Latest Post

Iman dan Perjuangannya

                                      Pdt. Tumpal Hutahaean

 

1 Korintus 10:31, Roma 14:23

Segala sesuatu baik makan-minum, bekerja, mengambil keputusan untuk nilai keluarga, apapun juga yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. 1 Korintus 10:31 dikatakan “jika engkau melakukan segala sesuatu lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah.” Jadi bukan berpusat untuk diri, nama diri, kepopuleran diri, menyenangkan orang lain tetapi untuk menyenangkan hati Tuhan. Dalam Filipi 2:12-13 dan Yakobus 2:17, dijeleskan bahwa manusia bukan designer utama untuk dirinya. Dalam sejarah filosofi ada satu abad perkembangan ratio yang akhirnya masuk dalam pencerahan diri dimana manusia berpikir untuk diri dan self-otonom. Artinya di dalam abad pencerahan menganggap pikiran manusia yang paling utama ini karena pikiran kita sudah jatuh dalam dosa. Pikiran kita sudah berdosa, lemah, dan tidak konsisten. Maka pikiran manusia yang seindah apapun ternyata tidak mengandung satu kekuatan untuk melangkahkan kaki kita dengan konsisten meraih masa depan yang lebih baik.

Di dalam sejarah filsafat klasik Yunani, mereka mengatakan baik sokrates, plato, dan aristoteles bahwa pikiran yang tertinggi itu menunjukkan nilai bijaksana orang. Siapa hidupnya menggunakan pikiran dapat mempengaruhi seluruh hidupnya maka dia adalah orang yang bijaksana. (1) Orang yang tidak bijaksana jikalau perasaan afeksi mengontrol pikiran dan mengontrol akan sikap dan kekudusan.  (2) Orang yang tidak bijaksana adalah melakukan terlebih dahulu kemudian berpikir dan merasakan. Tuhan menciptakan kita sebagai Imago Dei, peta dan teladan Tuhan: pengetahuan, kebenaran dan kesucian. Ketika image of God rusak karena dosa, bagaimana bisa dipulihkan? Manusia secanggih apapun juga pada waktu yang dicipta ternyata mengalami kerusakan tidak mengembalikan dalam kesempuraan. Seluruh gambar Allah kita rusak tapi ternyata di tangan Tuhan kita bisa mengalami satu kesempurnaan kembali. Kita diberikan iman yang percaya kepada Yesus yang mana dimampukan memiliki satu pikiran yang suci kembali, satu nilai rasa yang suci, sikap suci dan keputusan yang tepat berkenaan dengan Firman. Mengapa bisa demikian? Bukan karena kita yang bisa tetapi karena Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Allah turut bekerja untuk setiap apa yang kita kerjakan. Artinya setiap tindakan yang kita lakukan sesuai dengan tujuan yang terbaik daripada Dia. Berarti di sini kita percaya sekali pada waktu kita dimampukan oleh Tuhan, setelah kita menjadi anak Tuhan di dalam kita memiliki cara pikir yang indah menurut Filipi  4:8 dalam nilai rasa kita, afeksi kita, tindakan kita sesuai dengan iman. Semua semata-mata karena ada Allah Roh Kudus yang sudah memateraikan kita sebagai anak-anak Allah.

Mengapa begitu banyak orang Kristen yang akhirnya kurang hikmat? Karena hidupnya tidak rela untuk dipenuhi oleh Kristus 100% setiap hari tetapi masih mengandalkan pikiran, perasaan dan pengalaman pribadi yang kemudian dimutlakkan. Di sinilah kita ingin belajar, Tuhan adalah perancang untuk damai sejahtera kita dan pembentuk karakter kita dengan tujuan menjadikan kita sebagai garam dan terang dunia kita. Anugerah Tuhan menyangkut juga masalah kebebasan. Maka pada waktu kita hidup sudah diberikan kebebasan, apa yang harus kita lakukan? apa yang menjadi tugas kita?

Yang pertama, Kerjakanlah Keselamatan. Di dalam Filipi 2:12, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.” Di sini kita dikatakan kita harus mengerjakan nilai iman keselamatan kita. Bagaimana kita mengerjakan nilai iman keselamatan kita?

(1) The Fear and The Trembling of God (takut akan Tuhan). Di sini mengingatkan kepada kita, bahwa pada waktu iman yang kita kerjakan artinya kita harus memiliki selalu sikap keberserahan. Mungkinkah kita yang mengaku Kristen tapi masih memiliki ego yang tinggi, sehingga pada waktu kita melakukan apapun juga tujuannya membesarkan diri kita? Mungkin, karena kita tidak mengerjakan iman keselamatan yang sudah kita terima dengan sikap The fear of God and The Trembling of God. Di sini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya sikap hati yang takut dan gentar akan Tuhan. Maka kalau hidup kita sudah menjadi milik Tuhan kita harus bersyukur setanpun tidak bisa berkuasa untuk diri kita. Kita bersyukur dunia tidak akan bisa memisahkan kita daripada kasih Tuhan karena kita sudah dimiliki oleh Kristus dan kepemilikan kita adalah pemilikan yang pasti dalam Dia. Artinya kita diingatkan oleh Tuhan jangan memiliki kesombongan untuk diri. Sebab kita diselamatkan karena anugerah Tuhan. Kesuksesan kita karena anugerah. Semua karena anugerah.

