Latest Post

Hikmat Spiritual

Pdt. Tumpal Hutahaean

 

Hikmat spiritual. Spiritual sendiri sudah mengandung hikmat tetapi jikalau Firman Tuhan mengatakan ada satu nilai hikmat spiritual pasti kita akan segera langsung mau bertanya: (1) Apa artinya itu? (2) Mengapa Paulus berdoa supaya jemaat di Efesus mendapatkan hikmat spiritual itu?

Efesus 1:15-17, “Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,  dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” Bukankah di dalam aspek rohani mengandung satu hikmat, bukankah hikmat bisa menjelaskan tentang hal spiritual. Jikalau Firman Tuhan mengatakan ada satu hikmat spiritual maka kita harus mengerti apa maksudnya itu. Roh hikmat berbicara tentang hikmat dan Wahyu untuk mengenal Allah kita dengan benar. Hikmat spiritualitas adalah pekerjaan Roh Kudus yang membantu membukakan pikiran orang-orang percaya supaya mereka dapat mengenal mengerti tentang siapa Yesus. Berarti dalam bagian ini kita mengerti sekali pada waktu kita sudah percaya kepada Yesus, maka kepercayaan kita sebagai fondasi iman yang seharusnya dilanjutkan dengan bagaimana kita membangun bangunan iman kita yang berpusat kepada Kristus. Maka pada waktu bangunan pengenalan kita berpusat kepada Kristus yang adalah Tuhan, pencipta, dan penebus kita tidak mudah untuk kita yang hidupnya penuh dengan kelemahan. Tidak mudah untuk pikiran kita terkontaminasi oleh dosa dan tidak mudah struktur pikiran kita yang tidak lagi bersifat biblical untuk lagi mengerti siapa Yesus adalah Tuhanku. Maka ketika yang dicipta mau mengerti sang pencipta, ini sangat sulit. Karena manusia diberikan keterbatasan dalam berpikir, pengetahuan dan hikmatnya sedangkan Allah tidak memiliki keterbatasan dalam pikiran-Nya, pengetahuan-Nya dan hikmat-Nya.

Dalam bagian ini kita perlu penolong yaitu Roh Kudus. Pada waktu Roh Kudus bekerja memimpin kita masuk satu persatu menikmati Tuhan dalam pengenalan kita akan Dia, Roh Kudus yang memampukan kita untuk terus bisa mengenal siapa Yesus itulah yang disebut hikmat spiritualitas. Hikmat spiritualitas pusatnya adalah Yesus. Hikmat spiritualitas seluruh nilai karakternya mengarah kepada Kristus. Di sinilah kita mengerti bagaimana orang Kristen mengenal dan mengerti, kita jangan cepat puas jikalau kita mengaku mengenal Allah. Banyak orang memiliki pengenalan secara umum tentang siapa Yesus belum tentu setiap orang Kristen memiliki pengenalan secara pribadi siapa Yesus. Dari kecil saya mengerti siapa Yesus secara informasi. Saya mengerti siapa Yesus secara nilai dari ajaran Alkitab karena dari kecil sudah ikut sekolah minggu. Tetapi ketika ditanya kapan saya mengenal Kristus secara pribadi? Yaitu ketika umur 18 tahun, di situlah saya sungguh-sungguh memahami Yesus adalah Tuhan dan Juruselamatku, dan saya memahami diri saya adalah orang yang berdosa. Saya memahami Kristus datang untuk saya yang lemah dan berdosa ini. Maka pengenalan dua arah itu akhirnya menghasilkan yang disebut pertobatan. Jadi mungkinkah orang Kristen hanya mengenal Tuhan dari satu arah saja tetapi belum memahami siapa Tuhan berkaitan dengan dirinya yang adalah orang berdosa. Di sinilah kita harus mengerti mengenal secara pribadi akan mendorong kita untuk semakin haus untuk mengerti apa yang mau kita kenal. Mungkinkah orang Kristen mengenal Tuhan tanpa punya satu dorongan mengerti lebih dalam lagi siapa Tuhan itu? Mungkin, orang Kristen yang sejati mengenal Kristus maka Roh Kudus akan bekerja di dalam diri-Nya ditanamkan satu gairah yang baru, kerinduan yang baru untuk dia mau mengenal lebih dalam siapakah Yesus yang telah mati bagi dosa-dosanya. Kita melihat benih iman yang mula-mula Tuhan tanamkan ternyata benih iman ini akan bekerja melalui pekerjaan Allah Roh Kudus untuk memberikan kita satu gairah, satu spirit, satu nilai kerinduan untuk kita mengenal siapa Yesus. Orang Kristen yang mengaku Kristen seolah-olah sudah diselamatkan ternyata tidak punya kerinduan, tidak punya gairah, tidak punya satu nilai spirit untuk memahami siapa Kristus maka kekristenannya perlu dipertanyakan. Maka dalam bagian inilah mengapa akhirnya Rasul Paulus perlu menekankan satu nilai kerinduannya supaya jemaat Efesus memiliki hikmat spiritual supaya mereka perlahan dipimpin oleh Allah Roh Kudus melalui terang Firman memahami siapa Yesus. Maka jikalau pertanyaan timbul untuk diri kita secara pribadi:

