Latest Post

Ajarlah Kami Bergumul (Refleksi atas kitab mazmur)

Categories: Resensi

Penulis                 : Billy Kristanto

Penerbit              : Momentum

Buku ini memuat refleksi pribadi Pdt. Billy atas kitab Mazmur yang dibagikan kepada jemaat di Singapura dari tahun 2002-2003. Pendeta Billy mengajak kita melihat signifikansi kitab mazmur bagi kehidupan iman percaya. Kitab Mazmur menggambarkan kehidupan orang percaya yang bergulat dengan masalah. Dalam pendahuluan buku ini, Pdt. Billy mengutip sebuah kalimat dri Martin Luther yang mengatakan demikian “psalterium affectuum quaedam palaestra et exercitium” (Mazmur adalah suatu sekolah pergumulan dan latihan afeksi). Latihan Afeksi (emosi) kita peroleh dengan mengamati perkataan dari orang-orang kudus dan memperhatikan bagaimana mereka berespon kepada Tuhan dalam segala keadaan.

Sebuah refleksi yang sangat patut kita baca, sebab kita pun adalah orang percaya yang penuh dengan masalah dan kita pun merindukan di dalam masalah itu, kita dapat bergumul dengan benar. Kitab Mazmur mengajak kita untuk jujur terhadap Tuhan. Mungkin banyak dari kita bertanya, “Bolehkah saya berdoa dan mencurahkan kemarahan saya kepada Tuhan atas persoalan yang saya tidak mengerti atau atas ketidakadilan?” atau “ Bolehkah saya berkeluh kesah kepada Tuhan?” Pendeta Billy mengatakan bahwa seseorang  tidak mungkin mengalami pertumbuhna yang sejati jika dia senantiasa hidup berpura-pura, entah dalam pengertian munafik atau “hanya” menjaga citra diri (image). Harapannya, buku ini dapat menolong kita bagaimana kita harus bergumul dan mengalami pertumbuhan pengenalan diri  melalui refleksi atas pergumulan orang-orang kudusnya Tuhan yang dipaparkan apa adanya.

Buku Ajarlah Aku Bergumul berisi  lima belas refleksi dari lima belas nomor Mazmur (Mazmur 3, 7, 8, 10, 11, 13, 16, 18, 19, 20, 22, 23,24, 26, dan 28) dan ditutup dengan lagu-lagu pujian yang di tulis oleh Pendeta Billy juga refleksi dari beberapa nomor kitab Mazmur.  Mazmur 3 misalnya ditulis oleh Daud, seorang raja besar yang mengalahkan ber”laksa-laksa” musuh terpaksa melarikan diri dari istananya karena Absalom anaknya. Pendeta Billy mengajak kita melihat penderitaan Daud yang adalah seniman yang memiliki kedalaman  jiwa yang berlainan dengan orang kebanyakan. Seorang seniman seringkali kesulitannya bukan masalah keuangan atau penderitaan fisik, tetapi karena kesulitan emosional. Daud bukan hanya menghadapi musuh dari luar, tetapi dari dalam rumahnya sendiri oleh darah dagingnya sendiri. Kita tidak terlalu kesulitan dimusuhi oleh orang yang tidak terlalu dekat dengan kita atau tidak terlalu mengenal kita “orang luar”, tetapi bagaimana kalau kebencian dan permusuhan datang dari orang yang dekat dengan kita? Bukankah itu adalah kesakitan dan kepedihan yang kita rasakan semakin dalam? Namun Demikian, Daud mengakhiri doanya dengan nyanyian kemenangan. Melalui refleksi Mazmur 3, Pendeta Billy membantu kita memahami kompleksnya pergumulan seseorang dari keluh kesah kepada nyanyian kemenangan dan bagaimana semua proses ini membawa pertumbuhan iman Daud kepada Allah. Penulis secara pribadi diberkati oleh relfeksi dari Pdt. Billy dalam hal menjadi jujur atas ketidakmampuan, menyampaikan kemarahan, ketidakpercayaan, dan kebergantungan diri kepada Tuhan tanpa menjadi munafik. Buku ini sangat baik untuk menjadi bahan renungan pribadi atau untuk didiskusikan di dalam kelompok kecil.

Tuhan kiranya memberkati kita, dan melalui buku ini Tuhan kiranya berbicara kepada kita dalam pergumulan kita masing-masing.

Soli Deo Gloria

(Disadur oleh Niluh Peprisusanti)

Author: Lukman Sabtiyadi

Bitnami