(2) Merenungkan Firman Tuhan. Alkitab mengatakan iman bertumbuh dari pendengaran akan Firman. Alkitab akan menjadi keindahan pada waktu menguasai hidup kita dan kita ada dalam Firman. Satu keindahan jikalau kita mengingatkan anak-anak kita membaca Alkitab dan mengadakan persekutuan keluarga. Ternyata kita baru tahu kita menyepelekan anugerah Tuhan, kita masih terjebak dengan mencari kenikmatan yang berpusat untuk diri dan kita lupa menyenangkan Tuhan. Di dalam prinsip Firman Tuhan siapa yang menyengkan Tuhan pasti Tuhan akan memberkati orang itu.

(3) Ketaatan. Firman Tuhan mengatakan satu nilai ketaatan yang konsisten seumur hidup. Maka pada waktu iman kita kerjakan taat untuk terus memuliakan Tuhan, mengerjakan sesuatu berdasarkan iman, senantiasa membaca dan mendalami Firman, senantiasa memberikan perpuluhan, memberitakan Injil, taat untuk senantiasa bersama-sama membangun tubuh Kristus dan taat dalam berdosa semua adalah nilai buah ketaatan kita. Mungkinkah ada orang Kristen yang mengaku Kristen ternyata tidak mengerjakan iman keselamatannya dengan benar dalam nilai tanggung jawab yang benar? Mungkin untuk sementara waktu, tetapi mungkinkah sampai selama-lamanya? Tidak, Alkitab mencatat satu tahun empat bulan Daud tinggal di bangsa Philistine karena menghindar daripada ancaman daripada Saul maka pada waktu dia bersifat cari mana akhirnya melalukan dosa yang besar yaitu kebohongan tetapi tetap Tuhan melihat ini tidak benar. Di sini menunjukkan kepada kita bahwa setiap kita jikalau sudah mengaku punya iman yang benar dan hidup kita sudah dimateraikan oleh Roh Kudus, kalau kita tidak mengerjakan iman keselamatan kita Roh Kudus akan bekerja menggelisahkan kita, tetapi kalau kita yang tidak gelisah berarti memang tidak ada Roh Kudus. Atau sebaliknya kita yang menggelisahkan orang yang taat.

Yang kedua, iman harus dibuktikan dalam langkah iman. Tuhan ingin melihat bukti langkah iman kita. Di dalam Ibrani 11:1 mengatakan iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala seuatu yang tidak kita lihat. Pada waktu kita sudah membangun diri, keluarga dan usaha dengan langkah iman, itulah kunci engkau disertai Tuhan. Orang yang gagal karena tidak berani melangkah, dan ada orang yang gagal karena melangkah terlalu cepat. Pada waktu kita menjadi seorang decision maker, harus didasarkan pada iman kepada Tuhan maka engkau akan mendapatkan penyertaan Tuhan. Tetapi engkau melangkah mengambil keputusan engkau lebih menonjolkan diri, tujuannya untuk uang, lupa Tuhan, jangan harap Tuhan akan menyertai kita. Maka jangan takut melakukan perbuatan yang besar untuk usaha dan keluarga. Di sini kita diajarkan bagaimana langkah iman itulah kunci pernyataan Tuhan. Langkah iman adalah satu keberanian untuk kita mengembangkan diri, berkaitan dengan studi, keluarga, usaha, dan semuanya yang tujuannya untuk menyatakan nilai tanggung jawab kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah membentuk kita menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja. Yakobus 2:17 mengatakan “jikalau iman tidak disertai perbuatan maka iman itu hakekatnya esensinya adalah mati.” Yang paling praktis dikatakan “kalau engkau makan dan minum maka lakukanlah untuk Tuhan.” Iman dalam langkahnya membuat kita menyadari semua yang kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan mematikan ego diri kita. Iman dalam langkahnya membuktikan nilai perjuangan kita, maka iman tidak boleh mati. Iman dalam standar kepuasannya bukan karena aspek rasio dan pengalaman saja. Dalam Ibrani 11:6, Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Di sini bertarti standar kepusan kita beriman karena percaya. Jikalau kita melakukan segala sesuatu tanpa iman sudah membuat kita menjadi berdosa.

Setiap kita pasti punya standar kepuasan, tetapi pernahkah kita memikirkan bahwa Tuhan pun memiliki standar kepuasan dan Tuhan mau dipuaskan hati-Nya oleh kita? Di dalam perjanjian lama harus memberikan korban bakaran, korban ucapan syukur kalau kita berdosa, Tuhan harus dipuaskan dalam nilai daripada diri kita yang mengakui keberdosaan kita dengan memberikan korban penghapusan dosa. Kristus harus mati di kayu salib karena dia memuaskan kemarahan Allah. Pernahkah kita memikirkan Tuhan pun punya satu nilai standar kepuasan yang kita disebut anak-anak Tuhan untuk kita membuktikan bahwa hidup kita harus dengan iman kita memiliki kecerdasan dengan iman? Dengan iman kita membuktikan satu nilai kekuatan untuk kita terus boleh melangkah dengan benar sebagai anak Tuhan sehingga hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Pernah kah kita bepikir berapa banyak orang yang kita pengaruhi untuk orang bisa melihat Tuhan dalam hidup kita? Di sini kita belajar, ternyata iman dalam standar kepuasannya menuntut kita untuk selalu memuaskan hati Tuhan. Iman dalam standar kepuasannya ternyata tidak pernah berfokus untuk diri. Standar yang tertinggi, kepuasan iman pada waktu kamu memuaskan hati Allah dengan cara engkau memahami tentang sifat-sifat Tuhan maka keluarlah dalam emosimu kita mengagumi, mencintai, menyembah, dan menghidupi Firman itu.

 

Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

 

Iman dan Perjuangannya

Categories: Uncategorized

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami