Latest Post

                  Bermegah di dalam Tuhan / Glory in The Lord

                                             Pdt. Tumpal Hutahaean

 

2 Korintus 10:12-18

Bagaimana kita bisa membedakan antara buah yang baik dengan buah yang tidak baik? Bagaimana kita tahu kalau iman kita baik atau tidak baik? Bagaimana kita tahu kalau dia adalah orang Kristen yang sungguh-sungguh sejati atau kurang sejati/tidak baik? Maka kita harus melihat dari buah imannya. Dalam bagian inilah kita melihat bagaimana Rasul Paulus menghadapi guru-guru palsu dan menghadapi sekelompok orang yang akhirnya menyerang dia. Dalam bagian yang kedua ini Rasul Paulus menyatakan satu nilai kesejatian dari iman yang benar. Iman yang benar akan menghasilkan bentuk orang yang sungguh-sungguh hidupnya rendah hati bukan menyombongkan diri. Ini bukan panggilan dari kekristenan. Di sinilah Rasul Paulus melihat para pengikut guru-guru palsu dan juga para pengikut dari iman yang tidak benar akhirnya dari buahnya adalah menyombongkan diri. Mereka merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain, mereka menganggap diri mereka paling benar dan orang lain tidak benar. Di dalam bagian inilah Rasul Paulus mengatakan dalam ayat 12 memang kami tidak berani menggolongkan diri kami dengan orang-orang tertentu yang memuji diri sendiri. Ketika orang beribadah ternyata untuk mendapatkan pujian dan ini membuktikan buah iman yang tidak benar yang akhirnya guru-guru palsu dan para pengikutnya menghasilkan bentuk kesombongan yang bersifat pasif/aktif. Artinya kesombongan pasif yaitu kesombongan yang tidak pernah diekspos melalui kata-kata. Namun ini bentuknya juga adalah kesombongan. Mengapa demikian? karena dia menonjolkan diri dengan apa yang dia punyai atau pun capai melalui prestasinya dan melalui bisnisnya. Maka jikalau ada orang Kristen mengaku Kristen tetapi tidak bertobat akan lebih jahat daripada non Kristen. Jadi mengaku Kristen ternyata belum sungguh-sungguh terima Tuhan dan belum sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan, kekristenannya yang bersifat palsu akan lebih jahat daripada orang non Kristen. Di sini kita melihat kekristenan akan dilihat dari buahnya. Kita menjadi orang Kristen di dalam Kristus tidak pernah membangun satu kemegahan berdasarkan hal seperti ini.

Pertama, iman meruntuhkan kesombongan diri.Rasul Paulus mengingatkan kepada pengajar-pengajar sesat dan kepada orang-orang Kristen yang imannya palsu bahwa buah mereka adalah tidak benar. Karena itulah di sini kita belajar ketika iman benar akan menghasilkan pikiran, afeksi, kata-kata dan perbuatan yang benar. Sedangkan iman yang salah akan menghasilkan pikiran, afeksi, kata-kata dan perbuatan yang salah. Berarti di sini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya menjadi orang Kristen memiliki dasar iman yang benar. Maka pada waktu kita melihat ada orang-orang Kristen karena tradisi, pengalaman dan karena rasionalitas tetapi tidak punya fondasi iman yang benar, orang-orang seperti inilah yang akhirnya merusak citra kekristenan. Karena itulah alangkah bodohnya mereka karena mereka melihat diri lebih benar, padahal mereka adalah orang yang akan dianggap Tuhan tidak ada. Mengapa? Karena, dalam Lukas 18:9, Tuhan Yesus berkata orang farisi yang berdoa itu direndahkan sedangkan pemungut cukai dibenarkan. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya “ya Allah, aku mengucap syukur kepadamu, aku tidak sama dengan orang lain, aku bukan perampok, aku bukan orang lain, bukan pejinah bahkan aku bukan seperti pemukut cukai ini.” Di sini tidak melihat keberdosaan tetapi melihat kesombongan diri. Tetapi pemungut cukai tidak berani menengadahkan wajahnya ke langit, dia mengukur diri dan mengatakan “Ya, Allah kasihanilah aku orang berdosa ini.” Pemungut cukai melihat dirinya berdosa maka nyata pengampunan Tuhan dan pulang sebagai orang yang dibenarkan. Ketika kita meninggikan diri maka kita harus hati-hati karena kita akan direndahkan oleh Tuhan. Biarlah kita menjadi orang Kristen yang bersifat humble (rendah hati). Kita belajar bagaimana iman yang benar akan merontokkan kesombongan-kesombongan kita dan seluruh keinginan kita untuk menonjolkan diri. Mungkinkah ada orang Kristen yang akhirnya terus menghidupi kesombongan diri? Tidak mungkin, karena Roh Kudus kalau bekerja menggarap kita kuasanya lebih besar. Melalui hidup kita yang sudah ditebus oleh Kristus, kita akan memuliakan Tuhan bukan berdasarkan dari pada hal fisikal tetapi melalui karya pelayanan kita. Rasul Paulus mengingatkan kepada kita untuk mengejar hidup yang benar menyatakan Kristus maka kita akan memiliki martabat Kristen yang sejati.