  1. Berapa persen memahami siapa Yesus?
  2. Berapa persen menurutmu yang sudah merubah hidupmu serupa dengan Dia?
  3. Berapa persen yang engkau tahu ternyata tidak merubah hidupmu?

Kita percaya sekali nilai Epistemology of Truth adalah kebenaran jati diri-Nya, Yesus Kristus. Maka Firman Tuhan benar di dalam seluruh beritanya, nilai nubuatan-Nya, dan dalam seluruh nilai arti-Nya. Maka Firman Tuhan tidak perlu kita bela, tambahkan atau pun kurangi karena Dia adalah kebenaran. Mengapa demikian? karena Firman Tuhan adalah logos yaitu Kristus itu sendiri tidak perlu dibela, ditambahkan atua pun dikurangi.

 

Bagaimana kita tau kebenaran yang kita mengerti adalah kebenaran yang dipimpin oleh Allah Roh Kudus untuk memperbaharui kita? Mungkinkah kebenaran yang kita mengerti adalah kebenaran yang bersifat informatif saja tanpa pembaharuan iman yang sejati dimana Firman tidak menjadi nilai being, Firman tidak menjadi satu nilai perombak untuk nilai kelemahanmu, Firman tidak menjadi satu nilai pembaharuan untuk nilai seluruh hidupmu yang belum diubahkan kepada Kristus? Di sinilah kita mengerti seharusnya orang benar yang sudah diterangi oleh kebenaran akan selalu benar. Maka ketika orang Kristen tahu kebenaran tetapi hidupnya tidak benar, di situlah kita baru tahu hidupnya mengalami split-spiritualitas. Di sini hikmat spiritualitas akan mendorong kita jadi orang Kristen yang tidak munafik. Hikmat spiritualitas akan mengarahkan kita menjadi orang Kristen yang benar-benar tahu kebenaran dan menjalankan apa yang dia tahu dalam pertolongan Allah Roh Kudus. Bagaimana semuanya bisa terjadi? Semua bisa terjadi jikalau pada waktu kita baca Firman, mendengarkan Firman, Firman kita biarkan membaca hati kita, pikiran kita, seluruh hidup kita dan dengan kerendahan hati kita selalu berkata ya untuk Firman. Maka pada waktu hidup kita terbuka untuk pimpinan Roh Kudus disitulah akan terjadi kuasa Firman dalam pertolongan Roh Kudus merubah kita.

Efesus adalah pusat keuangan dunia pada saat itu. Efesus kota penting pada saat itu, pusat perdangan tetapi juga Efesus adalah pusat dosa. Oleh karena itulah Paulus dengan sangat serius pada waktu dia dipenjara di Roma menulis untuk nilai peperangan rohani. Menulis untuk satu nilai supaya jemaat di Efesus selalu taat pada pimpinan Allah Roh Kudus dan di situlah ynag disebut namanya Roh Hikmat dan hikmat spiritualitas. Maka saudara kita sendiri yang tau berapa persen pengetahuanmu tentang Kristus yang sudah memperbaharui dirimu? Dan berapa persen pengetahuanmu tentang Kristus yang tidak ada signifikan untuk merubah dirimu? Di sini kita harus berani membuka akan seluruh nilai-nilai pengetahuan kita supaya kita menjadi orang Kristen yang berisi dan memiliki satu nilai bukti hidup kita sudah benar. Kita melihat jikalau kita sudah mengenal Yesus dan sebaliknya nanti Tuhan Yesus juga akan mengenal kita sebagai anak-anak-Nya yang terkasih. Mungkinkah pengenalan yang salah akhirnya mengakibatkan kita tidak dikenal Tuhan? Tetapi kita sudah action secara spiritual seolah-oleh punya hikmat spiritual sementara semuanya salah seperti dalam Matius 7:23 (Lukas 13:27) bagaimana Tuhan menyatakan: “Enyahlah engkau sekalian pembuat kejahatan, Aku tidak mengenal engkau.” Walaupun orang itu mengaku mengenal Tuhan, walaupun orang itu melayani Tuhan dan mengikuti kegiatan gereja secara rutin tetapi Tuhan katakana: “Aku tidak mengenal engkau.”

