Latest Post

                                  Cinta, Cara Pandang dan Konsistensi Iman

                                                                 Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E.

 

2 Korintus 8:3

Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.”

Di dalam bagian ini Rasul Paulus sangat memuji jemaat di Makedonia. Mengapa? karena kualitas iman mereka. Kita akan belajar ternyata keindahan dari gereja secara personal dan secara nilai kepercayaan bukan dilihat dari kemegahan bangunannya tetapi dilihat dari pribadi orang yang sungguh-sungguh memiliki iman yang hidup yang akhirnya melampaui setiap situasi. Kita bisa melihat betapa jemaat Makedonia di tengah-tengah banyak kesulitan dan penderitaan yang sangat hebat mereka tetap memiliki iman yang hidup dan mengutamakan pekerjaan Tuhan. Mereka melihat pekerjaan Tuhan yang harus mereka realisasikan jauh lebih besar dibandingkan dengan penderitaan dan kesulitan yang mereka alami. Kita melihat jemaat Makedonia yang sedang susah dan menderita tetapi justru mereka tidak merasakan penderitaan itu. Ada rahasia yang kita bisa pelajari bagaimana jemaat Makedonia tidak pernah melihat kesusahan dan penderitaan menjadi sesuatu yang besar karena melihat Tuhan yang memelihara dan menyertai mereka jauh lebih besar.

Dalam 2 Korintus 8:3, terdapat frase “aku bersaksi”. Artinya Paulus berkata dengan jujur bahwa jemaat di Makedonia sudah bisa membuktikan kasih yang hidup bukan karena mereka kaya, kekuasaan, ataupun kelimpahan yang mereka miliki tetapi keindahan hidup mereka justru nyata dalam buah kasih mereka dikarenakan iman yang hidup. Jemaat Makedonia tidak pernah diharapkan oleh para rasul untuk terlibat penginjilan kepada orang-orang di Asia atau pun di Eropa. Namun, Rasul Paulus menyaksikan bahwa mereka telah menggerakkan diri mereka sendiri untuk memberi menurut kemampuan mereka bahkan melampaui kemampuan mereka.

Apakah yang diamati oleh Rasul Paulus akan jemaat di Makedonia? Adanya kekuatan lebih yang mereka miliki. Mereka tidak kaya dan tidak punya kenikmatan hidup sebagaimana orang lain punya. Rasul Paulus menyelidiki ada kekuatan apa yang mempengaruhi jemaat di Makedonia untuk mereka mau memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Mari kita perhatikan, ada kata “melampaui” yang di dalam istilah bagian bahasa yunani menggunakan kata dunamis”. Frase “according to their means” menjadi “beyond their means”. Ada satu loncatan, perubahan dan nilai dinamika terjadi. Kita mau terus bersifat yang “melebihi” segala sesuatu untuk pekerjaan Tuhan.

Mengapa jemaat di Makedonia bisa memberikan bahkan melampaui kemampuan mereka?

Pertama, karena cinta kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya. Kata “dunamis” tenyata sering dipakai di dalam hukum pernikahan orang Yahudi bahwa mereka harus menyatakan responsibility mereka berkaitan dalam hal kemampuan khususnya bagi para suami. Kata ini berkaitan dengan kualitas cinta dan tanggungjawabnya. Ketika cinta itu hidup, cinta itu bisa melahirkan perjuangan, tanggungjawab dan pengorbanan. Kita selalu terdorong untuk memberikan yang terbaik kepada orang yang kita cintai bahkan melebihi kemampuan kita. Ketika kita mencintai istri kita, maka kita akan berusaha memberikan yang terbaik untuk membuat mereka bahagia. Ketika kita cinta kepada keluarga kita, maka kita akan rela berkorban untuk keluarga. Karena jemaat di Makedonia memiliki cinta terhadap Kristus, mereka menyadari pengorbanan Tuhan begitu besar atas hidup mereka, menyadari kasih Tuhan yang ajaib yang telah mati untuk dosa-dosa mereka. Maka pada waktu mereka mengalami penderitaan dan kesulitan bahkan kemiskinan semua tidak dibaca menjadi sesuatu yang lebih penting daripada pekerjaan Tuhan yang sudah terbukti kasih-Nya bagi mereka. Cinta mereka terhadap Tuhan membuat mereka mau berkorban dan mau memberikan yang terbaik untuk pekerjaan Tuhan. Kita harus terus berani mengkoreksi nilai cinta kita terhadap Kristus.

