Latest Post

Dinamika Reformasi Spiritualitas Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th

Categories: Transkrip

Pada 31 Oktober 1517 reformasi gereja ditegakkan, kurang lebih 507  tahun yang lalu. Reformasi menjadi satu turning point kebenaran boleh kembali kepada esensinya yaitu kebangunan spiritual dan mandat budaya kembali kepada nilai-nilai kebenaran Kristus. Dimana seluruh anak-anak Tuhan yang bekerja harus menghadirkan nilai-nilai Kristus didalam kebenaran, kesucian dan akan keadilan Tuhan. Yang penting juga bahwa reformasi mendorong semangat misionir dari Gereja yang menegakkan tonggak kebenaran back to the Bible. Martin Luther menyatakan mengenai 5 sola yaitu hanya iman (Sola Fide), hanya alkitab (Sola Scriptura), hanya Kristus (Solus Christus), hanya anugerah (Sola Gratia) dan segala kemuliaan hanya bagi Tuhan (Soli Deo Gloria).

Bagaimana dengan Dinamika Reformasi Spiritualitas? Mungkinkah terjadi pasang surut? Reformasi yang sesungguhnya dikerjakan oleh Tuhan sendiri dan dalam nilai tanggung jawab kita yang dilengkapi dengan pertolongan Allah Roh Kudus. Spirit refomasi dalam nilai spiritualitas adalah satu kebangunan yang akan tetap dan terus mencapai satu kegenapan dimana melalui seluruh kehidupan kita. Reformasi dalam kebangunannya tidak membangun satu karya untuk memperkaya diri. Reformasi dalam tonggak sebenarnya tidak menumbuhkan kekuasaan kita makin bertambah, tapi reformasi yang sesungguhnya makin menghancurkan kekerasan hati kita untuk menyadari siapa Yesus yang adalah Tuhan dan Juruslamat kita. Kristuslah segalanya dan kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Kristus. Reformasi juga membangun sikap hati kita untuk hidup takut akan Tuhan, takut berbuat dosa, takut hidup kita menyedihkan hati Tuhan, kita takut jikalau hidup kita dibuang oleh Tuhan. Disinilah kita mengerti, manusia yang dicipta oleh Tuhan merupakan satu pribadi yang unik karena kita dicipta didalam peta dan teladan Allah yang memiliki bermacam-macam kebutuhan. Ada kebutuhan spiritualitas dimana manusia harus beribadah kepada Tuhan. Dan manusia juga mahkluk sosial dimana berelasi dengan sesamanya. Dan kita juga bisa berelasi dengan alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Kita juga makhluk biologis dimana kita membutuhkan makanan, minuman, dan istirahat. Kita pun disebut makhluk psikologis, dimana ada relasi emosional dan aktualisasi emosi. Sebagai makhluk spiritualitas, makhluk sosial, makhluk biologis dan makhluk psikologis.

Tapi alkitab mencatat manusia jatuh didalam dosa. Dosa merusak segala aspek manusia: spiritualitas, sosialitas, biologis, psikologis. Setelah jatuh dalam dosa relasi kita menjadi rusak. Relasi dengan Tuhan rusak, relasi dengan sesama manusia rusak, relasi dengan binatang rusak, relasi dengan alam juga rusak ternyata relasi dengan kebutuhan diri kita pun menjadi rusak karena manusia setelah jatuh dalam dosa tidak punya lagi konsep cukup. Ketika Israel dipimpin oleh musa keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan akhirnya membutuhkan waktu 40 tahun berjalan di padang belantara, mereka selalu bersungut-sungut dan melihat di Mesir lebih baik. Mereka minta makan, Tuhan berikan manna yaitu roti dari surga. Mereka minta minum, Tuhan kasih air yang terbaik dari batu. Mereka minta daging, dikasih burung puyuh. Tetapi apakah mujizat ini membangun satu pengenalan yang sejati daripada Tuhan? Tidak. Jadi disinilah kita mengerti bahwa iman dibangun bukan atas dasar mujizat. Maka disini kita melihat Alkitab sudah memberitahu kepada kita kerusakan manusia itu secara total, bukan secara parsial. Tapi syukur kepada Tuhan karena manusia belum sampai pada kehancuran. Kejadian 3 : 15, memberitahukan kepada kita satu nubuat tentang kemerdekaan yang sejati yang dikerjakan oleh Kristus karena Dia menang atas dosa, menang atas kematian, menang atas bujuk rayu setan, dan menang atas segala kutuk dari setan. Tetapi saudara, kita melihat proses daripada reformasi ternyata berkaitan dengan covenant. Ada perjanjian Tuhan yang diberikan kepada Adam untuk menggembalakan dan memelihara alam ciptaan untuk dikembalikan kepada Tuhan. Manusia menjadi wakil Tuhan didunia. Ada juga covenant dengan Nuh, dimana Tuhan sudah menjanjikan kepada Nuh bahwa Tuhan tidak akan lagi memusnahkan umat manusia secara umum dengan air bah. Pelangi lambang dari penyertaan Tuhan atas orang yang taat. Maka kepada siapa yang tidak taat, Tuhan akan memberikan keadilan. Tuhan memberikan covenant kepada Abraham. Simbolnya yaitu setiap anak laki-laki yang berumur 8 hari harus disunat dan diserahkan kepada Tuhan sebagai tanda pemilikan Tuhan. Dalam covenant tuntutan adalah ketaatan total bukan parsial. Saul taat mengalahkan bangsa Amalek, tapi Tuhan