Apakah hikmat spiritual diberikan kepada semua orang? Ternyata hikmat spiritualitas itu hanya diberikan kepada orang-orang yang percaya dalam hal ini khususnya kepada jemaat di Efesus. Paulus telah mendengar tentang pertumbuhan iman dan kasih daripada jemaat Efesus yang luar biasa di tengah-tengah yang begitu kuat tawaran untuk dosa. Kota yang begitu sangat kuat untuk menganiaya orang Kristen karena kuil-kuil dari arthemis dan Diana, semenjak Injil diberitakan banyak orang Yunani percaya kepada Tuhan maka pendapatan daripada kuil-kuil Arthemis dan Diana menurun. Maka orang yang merasa ekonominya menurun mereka sangat iri dan mereka membuat satu strategi untuk bagaimana membunuh, menangkap dan menyiksa pengikut Kristus. Di tengah kondisi seperti itu di mana Paulus pernah tinggal selama 3 tahun di kota Efesus ternyata Paulus harus pergi karena ada penganiayaan untuk menangkap orang Kristen. Tetapi Paulus melihat setelah itu ternyata di tengah-tengah kondisi seperti itu beberapa jemaat Efesus iman dan kasihnya bertumbuh dan inilah yang luar biasa. Jikalau iman dan kasih kita bertumbuh saat kita sukses di saat semuanya aman itu mudah. Tetapi dalam konteks Efesus itu tidaklah mudah. Maka hal ini sungguh sangat menghibur hati Paulus dan mengucap syukur untuk semuanya itu. Paulus percaya sekali apa yang memampukan jemaat Efesus untuk memiliki satu terobosan iman, memahami siapa Tuhan, memahami pertumbuhan iman mereka, kasih mereka, Paulus yakin itu semua hanya karena hikmat spiritualitas. Artinya jemaat Efesus memiliki perjuangan dan tanggung jawab di tengah kondisi yang sangat sulit mereka tetap ditolong Roh Kudus untuk mereka semakin percaya dan semakin mengagumi dan membesarkan siapa Yesus. 1 Korintus 2:14 “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Puji Tuhan di tengah kesulitan apapun juga, di tengah tantangan apapun juga, di tengah pergumulan apapun juga jikalau kita mengasihi Tuhan Allah Roh Kudus akan bekerja. Memberikan kepada kita hikmat spiritualitas untuk kita memahami Yesus dan melaluinya kita menang atas pergumulan kita. Kita melihat ada satu relasi yang indah saya memahami siapa Yesus dalam petolongan Allah Roh Kudus, maka saya pun semakin mendapatkan hikmat untuk melewati akan setiap tantangan demi tantangan. Saya tidak melihat itu lebih besar. Tetapi melihat lebih besar adalah pengenalan saya akan Tuhan akhirnya membuat saya percaya akan kekuatan-Nya dan pertolongan-Nya. Mengapa Daud setelah diurapi oleh Samuel perlu menunggu waktu 20 tahun menjadi pemimpin? Mungkin saja kita sudah dipersiapkan oleh orang tua kita untuk menjadi pemimpin generasi berikutnya tetapi orang tua yang baik pasti akan memproses kita hingga matang. Demikian dengan Daud mengangkat Samuel untuk mengurapi Daud hingga 20 tahun kemudian baru menjadi pemimpin. Artinya tidak ada sesuatu bersifat instan. Dan salah satu yang diproses adalah iman. Rasul Paulus memiliki komitmen dan dan Dia membuktikan betapa pentingnya satu hikmat spiritualitas yang memampukan kita untuk mengerti apa artinya kita hidup. Filipi 3:9-10 “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Puji Tuhan ternyata yang ku kehendaki ialah mengenal Dia, kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya supaya aku serupa dengan Dia. Biarlah hal ini menggaris bawahi kita betapa pentingnya kita hidup sebagai orang Kristen memiliki tanggung jawab iman. Betapa pentingnya kita hidup sebagai orang Kristen terus bersandar akan pertolongan Tuhan supaya hikmat spiritualitas dari pekerjaan Roh Kudus menolong dan memampukan kita untuk semakin memahami siapa Yesus dan melalui-Nya hidup kita dikuatkan akan diteguhkan. Maka bagaimana supaya keluarga kita teguh? Bagaimana supaya keluarga kita kuat? Arahkan keluarga menjadi satu model yang terus menjadi murid kebenaran dengan belajar Alkitab dan harus mencintai Yesus. Di sinilah kita percaya yang membuat kita teguh bukan karena hebatnya kita, tetapi sampai sejauh mana Kristus yang kau kenal berakar dalam hidup mu dan berakar dalam nilai keluargamu.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Hikmat Spiritual

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami