Latest Post

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi. (Amsal 10:19)

Dari pembacaan sekilas, kita bisa menangkap bahwa:
1) orang yang banyak atau sering berbicara itu pasti tidak luput dari dosa perkataan.
2) Alkitab mengajarkan pembacanya untuk menjadi orang pendiam.

Jika ini adalah penafsiran yang benar, maka bagaimana dengan orang-orang yang hidup sebagai penginjil, pengkhotbah, atau pengajar? Bukankah mereka harus banyak atau sering berbicara? Bukankah Tuhan Yesus banyak berkata-kata selama melayani di dunia? Bukankah para Rasul sering menginjili serta mengajar dan Rasul Paulus menulis banyak surat? Bukankah orang yang sedikit bicara juga bisa salah bicara?

Kunci untuk mengerti ayat ini dengan tepat adalah dengan memerhatikan kata ‘berakal budi‘. Dalam bahasa Ibrani, kata dasarnya adalah ‘sakal‘ yang bisa berarti ‘bijaksana’. Orang yang bijaksana pasti memerhatikan setiap kalimat yang diucapkannya. Ia tidak asal-asalan bicara. Meskipun ia harus banyak berbicara (misalnya karena ia adalah seorang penginjil), ia akan berhati-hati dalam mengucapkan setiap kalimat.

Melalui cara pandang ini, kita bisa mengerti ‘banyak bicara’ sebagai ‘banyak bicara secara asal-asalan/tanpa dipikirkan baik-baik’ dan mengerti ‘menahan bibir’ sebagai ‘menahan bibir dengan bijaksana karena berkata-kata (pada saat itu) tidak akan memunculkan lebih banyak kebaikan daripada keburukan’.

Dari ayat ini, kita bisa mempelajari bahwa salah satu ciri orang bijaksana adalah bisa mengendalikan perkataannya. Ia tahu kapan harus berkata-kata dan kapan harus diam. Ketika berkata-kata, ia tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak boleh dikatakan.

Bagaimana kita bisa menjadi orang yang seperti itu? Pertama-tama pastinya kita harus mengerti kebenaran termasuk kata-kata yang benar. Ini berarti kita harus membaca, mengerti, dan mengatakan (serta menghidupi) Firman Tuhan. Sudahkah kita membaca Alkitab hari ini? Rutinkah kita membacanya dan mempelajarinya?

Bitnami