sudah meminta memusnahkan seluruh bangsa Amalek, ternyata raja Agag tidak dia bunuh, kambing domba dan lembu sapi yang gemuk-gemuk tidak dia bunuh. Ia tidak taat total 100%. Abraham teruji ketika dia mempersembahkan Ishak, dia taat total. Semua ini mengajarkan kepada kita tanpa pertolongan Tuhan, tanpa benih Firman memenuhi kehidupan kita, tanpa kita menyadari akan kehadiran Tuhan maka siapapun tidak akan bisa hidup suci berdasarkan kekuatan dirinya sendiri. Musa menjadi satu tonggak reformasi spirit covenant kesucian secara total. Daud menjadi prototype kita, covenant Kingdom of God, dimana Tuhan berjanji menegakan kekuasaan tertinggi yaitu Kristus.

Martin Luther lahir 10 November 1483, dan dia meninggal 18 Februari 1546, berarti berumur 62 tahun. Dia menghasilkan 95 dalil di Wittenberg tetapi Gereja itu sekarang kosong. Berarti kalau saat kejadian itu 31 Oktober 1517 dan sekarang kalau Martin Luther melihat tempat itu pasti menangis. Karena reformasi hanya bersifat event di kota Wittenberg, bukan bersifat momentum yang terus menerus. Maka Tuhan membangkitkan John Calvin di Jenewa yang mana menegakkan kebenaran alkitab. Maka kita tahu bagaimana Calvin yang dilahirkan tanggal 10 Juli 1509 dan dia mati 27 Mei 1564, berarti berumur 54 tahun, dia mengembalikan penegakan kebenaran kepada satu kebenaran yang tidak boleh dikompromikan. Maka kita bersyukur, 507 tahun reformasi ditegakan. Apakah kita masih menghidupi spirit reformasi itu secara spiritualitas?

Pertama, Titus 3:5 dikatakan: “Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.” Hal ini sangat sinonim dengan Efesus 2:8, kita diselamatkan bukan karena kebaikan kita, tetapi karena anugerah Tuhan. Tapi Titus 3:5 lebih lagi menjelaskan caranya melalui permandian kelahiran kembali oleh Roh Kudus. Agustinus terdorong membaca Roma 13:13-14, Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.  Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Saat itu dia sedang mencari kebenaran yang sejati. Dia pernah terjebak dengan manichaeanisme, agama media Persia. Dia terjebak dengan perzinahan. Maka disitulah dia menyadari, agama itu tidak mungkin bisa mengikat kepada sesuatu bersifat kedagingan. Maka dia tinggalkan manichaeanism, dia mulai mengikuti neoplatonisme. Dia tidak puas hidup dengan neoplatonisme, dia cari lagi kebenaran dan mulai mendengar kotbah-kotbah Ambrosius. Sampai akhirnya, ia mendengar nyanyian dari anak kecil yang mengajak: “Kemarilah, kemarilah, bacalah dan bacalah”. Ia membaca Roma 13:14-15. Ia menyadari Kristus adalah senjata terang. Di dalam kebenaran Kristus Agustinus yakin akan menemukan kekuatan untuk hidup terang. Ternyata kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang. Ternyata terang itu tidak ada di manichaeanisme, terang itu bukan ada didalam nilai neoplatonisme, ternyata terang itu ada didalam logos, yaitu Kristus itu sendiri. Maka disitulah dia bertobat.

