dia senantiasa memakai perhiasannya adalah manusia batiniah. Jadi di dalam konteks ini rasul Petrus mengingatkan tunjukan hidupmu tidak banyak menuntut, tunjukan engkau memakai manusia batiniah yaitu yang kwalitasnya punya nilai khiasan yang tidak kelihatan ada di dalam, engkau punya roh lemah lembut, engkau tidak menyukai percekcokan, suamimu keras tetapi engkau menerima dengan kelembutan, engkau menyelesaikan setiap masalah dengan kelembutan, jadi hidupmu selalu menyiram air dingin ketika suamimu menyiram engkau air panas, suamimu punya pikiran yang kusut, engkau punya pikiran yang tenang, yang mengalir, yang memberikan satu solusi, hatimu penuh dengan lemah lembut, melihat pimpinan Tuhan. Jadi di dalam bagian ini kita perlu suami isteri terus membangun dan siap untuk saling membangun, isteri memiliki roh lemah lembut, suami memiliki satu roh yang juga sebagai seorang pemimpin yang baik, jadi semua saling membangun, bukan saling menyakiti. Jadi manusia batiniah adalah roh lemah lembut. Kedua manusia batiniah ini adalah tentram, menyukai damai, menyukai semua hidup ini adalah tenang, punya sukacita, tidak ada masalah. Amsal mengatakan jikalau ada seorang isteri yang sukanya ribut dan terus ribut dalam hidupnya itu ada masalah, jangan dilayani. Jadi kalau isteri sukanya tentram bagus tidak? Bagus sekali. Sudah punya roh lemah lembut, sukanya tentram dan mententramkan. Jadi sekeras apapun hidupmu mungkin engkau bermasalah dalam dibentuk oleh keluargamu, ingatlah di dalam Yesus Kristus suami bisa diubah, isteri pun bisa diubah, jadi bangunlah karakter itu. Yang selanjutnya adalah menaruh pengharapannya pada Allah. Jadi engkau punya suami yang tidak percaya sama Tuhan, bahkan dia tidak menghormati firman, milikilah kesucian hati, milikilah satu sikap yang saleh, milikilah manusia batiniah yang memiliki roh lemah lembut dan tentram, yang keempat engkau selalu mempunyai pengharapan kepada Allah. Suamimu melihat engkau pagi-pagi sudah berdoa, dan engkau terus mengharapkan kekuatan Tuhan, suami pelan-pelan melihat engkau luar biasa, karena isteri takut akan Tuhan, isteri selalu minta kekuatan Tuhan, dan isteri minta Allah yang bekerja untuk mempertobatkan suami, memperbaharui keluarga, itu isteri yang baik.
  2. Menjaga keteraturan fungsi dan keharmonisan keluarga (Efesus 2 : 22 – 33). Isteri yang suka berontak, melawan, dan suka membuat jalan sendiri itu yang membuat keluarga tidak rukun dan tidak harmonis. Jadi ketika engkau tunduk seperti engkau tunduk kepada Tuhan itu baik supaya keluargamu punya nilai keteraturan dan keharmonisan.
  3. Menjaga kesatuan fungsi. Dalam konteks jauh ketika seorang isteri tunduk itu baik untuk menjaga kesatuan fungsi. Ada waktunya suami bekerja, ada waktunya seorang isteri di rumah  menjaga, memelihara dan melindungi anak-anak, jadi menga satu kesatuan. Disini kita percaya sekali kesatuan yang paling substansi daripada seorang suami isteri adalah kesatuan iman, kesatuan visi dan misi untuk hidup bagi Tuhan, kesatuan tujuan untuk dibawa kemana keluarga ini untuk tahun-tahun ke depan, kesatuan pola hidup, pola sikap, pola disiplin untuk anak-anak, kesatuan model dan segala sesuatu, tapi yang paling dasar adalah kesatuan iman. Pertanyaan kita, semua tujuan isteri tunduk ini baik, tapi siapa yang harus kita tiru? Alkitab dan beberapa penafsir yang pernah say abaca semua mengatakan wanita-wanita agung dalam perjanjian lama, contohnya Sara, teapi saya lihat semuanya tetap harus mengarah kepada konsep Allah Tritunggal. Seorang isteri tunduk kepada suami, suami menghargai daripada isteri, engkau harus belajar daripada konsep Allah Tritunggal. Allah Bapa mengutus Allah Anak, bukan berarti Allah Bapa lebih besar dari Allah Anak, Allah Bapa dan Allah Anak mengutus Allah Roh Kudus bukan berarti Allah Bapa dan Allah Anak lebih besar daripada Allah Roh Kudus, tidak ada hirarkinya lebih tinggi, semuanya sama. Jadi disini kita belajar nilai keharmonisan dalam nilai kerja, nilai keharmonisan dalam nilai kepribadian. Jadi Allah Bapa punya pribadi, Allah Anak punya pribadi, Allah Roh Kudus punya pribadi, semuanya harmonis karena semuanya satu fungsi satu tujuan untuk apa mereka bermisi untuk menyelamatkan manusia. Jadi pada waktu kita membangun keluarga bangunlah nilai visi misi untuk keluargamu, bangunlah model daripada keluargamu, bangunlah satu nilai prinsip-prinsip bagaimana engkau membangun satu nilai keluargamu dengan benar. maka dengan semuanya sudah beres semua harus dikerjakan dengan penuh keharmonisan, jangan suka percekcokan, jangan suka dengan perang kata-kata, apalagi kalau sampai kita menikah mulai ada penganiayaan itu sangat-sangat tidak baik. jadi disini kita harus belajar daripada Allah Tritunggal di dalam mereka punya visi misi menyelamatkan kita manusia berdosa tidak ada Allah Tritunggal yang cekcok, semuanya dikerjakan dengan harmonis karena punya visi, tujuan yang jelas. Jadi disinilah suami isteri perlu mengerti bagian itu. dan yang kedua kita harus belajar Allah Tritunggal di dalam fungsinya masing-masing, baik fungsi Allah Bapa dalam perjanjian lama, baik fungsi Allah Anak dalam perjanjian baru, baik fungsi Allah Roh Kudus mempertobatkan daripada dunia, menyatakan kebenaran, menghakimi orang-orang berdosa dan mengembalikan kita kembali menjadi anak Allah. jadi peran dan fungsi masing-masing coba tuntun, engkau sebagai seorang suami tunjukan engkau sebagai pemimpin yang baik, engkau sebagai seorang bapak tunjukan jikalau engkau bapak yang baik untuk anak-anakmu, engkau sebagai seorang isteri tunjukan engkau seorang isteri yang baik untuk suamimu, engkau sebagai seorang ibu tunjukan engkau ibu yang baik untuk anak-anakmu, jadi fungsi masing-masing harus dikejar, fungsi masing-masing harus berani untuk engkau buktikan dan engkau kerjakan dengan penuh kebaikan. Dan yang terakhir, Allah Tritunggal mengerjakan segala sesuatu tetapi semuanya tetao menjadi satu, dimana Allah Bapa hadir, Allah Anak hadir, dimana Allah Bapa dan Allah Anak hadir, Allah Roh Kudus hadir, satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jadi suami isteri harus senantiasa bersatu.