Kedua, memiliki cara pandang yang berbeda di dalam Kristus. Jemaat di Makedonia ingin terus menghasilkan buah kasih, tidak lagi melihat harta, tenaga dan waktu atau pun keuntungan diri. Bahkan mereka mendesak Rasul Paulus agar mereka diperkenan untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Di sinilah kita melihat bagaimana mereka telah mempersembahkan diri mereka dengan total kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1 dikatakan “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Kata kudus dalam bahasa yunani menggunakan kata “naos” dengan “hagios”. Kata naos menunjukan kekudusan secara materi atau secara nilai keberadaan yang bisa dilihat. Sedangkan hagios menunjukkan satu nilai kekudusan secara esensi. Ketika kita mempersembahkan diri kita menjadi satu persembahan yang hidup itu berkaitan dengan nilai tanggung jawab. Kita diajar bagaimana seharusnya kita membangun diri dalam Kristus dan berani mempersembakan hidup kita yang terbaik bagi Tuhan. Jemaat di Makedonia melihat diri mereka sekarang menjadi milik Tuhan maka mereka terus mempersembahkan diri mereka sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan. Mereka mau mendukung segala sesuatu yang bersifat jelas untuk Injil diberitakan dengan murni. Tuhan mengajarkan kepada kita agar iman kita cemerlang dan indah seperti mutiara dan berlian. Kita harus terus berdoa agar Tuhan merubah cara pandang kita berdasarkan cara pandang Alkitab. Terkadang kita mau melayani Tuhan menunggu sukses dan sempurna. Tetapi bisakah kita melayani Tuhan sebelum hidup kita sempurna? Tidak bisa, karena sempurna yang ada pada kita itu bersifat esensi dalam status, tetapi dalam nilai hidup kita sedang diproses menuju kesempurnaan. Kita belajar mengapa iman bisa menerobos situasi? Karena iman itu hidup.

Ketiga, memiliki konsistensi iman yang hidup yang melahirkan satu kerinduan untuk melayani Tuhan lebih lagi. Sebetulnya Rasul Paulus tahu sekali jemaat-jemaat Makedonia sedang susah karena itulah Rasul Paulus tidak mau untuk mereka terlibat tetapi karena mereka memiliki satu aspek konsistensi yang hidup yang akhirnya melahirkan kerinduan dan kerelaan untuk pekerjaan Tuhan. Seperti dituliskan dalam 2 Korintus 8:4 “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” Jemaat Makedonia di tengah kesulitan dan sangat miskin justru mereka mendesak karena mereka tidak mau ketinggalan berkat Tuhan dan tidak mau terlepas daripada kasih karunia Tuhan. Di sinilah kita belajar bagaimana Alkitab dengan jelas mengatakan konsistensi iman akan melahirkan kerinduan untuk kita terus melayani Tuhan. Kalau kita punya kerinduan, kita akan punya desakan-desakan untuk memenuhi gereja ini. Tetapi kalau kita tidak punya lagi kerinduan dan desakan untuk membawa jiwa itu tandanya kita tidak sehat. Maka kita harus berdoa supaya kita memiliki kerinduan untuk hidup kita dipakai di Cikarang ini. Kita melihat bagaimana jemaat di Makedonia menjadi contoh untuk menggerakkan jemaat Korintus. Rasul Paulus memberikan keteladanan dari jemaat Makedonia supaya jemaat Korintus mendukung pekerjaan Tuhan di Yerusalem.

Biarlah Firman Tuhan ini mengajarkan kepada kita untuk : (1) Memiliki kualitas cinta terhadap Kristus yang melahirkan satu pengorbanan dan perjuangan dengan nilai tanggung jawab, (2) Memiliki cara pandang berbeda tentang harta, pikiran, waktu dan seluruh hidup kita yang mana harus dibawa sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan, (3) Memiliki konsistensi iman yang melahirkan satu kerinduan dan dorongan untuk terus melayani Kristus. Biarlah kita terus digerakkan oleh Allah Roh Kudus untuk mempersembahkan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Cinta, Cara Pandang dan Konsistensi Iman

Categories: Transkrip

                                                                 Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E.
Author: gracelia Christanti

Bitnami