Titus 3:5 mengatakan: dipermandikan oleh Roh Kudus. Ini mengingatkan kita dalam Yohanes 3 dimana menggabungkan konsep perjanjian lama dalam terang perjanjian baru. Yohanes 2 menceritakan tentang pernikahan di Kana, air diubah menjadi anggur, itu simbol titik mula mujizat yang pertama. Tuhan Yesus langsung menyatakan mujizat pertama menyatakan air sebagai nilai pentahiran dalam perjanjian lama, dalam perjanjian baru yang mentahirkan adalah darah, disimbolkan dengan anggur. Tuhan ingin memakai satu nilai momentum di dalam pernikahan untuk menyatakan air diubah menjadi anggur. Inilah waktunya penyucian melalui darah Kristus, inilah waktunya penyucian dengan kita percaya kepada Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kita bisa mengalami itu pada waktu hati kita sudah diterangi oleh Roh Kudus. Disitulah kita mengakui keberdosaan kita, mengakui Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Bulan Oktober tanggal 12 sampai 14, pada waktu umur saya memasuki 18 tahun disitulah saya mengalami kelahiran kembali di dalam suatu retreat yang saya ikuti. Waktunya jam 7.30 sampai jam 9.15, dan disitu saya sungguh-sungguh mengenal Tuhan secara pribadi. “Dia adalah Tuhanku, Dia adalah Juruselamatku”. Maka setelah acara KKR selesai daripada retreat itu airmata saya tidak pernah berhenti. Didalam waktu dibagi kelompok, semua orang bisa menyaksikan apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam diri mereka dengan berbicara lancar, saya sendiri yang sulit berbicara dengan lancar karena ada kesedihan Rohani, ada dukacita rohani. Saya adalah penyedih hati Tuhan, pemunafik besar, orang yang mempermainkan nilai keagamaan. Setiap minggu ke Gereja tapi setiap minggu saya mempermainkan Tuhan. Maka saudara, peristiwa demi peristiwa itu seperti pada waktu saya melihat seluruh kebobrokan hati saya. Maka peristiwa itu bagi saya itu yang disebut permandian kelahiran kembali yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Jadi setiap kita jikalau mau mengalami dinamika reformasi spiritualitas harus melalui kelahiran kembali. Jikalau kekeristenan tanpa kelahiran kembali, kita adalah pemunafik besar. Yohanes 3 membahas mengenai kelahiran kembali. Nikodemus tidak mengerti, maka Yesus menjelaskan bagaimana kita akan dilahirkan kembali, kita tidak akan mengerti kapan waktunya karena itu seperti angin. Maka dinamika reformasi spiritualitas harus dimulai melalui kelahiran kembali.

Kedua, Roma 12:2, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Di sini kita mengerti setelah kita mengalami kelahiran kembali, ada pembaharuan yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus. Di sini kita melihat harus ada pembaharuan yang dikerjakan dalam nilai tanggung jawab dan akal budi kita. Pada waktu kita sudah mengalami pembaharuan daripada Allah Roh Kudus maka kita dimampukan untuk menghidupi kembali tanggung jawab secara vertikal dan horizontal. Maka didalam bagian ini Paulus dengan jelas mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini”. Dunia ini pusat hidupnya adalah diri mereka dalam keinginan dan kepuasan. Dunia ini selalu mentuhankan manusia dalam kekuasaannya, didalam kekayaannya, didalam kenikmatannya, tidak pernah meninggi Tuhan didalam satu nilai kemulian-Nya. Dan dunia selalu menawarkan segala sesuatu kesenangannya yang bersifat sesaat. Maka dalam konteks bagian inilah, dinamika reformasi spiritualitas adalah dinamika reformasi spiritualitas yang membangun tanggung jawab kita karena kita mengenal identitas kita. Pengenalan identitas kita yang baru dalam Tuhan membuat kita komitmen untuk mengalami pembaharuan reformasi yang terus menerus supaya kita tidak sama dengan dunia ini. Disinilah kita mengerti dinamika spiritualitas didalam aspek spirit reformasi kita, kita harus mengenal diri kita ditebus oleh Kristus. Darah Kristus sudah menyucikan kita, maka kita harus punya komitmen tidak boleh sama dengan dunia ini. Dunia ini akan hancur didalam setiap hawa nafsunya. Kita harus punya nilai tanggung jawab secara spiritual. Mengenal dirimu sudah mengalami pembaharuan dalam Kristus melalui pekerjaan Allah Roh Kudus membuat kita punya identitas berani tampil beda tidak mau sama dengan dunia ini dalam pola berpikir dan rasa. Kita harus terus berani berubah oleh pembaharuan akal budi yang sudah diperbaharui oleh Tuhan. Pembaharuan oleh akal budi itu harus terus-menerus kita kerjakan melalui firman yang kita baca. Maka firman itu baik untuk mengoreksi kita, memperbaiki kita dan memimpin kita dalam kebenaran. Dan disitulah akhirnya kita bisa membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik, yang diterima, yang berkenan. Roma 5:6, 8 dan 10 itu khobah sentral saya di Timika, yang mana bicara tentang kasih. Kristus mati bagi kita ketika kita lemah. Lemah dalam cara berfikir, lemah dalam etika, lemah dalam kesucian. Kristus mati ketika kita berdosa, saat kita selalu memberontak kepada Tuhan, selalu memanfaatkan kebebasan untuk kepuasan diri, kenikmatan diri, tidak punya aspek takut akan Tuhan. Roma 5:10, Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!  dikatakan Kristus mati bagi kita ketika kita menjadi seteru Tuhan. Karena kita hidup sudah diperbaharui oleh Tuhan dan kita memperbaharui terus dalam nilai tanggung jawab kita.