 

Sampai batasan apa seorang isteri berdandan secara fisik atau lahiriah?

Semua punya nilai batasan. Ternyata apa yang kita baca tadi daripada Timotius, wanita boleh berdandan tapi harus menggunakan tiga prinsip yaitu sederhana, sopan, dan layak.jadi Alkitab mencatat dalam Yesaya 3 : 16 – 24 ada orang pendandan dihukum Tuhan, khususnya wanita. Sekarang saya tanya adakah laki-laki pendandan? Ada juga. Tetapi kenapa Alkitab tidak mencatat bagian ini? Yesaya 3 mengatakan ada wanita dihukum oleh Tuhan karena sombong dalam gaya mendandan. Ternyata ada orang pakai pakaian yang mahal menunjukan kesombongan, ada orang pakai kalung dan gelang itu menunjukan kesombongan. Jadi kita boleh berdandan yang sederhana, yang sopan dan yang layak, jangan mengandung kesombongan, karena Alkitab berkata dalam bagian ini, orang itu kalau berjalan dengan lehernya, apa maksudnya? Karena lehernya banyak kalung. Jangan seperti itu. jadi pakailah semua yang sederhana, kenapa demikian? Lihat, ALkitab berkata kepada kita dalam Efesus 5 : 29, 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat. Apa artinya? Engkau wanita, engkau pria jaga tubuhmu baik-baik kesehatannya, yang engkau asuh dan yang engkau rawat tubuhmu supaya engkau sehat bisa mendidik daripada anak-anakmu, bisa melayani suamimu dengan baik, bisa membawa keluarga baik-baik, jadi bukan lagi untuk menonjolkan diri di dalam berdandan dan segala sesuatu. 1 Timotius 4 : 8, 8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.  Jadi marilah kita satu keluarga boleh engkau merawat tubuhmu, tetapi tetap yang lebih penting merawat dan menjaga kualitas kerohanian.

 

Jadi disinilah kita belajar bagaimana seharusnya seorang isteri memiliki karakter yang bermutu, baik dimata Tuhan dan karakter yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan.

Karakter Istri yang Takut Akan Tuhan

Categories: Transkrip

Author: gracelia Christanti

Bitnami