Kedua, iman memimpin kepada etika hidup yang benar. 2 Korintus 10:13-14, “Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga. Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu.” Iman yang baik akan memampukan kita mengerti satu etika pelayanan. Dalam bagian ini Rasul Paulus mengatakan “Tuhan punya kedaulatannya dan Tuhan punya aturan mainnya ketika kita melayani kita tahu di mana kita sedang melakukan pertandingan iman.” Dan hal yang sama Rasul Paulus katakan juga dalam 1 Korintus 9:24-27, Rasul Paulus mengatakan kita adalah pelari-pelari iman dan pejuang-pejuang iman yang sedang mengikuti pertandingan iman untuk bagaimana hidup kita memenangkan banyak jiwa dan meluaskan Kerajaan Allah. Kita harus hidup dengan satu focus tujuan hidup bagi Tuhan. Dan dikatakan lagi “kalau aku menjadi seorang petinju, aku memukul.” Ayat selanjutnya dikatakan “karena itulah aku melatih tubuhku supaya menguasai seluruhnya.” Setiap olahraga harus ada pemenang tetapi lebih penting lagi Alikitab mengatakan bahwa olahraga badani terbatas adanya tetapi olahraga rohani tidak terbatas adanya. Di sinilah mengingatkan kepada kita bagaimana kita harus punya etika hidup dan pelayanan. Guru-guru palsu dan pengikut-pengikutnya tidak pernah peduli karena mereka mau merebut tempat pelayanaan Rasul Paulus di Korintus. Kita harus terus melatih tubuh rohani dan iman kita supaya kita memiliki penguasaan diri.

Dalam 2 Korintus 10:15-16 Rasul Paulus menjelaskan dia sebenarnya sangat rindu sekali untuk melayani bukan hanya di Korintus tetapi juga di luar kota Korintus karena Kerajaan Allah luas. Paulus rindu sekali sesudah pelayanan di Korintus untuk pergi ke Roma dan Italia. Alkitab mencatat bahwa Paulus tidak sampai ke Italia karena mati di Roma. Rasul Paulus mengingatkan kepada guru-guru palsu itu supaya mereka memiliki jejak kaki yang indah. Jangan akhirnya menjadi satu batu sandungan dan saling berselisih bisa membuat pelayanan hancur. Ini bukan karena kehebatan kita tapi karena Tuhan yang menguatkan kita. Biarlah pada waktu kita melihat itu semua membuat kita harus bersyukur karena kita terus diberikan iman yang beres.

