Latest Post

Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah (Titus 3:14)

Kehidupan Kristen merupakan suatu proses. Setelah kita percaya, kita tidak otomatis menjadi anak Tuhan yang sempurna. Jika kita memerhatikan setiap tokoh di dalam Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa mereka tidak langsung menjadi orang yang sempurna dalam waktu seketika. Tuhan menempatkan mereka semua dalam proses. Begitu pula kita yang percaya pada saat ini. Kita jelas sadar bahwa diri kita belum sempurna. Mungkin ada dosa-dosa yang masih belum bisa kita lepaskan dan kita sangat bergumul karena hal itu. Di saat seperti itu mungkin kita terus berdoa dan bertanya kepada Tuhan mengapa dosa-dosa itu belum mati dalam diri kita. Di sana kita harus mengingat bahwa kita masih berada dalam proses pengudusan oleh Tuhan.

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk berbuah manis bagi Tuhan. Ini pun terjadi dalam proses hidup kita. Terkadang kita merasakan bahwa hidup kita sudah berbuah, namun terkadang kita merasa bahwa hidup kita saat itu tidak berbuah apa-apa sama sekali. Kita bisa merenungkan di bulan ini apakah dalam setahun ini kita lebih banyak berbuah atau lebih banyak tidak berbuah. Jika hasil perenungan kita menyatakan bahwa kita lebih banyak tidak berbuah, maka pertanyaan kita mungkin adalah: bagaimana agar saya dapat lebih banyak berbuah?

Titus 3:14 memberikan jawaban yang praktis: belajar melakukan perbuatan baik. Kata ‘belajar’ berasal dari kata Yunani ‘manthano‘. Kata ini tidak hanya mencakup ‘belajar secara teori’ tetapi juga ‘belajar secara praktik’. Kita disebut sebagai murid oleh Tuhan Yesus. Tugas seorang murid iman adalah belajar dari Sang Guru. Yesus tidak hanya berkhotbah kepada murid-murid-Nya tetapi juga mengutus mereka berdua-dua untuk memberitakan Injil. Jadi kita mempelajari ajaran Alkitab secara teori dan belajar melalui praktik sehari-hari berdasarkan Alkitab. Ini merupakan proses yang seorang percaya harus jalani seumur hidupnya sampai ia bertemu dengan Tuhan.

Sudahkah kita memiliki pikiran ini? Maukah kita terus belajar? Apakah kita merasa diri sudah cukup pintar sehingga kita tidak mau belajar lagi?

Bitnami