Latest Post

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10)

Ayat ini adalah ayat yang begitu populer. Bahkan beberapa ateis serta orang-orang dari agama lain pun tahu dan mungkin pernah mengutip ayat ini (walaupun tidak lengkap). Ketika orang Kristen membahas pandangan Alkitab terhadap uang, rasanya ayat ini tidak mungkin tidak dikutip. Namun bagaimana kita mengerti ayat ini?

Apakah ayat ini mengajarkan bahwa orang Kristen tidak boleh mencintai uang sama sekali? Dari pembacaan kalimat pertama, rasanya jawaban untuk pertanyaan di atas adalah ‘ya’.

Namun jika benar demikian, maka ini berarti orang Kristen tidak boleh menyimpan uang sama sekali, baik itu secara fisik maupun dalam akun bank. Ini juga berarti Gereja tidak boleh meminta persembahan dalam bentuk uang sama sekali. Dalam segala transaksi orang Kristen tidak boleh memakai uang karena uang, seperti dosa, tidak boleh dicintai sama sekali. Jika orang Kristen diberikan uang, maka ia harus segera dan dengan tegas menolaknya. Jika ia terpaksa menerimanya karena segan terhadap si pemberi, maka ia harus membuangnya segera.

Rasanya orang Kristen yang hidup di kota tidak mungkin hidup tanpa menyimpan uang. Setiap orang Kristen yang mau memberikan persembahan harus menyiapkan uang untuk dimasukkan ke dalam kantong persembahan (atau menyiapkan uang dalam akun bank jika memberikan persembahan via transfer).

Mungkinkah orang Kristen kota hidup tanpa uang? Penulis percaya bahwa hal itu tidaklah mungkin. Pemerintah kota mengharuskan warganya untuk membayar pajak dengan uang. Ini berarti orang Kristen kota harus memiliki dan menyimpan uang. Tuhan Yesus mau orang Kristen membayar pajak (Matius 22:15-22).

Dalam masa kekristenan mula-mula, tidak ada catatan, baik dalam Alkitab maupun dalam sejarah, yang menyatakan bahwa setelah percaya Tuhan Yesus, orang-orang percaya segera membuang semua uang mereka. Mereka memberikan persembahan (dan persembahan itu diterima oleh Gereja), namun tidak membuang semua uang mereka.

Jika demikian, apakah ayat di atas benar-benar berarti orang Kristen tidak boleh mencintai uang sama sekali?

Ayat di atas tidak memerintahkan orang Kristen agar tidak mencintai uang sama sekali. Ayat di atas melarang cinta akan uang yang berlebihan atau lebih dari seharusnya. Cinta akan uang seperti apakah yang berlebihan? Kalimat kedua menjawab pertanyaan ini. Dari ayat di atas Rasul Paulus mengajarkan bahwa orang Kristen tidak boleh mencintai uang lebih daripada cintanya kepada imannya. Jika Cinta akan uang itu membuatnya menyimpang dari imannya, itu berarti uang menjadi lebih penting daripada imannya. Iman harus lebih diprioritaskan daripada uang.

Uang juga merupakan anugerah Tuhan yang orang Kristen harus hargai. Namun uang, sama seperti anugerah lainnya, tidak boleh dikasihi lebih daripada Sang Pemberi anugerah. Tuhan harus tetap menjadi yang utama.

Sudahkah kita menempatkan urutan kasih kita dengan benar?

Bitnami