2 Korintus 10:17 sebagai tema pokok yang mengatakan: “Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Bagaimana kita bermegah di dalam Tuhan? Paling mudah kita bermegah untuk diri kita bahwa diri kita hebat tetapi hal itu tidak suci. Di sini saudara Rasul Paulus mengambil kutipan dari Yeremia 9:23-24, “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” Jadi ada orang pintar terkadang menyombongkan kepintarannya, kekayaannya dan kekuatannya. Berarti kalau kita mau bermegah itu karena kita memahami akan Firman Tuhan dan kehendak Tuhan. Di sinilah Rasul Paulus mengingatkan kepada orang-orang di Korintus untuk bermegah di dalam Tuhan bukan karena kehebatan, kekayaan dan kepintaran manusia. Pada waktu kita membaca Alkitab, kita harus menempatkan Alkitab di atas kita. Kita adalah objek dan Alkitab merupakan subjek. Ketika kita menempatkan diri kita adalah objek dan alkitab subjek maka kita akan menjadi orang-orang yang sungguh akhirnya bisa berubah dalam terang Firman. Siapa yang rajin membaca Alkitab akan memiliki satu perubahan di dalam Kristus. Setiap manusia bisa diubah dalam kuasa Injil. Mengapa manusia bisa hidup menjadi batu sandungan? karena dosa. Ada cuplikan seorang anak kecil yang buta dan dibuang oleh orangtuanya namun ada orang tua yang berbelas kasihan dan mengadopsi anak ini. Orang ini mengasuh dan menjaga anak itu dengan penuh kasih sayang. Ternyata ketika dia sudah mulai besar diketahui bahwa ia memiliki talenta yang luar biasa dalam bermain piano. Dia hanya belajar satu tahun namun sudah menunjukkan talentanya yang sangat bagus bahkan dalam satu pertunjukan seorang penyanyi langsung bisa dia iringi dengan lagu baru. Anak ini mendapatkan satu pertolongan Tuhan. Diberikan kelebihan oleh Tuhan dan tidak pernah minder padahal baru berumur 5 tahun. Anak ini mengingatkan kita pada Fanny Crosby yang buta karena tindakan dokter yang tidak bijaksana. Saat dia berumur 92, ia menuliskan lagu yang indah “Close to Thee” yang menyatakan dia sungguh-sungguh mau dekat dengan Tuhan. Selama hidupnya waktu dia sehat sampai mau menikah dengan orang buta, setiap hari dia bisa berjalan 60 mil untuk dia bernyanyi dan menginjili orang-orang yang mereka lewati. Ternyata anak-anak Tuhan bisa bekerja melampaui keterbatasan yang menunjukkan Tuhan itu hebat.

Bagaimana dengan kita? Kita harus belajar bagaimana seharusnya bisa mencapai sesuatu yang terbaik untuk Tuhan. Maka kita harus bermegah di dalam Tuhan terus-menerus. Waktu kita punya hati bermegah di dalam Tuhan  maka kita akan dipakai Tuhan. Kita akan penuh dengan ucapan syukur karena Tuhan. Kenakanlah Kristus menjadi perlengkapan untuk seluruh hidup kita untuk menyatakan kemuliaan Kristus. Seperti dalam konsep Reformed adalah selalu mengatakan Sola Gratia: segala sesuatu berdasarkan anugerah. Dan Soli Deo Gloria: segala kemuliaan dikembalikan untuk Tuhan.

2 Korintus 10:18 bukan yang menguji diri yang tahan uji. Orang yang senantiasa meninggikan diri justru tidak tahan uji. Sebaliknya, orang yang dipuji Tuhan itu yang ditopang Tuhan. Di sini kita melihat dalam 1 Korintus 4:4-5 dalam konteks ini berbicara supaya kita jangan menghakimi sebelum waktunya yaitu sebelum Tuhan datang. Karena Ia akan menerangi juga apa yang  tersembunyi dalam kegelapan. Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan dalam hati kita, maka tiap-tiap orang akan menerima pujian daripada Allah. Nanti ketika kita bertemu dengan Kristus di sorga dan kita akan dipuji oleh Dia. Maka pujian Kristus akan tiba seperti pujian yang diberikan untuk jemaat smirna dan Filadelfia di dalam Wahyu.  Jemaat Smirna dipuji sebagai hamba yang setia sampai mati yang miskin namun kaya di dalam hal rohani. Jemaat Filadelphia dipuji karena sudah menderita bagi Kristus dan terus taat. Betapa penting kita punya nilai prioritas kemutlakan dalam roda rohani kita yang harus kita prioritaskan: membaca Alkitab, berdoa, penginjilan, persekutuan, dan juga pemberitaan Firman. Waktu semua hal ini menjadi prioritas maka semua itu akan menjadi roda rohani kita yang mana Kristus menjadi pusat. Maka hidup kita akan diberkati oleh Tuhan. Seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 4:5b “tiap-tiap-tiap orang akan menerima ujian daripada Allah.” Bagaimana dengan kita? apakah kita akan diterima oleh Tuhan? Apakah setiap kita pada waktu kita kembali kepada Kristus kita akan disambut sebagai hamba yang setia? Semua kita akan diuji oleh Tuhan. Dan di sinilah menunjukkan kepada kita betapa lebih indah pujian dari Kristus.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Bermegah di dalam Tuhan / Glory in The Lord

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: gracelia Christanti

Bitnami