          Yang terakhir, Ibrani 9:10, “Karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.” Tentang bagaimana kekudusan Tuhan, harus diatur oleh Tuhan. Dalam bait Allah ada ruang suci dan maha suci. Ruang suci tempat kaki dian, mezbah dan roti sajian. Ruang maha suci ada tabut perjanjian berisi tongkat harun, loh batu berisikan firman Tuhan. Peraturan-peraturan mengandung satu nilai kekudusan itu punya nilai satu kemutlakan untuk kita jalankan. Dan pada waktu kita hidup secara horizontal ada sesuatu yang dilarang makanan dan minuman, ada sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh, ini mengajarkan tentang etika hidup. Tetapi didalam bagian Ibrani 9:10 mengingatkan kepada kita, itu semua hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, peraturan-peraturan untuk kita beretika itu baik yang mengandung satu nilai kekudusan. Disini mengajarkan kepada kita etika sonum bonum (kebaikan yang tertinggi bagi Tuhan) dan etika basilia (kerajaan Tuhan yang berpusat kepada Kristus dan segala kebenarannya). Etika yang mengandung satu kebenaran, bukan hanya bersifat deontologi, tetapi mengandung satu nilai kemuliaan untuk Tuhan. Etika yang diatur untuk hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Kita menjadi agen moral, agen kesucian dan agen perubahan. Tetapi dikatakan hanya berlaku sampai tiba waktunya pembaharuan yang sejati dimana kita diperbaharui total, mendapatkan tubuh yang dipermuliakan. Dalam 2 Raja-Raja 23:25, Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia. Yosia mengembalikan ibadah kepada nilai Allah Yahweh yang benar, menghancurkan semua mezbah-mezbah berhala, mengembalikan nilai kesucian Tuhan. Yosia menegakan etika yang mengandung pembaharuan untuk kembali kepada Tuhan. Maka Paulus mengatakan dalam Efesus 5:14, Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Kita harus bangun supaya tidak tidur dalam dosa, dan menyongsong terang Tuhan yang akan memakai kita.

Dinamika reformasi spiritualitas memimpin kita kepada kelahiran kembali, mengenal diri dan memiliki tanggung jawab rohani untuk tidak serupa dengan dunia ini dan beretika sesuai dengan kebenaran Allah untuk menjadi berkat bagi orang lain sehingga kita menjadi agen pembaharuan dimanapun kita berada dan menyatakan damai kepada setiap manusia berdosa harus kembali kepada Tuhan dan semuanya itu harus kita jalankan. Pembaharuan yang sejati yaitu pembaharuan dari atas ke bawah, dimana Kristus datang dari kekekalan akan mengakhiri dunia, tapi juga mengangkat kita untuk hidup dalam kekekalan. Biarlah firman tuhan ini mengingatkan kita satu dinamika reformasi spiritualitas yang harus kita sama-sama pelajari dan apa yang Tuhan maksud yang harus kita hidupi.

Author: gracelia Christanti

Bitnami